Polsek Banjarbaru Timur Beri Bantuan untuk Janda Pendulangan Intan

Senin, 29 Juli 2019 17:57 WIB
Banjarmasin Post

TRIBUN-VIDEO.COM - Aliyah (38) menangis terisak-isak saat berkeluh-kesah kondisi yang dialami, kerudung lusuhnya beberapa kali dia pakai untuk mengusap air mata yang menetes di pipi. Baru beberapa hari ini dia menyandang status sebagai janda.

Suami dia, Supian (36) jadi korban tewas musibah Pendulangan Intan Pumpung Rt.31 Rw.09 Kelurahan Sungai Tiung beberapa hari lalu. Ya, Sungai tiung merupakan kampung janda yang sebenarnya di Banjarbaru karena di pemukiman ini bukan hanya satu atau dua orang perempuan saja yang menyandang status janda tapi ada puluhan orang.

Status janda yang dipikul akibat suami mereka yang berprofesi sebagai pendulang tewas dalam musibah, para janda berkutat dalam kondisi sosial yang beragam dalam tatanan kelas menengah kebawah serba kekurangan atau sosial ekonomi yang pas-pasan.

"Saya cuma guru honorer gaji cuma ratusan ribu perbulan, kini harus hidupi anak tunggal saya yang sudah menginjak SMP kelas tiga. Saya sedih kehilangan suami yang baik, " ucap Aliyah warga jalan Transpol Ujung Murung Rt.11 Rw.03 Keluragan Sungai Tiung.

Aliyah jadi guru honor kelas lima madrasah, sejak 2006 dia sudah jadi guru honor di madrasah manbaul Ulum d cempaka. Dia berharap anaknya yang bernama M Rohid (15) bisa terus sekolah melanjutkan ke tingkat SMA, kini masih sekolah di SMPN 3 Banjarbaru.

Aliyah mengatakan di Sungai tiung ada puluhan perempuan lainnya yang berstatus janda. " Ya saya berharap lubang pendulangan itu tutup saja, jangan ada lagi para perempuan bernasib seperti saya dan lainnya. Tapi pikirkan juga nasib mata pencaharian warga kami," katanya.

Kondisi Aliyah juga memprihatinkan, rumah yang dia tempati mungil dan keseluruhan dari kayu lapuk. Cuma satu ruangan yang disekat. Tidak punya listrik bahkan toilet, untuk penerangan dan mandi cuci kakus dia numpang ke mertua. " Sudah 17 tahun rumah ini saya tempati. Kalau mau ke toilet saya ikut mertua, listrik juga ikut mertua. kayunya rapuh dimakan rayap dan usia," kata dia sambil menunjukkan rumahnya yang cuma berukuran 6x4 meter itu.

Polsek Banjarbaru Timur jajaran Polres Banjarbaru dibawah Pimpinan Kapolsek AKP Debi Triyani Murdiyambroto, S.H.,S.I.K., melakukan aksi sosial itu. Aliyah ditengok dan diberikan bingkisan sembako.

Iptu H M Samsir kasi Humas polsek Banjarbaru timur Didamping Aipda Hendra Fahmi basihumas Polsek Banjarbaru timur beserta jajaran mengunjungi rumah duka korban Supian pendulang yang tewas saat mendulang intan, Bhabinkamtibmas Kelurahan Sungai Tiung Brigadir Kurnia Rudi juga tampak memberi semangat untuk Aliyah.

" Iya jadinya banyak janda di sungai tiung, kondisi perekonomian mereka juga pas-pasan bahkan ada yang kekurangan. Seperti Aliyah, rumah saja tidak ada toilet, bahkan bangunan sudah rapuh. Dia tak ada bantuan. Kejadian semalam saja berapa yang tewas, " katanya.

Pendulang pasir dan intan di daerah Pumpung berada di Kelurahan Sungai Tiung Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru memang cukup membahayakan bagi para penambang.

Kondisi galian tambang cukup tinggi dari dasar sungai hingga ke bibir tebing bagaian atas rawan terjadinya longsor. Meski, warga setempat mengetahui bahaya yang mengancam dan sudah sering ada korban jiwa, namun aktivitas pertambangan masih terus berjalan sampai sekarang.

Padahal belum lama ini, baru sekitar 8 April 2019 tadi musibah serupa terjadi di Jalan Trisakti Lokasi Pendulangan Tradisional Pumpung Rt. 31 Rw.10 Kelurahan Sungai Tiung Kecamtan Cempaka, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan dan lima orang terkubur longsor. Kini terjadi lagi, satu orang meninggal atas nama Supian.(banjarmasinpost.co.id/Nia Kurniawan)

Editor: Novri Eka Putra
Video Production: Novri Eka Putra
Sumber: Banjarmasin Post
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved