Tribunnews WIKI

Hari Kuningan, Hari Suci Umat Hindu di Bali yang Dirayakan Setiap Enam Bulan atau 210 Hari Sekali

Kamis, 25 Juli 2019 21:46 WIB
TribunnewsWiki

TRIBUN-VIDEO.COM – Hari Kuningan merupakan hari suci umat Hindu di Bali yang dirayakan setiap enam bulan atau 210 hari sekali, tepatnya pada Saniscara Kliwon Wuku Kuningan.

Seperti yang sudah diketahui, bahwa satu bulan dalam kalender Bali adalah 35 hari.

Hari Kuningan dilaksanakan 10 hari setelah perayaan hari raya Galungan.

Hari Kuningan merupakan resepsi atas hari Galungan sebagai kemenangan dharma melawan adharma.

Dalam perayaan hari Kuningan, pemujaan ditujukan kepada para Dewa dan Pitara agar turun melaksanakan pensucian serta mukti atau menikmati sesajen-sesajen yang telah dipersembahkan.

Rangkaian Perayaan

Semua umat Hindu di hari Kuningan menghaturkan sembah untuk memohon berkah, keselamatan, dan kesejahteraan bagi semua umat.

Rangkaian pelaksanaan hari raya Kuningan sebenarnya merupakan lanjutan dari rangkaian hari Raya Galungan.

Setelah itu, lima hari kemudian ada hari Pemacekan Agung, kemudian Penyekeban, Penyajaan, Penampahan kemudian puncak perayaannya hari raya Kuningan.

Keesokan harinya kemudian dilaksanakan Manis Kuningan dan rentetan perayaan paling akhir adalah saat hari Pegat Tuwakan, yaitu 32 hari setelah Kuningan bertepatan pada hari Buda (Rabu) Kliwon, wuku Pahang.

Pada saat hari raya Kuningan ada juga persembahan kepada para leluhur, memohon kemakmuran, perlindungan, keselamatan, dan juga tuntunan ke hadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa.

Pelaksanaan upacara ataupun persembahyangan hanya dilakukan setengah hari saja.

Sebelum jam 12 siang pelaksanaan sudah harus selesai semua karena sebelum siang hari energi alam semesta seperti kekuatan pertiwi, akasa, apah, teja dan bayu (Panca Mahabutha) mencapai klimaksnya.

Sedangkan setelah siang hari memasuki masa pralina di mana energi tersebut sudah kembali ke asalnya, dan juga para Pitara, Bhatara, dan Dewa sudah kembali ke surga.

Saat perayaan hari aya Kuningan, yang menjadi ciri khas dari isi sesajen atau persembahan umat Hindu adalah nasi kuning.

Berbeda dengan pelaksanaan pada saat upacara lainnya seperti Galungan, Pagerwesi, Saraswati, dan hari suci lainnya yang menggunakan sarana nasi putih.

Simbol nasi kuning ini merupakan lambang sebuah kemakmuran yang telah dianugerahkan Sang Pencipta dan juga menghaturkan persembahan lainnya sebagai ucapan terima kasih manusia, berikut syukur atas segala anugerah dari Tuhan.

Sarana upacara lainnya adalah tamiang, endongan, lamak, dan ter.

Makna

Menurut Babad Bali, hari raya Kuningan merupakan perayaan turunnya Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa, para dewa dan dewa pitara ke dunia untuk melimpahkan karuniaNya berupa kebutuhan pokok.

Karena itu, maka pada hari Kuningan dibuat nasi kuning sebagai lambang kemakmuran dan dihaturkan yadnya sebagai tanda terimakasih dan suksmaning idep sebagai manusia setelah menerima anugrah dari Hyang Widhi berupa bahan-bahan sandang dan pangan yang semuanya dilimpahkan atas dasar cinta kasih-Nya.

Di dalam tebog atau selanggi yang berisi nasi kuning tersebut dipancangkan sebuah wayang-wayangan (malaikat) yang melimpahkan anugrah kemakmuran kepada semua umat.

Perayaan Kuningan mengambil waktu pagi hari, ketika matahari mulai terbit.

Hal ini karena umat Hindu percaya pancaran kesucian atau situasi keheningan didapat pada waktu tersebut.

Pada saat itu, dipasang hiasan ter atau panah atau senjata.

Panah itu sesungguhnya simbol ketajaman pikiran atau tingkat kualitas pikiran.

Kata kunci dalam Kuningan adalah Suddha jnana atau Kesucian pikiran.

Orang yang memiliki tingkat suddha jnana akan menemukan siddha atau keberhasilan yang disebut siddhi.

Dengan demikian, umat tak akan memiliki berantha jnana atau pikiran kotor alias diselimuti kebingungan.

Hal itu didapat ketika masyarakat memenangkan musuh yang ada dalam tubuh yang disebut dasa indria yang pada intinya Hari Raya Kuningan ini memuja Tuhan dalam keheningan.

Dalam keheningan itu, diharapkan muncul div atau sinar suci Tuhan.

Selain panah, dalam Kuningan dipasang endongan yang merupakan simbol perbekalan atau logistik dalam perang.

Sementara dalam konteks keberagamaan, endongan itu bermakna bekal dalam mengarungi kehidupan seterusnya.

Bekal itu tiada lain adalah karma atau hasil dari perbuatan.

Adapun beberapa jenis sampian yang digunakan pada hari raya Kuningan, diantaranya adalah Endongan, Tamiang, dan Kolem atau Pidpid.

Endongan adalah simbol kebijaksanaan, etika, dan peraturan dalam satu wadah sebagai persembahan kepada Hyang Widhi.

Tamiang merupakan simbol penolak marabahaya.

Sedangkan Kolem atau Pidpid adalah simbol linggih hyang Widhi, para Dewa dan leluhur mereka.

Maksud dan Tujuan

Perayaan hari raya Kuningan dimaksudkan agar umat selalu ingat kepada Sang Pencipta, Ida Sang Hyang Widi Wasa dan mensyukuri karunia-Nya.

Melalui perayaan Kuningan, umat juga dituntut selalu ingat menyamabraya, meningkatkan persatuan dan solidaritas sosial.

Selain itu, melalui rerahinan umat diharapkan selalu ingat kepada lingkungan sehingga tercipta harmonisasi alam semesta beserta isinya.

Tujuan pelaksanaan upacara Kuningan adalah untuk memohon kesentosaan, kedirgayusan serta perlindungan dan tuntunan lahir dan batin.

Tradisi Unik

Sebuah tradisi unik selalu digelar warga di kota Tabanan, setiap merayakan hari raya Kuningan.

Seusai menggelar persembahyangan bersama, setiap keluarga yang berkecukupan membagi-bagikan uang kepada warga dengan cara disebar di udara.

Tradisi bernama Mesuryak atau dalam bahasa Indonesia artinya bersorak ini selalu disambut antusiasme warga desa mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Meski masih berpakaian adat lengkap, mereka tak canggung untuk memburu pecahan uang mulai dari Rp 500 hingga Rp 100 ribu.

Bahkan tidak jarang beberapa dari mereka mengalami cedera karena saling berebut untuk mendapatkan uang yang mereka incar.

Mesuryak merupakan warisan leluhur dan berlangsung secara turun-termurun.

Tradisi ini merupakan simbol persembahan kepada leluhur yang sudah meninggal agar diberi tempat yang layak di alam sana.

Secara niskala atau tidak nyata, umat Hindu memberikan sesajen dan secara skala nyata mereka memberikan uang sebagai bentuk nyata.

Mereka yang menyelenggarakan Mesuryak meyakini bahwa rezeki akan berlimpah jika memberi kebahagiaan kepada sesama dengan cara membagi-bagikan uang karena hal ini berarti membekali leluhur mereka yang telah meninggal.

(TribunnewsWIKI/Widi Hermawan)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Kuningan (Hari Raya)

ARKETEL POPULER:

Tifa, Alat Musik Tradisional yang Berasal dari Indonesia Bagian Timur

Pikon - Alat Musik Khas Nusantara

Kerak Telor, Jajanan Tradisional Khas Betawi

Editor: Radifan Setiawan
Video Production: Panji Anggoro Putro
Sumber: TribunnewsWiki
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved