Tribunnews WIKI

Proses Terbentuknya Gunung Api

Senin, 22 Juli 2019 07:30 WIB
TribunnewsWiki

TRIBUN-VIDEO.COM – Gunung api adalah lubang kepundan atau rekahan kerak bumi tempat keluarnya cairan magma, gas atau cairan lainnya dari dalam bumi.

Gunung api sering terbentuk pada konvergensi atau divergensi lempeng tektonik di zona subduksi di mana dua lempeng bumi saling bertabrakan.

Tabrakan dua lempeng tersebut dapat meningkatkan suhu bumi, sehingga bebatuan kerak bumi terpecah dan meleleh membentuk magma.

Peningkatan suhu magma yang berlangsung secara terus menerus mengakibatkan adanya tekanan sehingga magma terdorong keluar melalui retakan kerak bumi.

Letusan atau erupsi gunung api terjadi apabila magma naik melintasi kerak bumi dan muncul di atas permukaan.

Magma yang sudah naik ke permukaan bumi disebut lahar atau lava.

Gunung api terbentuk pada empat busur, yaitu:

Busur tengah benua yang terbentuk akibat pemekaran kerak benua

Busur tepi benua, terbentuk akibat penunjaman kerak samudara ke kerak benua

Busur tengah samudera yang terjadi akibat pemekaran kerak samudera, dan

Busur dasar samudera yang terjadi akibat terobosan magma basa pada penipisan kerak samudera.

Erupsi

Peristiwa keluarnya magma permukaan bumi disebut erupsi, terdapat empat jenis erupsi di antaranya:

Erupsi pusat yaitu erupsi keluar melalui kawah utama gunung api

Erupsi samping yaitu erupsi keluar dari lereng tubuh gunung api

Erupsi celah yaitu erupsi yang muncul pada retakan atau sesar

Erupsi eksentrik yaitu erupsi samping, dimana dapur magma keluar melalui kepundan tersendiri yang bukan kepundan utama.

Tipe Erupsi

Berdasarkan tinggi rendahnya derajat fragmentasi dan luasnya juga kuat lemahnya letusan serta tinggi tiang asap, tipe erupsi gunung api dibagi menjadi:

Tipe Hawaiian yaitu erupsi eksplosif dari magma basaltic atau mendekati basalt, terjadi pada celah atau kepundan dan umumnya berupa semburan lava pijar serta sering diikuti leleran lava secara simultan

Tipe Strombolian, erupsinya hampir sama dengan Hawaiian berupa semburan lava pijar dari magma yang dangkal, umumnya terjadi pada gunung api aktif di tepi benua atau di tengah benua

Tipe Plinian, dimana erupsi terjadi sangat eksplosif dari magma berviskositas tinggi atau magma asam, komposisi magma bersifat andesitik sampai riolitik

Tipe Sub Plinian, yaitu erupsi eksplosif dari magma asam atau riolitik dari gunung api strato, tahap erupsi efusifnya menghasilkan kubah lava riolitik

Tipe Ultra Plinian dimana erupsi terjadi sangat eksplosif menghasilkan endapan batu apung lebih banyak dan luas dari Plinian biasa

Tipe Vulkanian yaitu dimana erupsi magmatis berkomposisi andesit basaltic sampai dasit, umumnya melontarkan bom-bom vulkanik atau bongkahan di sekitar kawah dan sering disertai bom kerak-roti atau permukaannya retak.

Tipe selanjutnya adalah Tipe Surtseyan dan Tipe Freatoplinian di mana erupsi terjadi pada pulau gunung api, gunung api bawah laut atau gunung api yang berdanau kawah.

Surtseyan merupakan erupsi interaksi antara magma basaltic dengan air permukaan atau bawah permukaan, letusannya disebut freatomagmatik

Freatoplinian kejadiannya sama dengan Surtseyan, tetapi magma yang berinteraksi dengan air berkomposisi riolitik.

Bentuk Gunung Api

Bentuk kerucut, dibentuk oleh endapan piroklastik atau lava atau keduanya

Bentuk kubah, dibentuk oleh terobosan lava di kawah, sehingga terbentuk seperti kubah

Kerucut sinder, dibentuk oleh perlapisan material sinder atau skoria

Maar, biasanya terbentuk pada lereng atau kaki gunung api utama akibat letusan freatik atau freatomagmatik

Plateau, atau dataran tinggi yang dibentuk oleh pelamparan leleran lava.

Struktur Gunung Api

Kawah adalah bentuk morfologi negatif atau depresi akibat kegiatan suatu gunung api, bentuknya relatif bundar.

Rekahan dan graben, retakan patahan pada tubuh gunung api yang memanjang mencapai puluhan kilometer dan dalamnya mencapai ribuan meter.

Depresi volkano-tektonik, pembentukannya ditandai dengan deretan pegunungan yang berasosiasi dengan pembentukan gunung api akibat ekspansi volume besar magma asam ke permukaan yang berasal dari kerak bumi dan dapat mencapai ukuran puluhan kilometer dengan kedalaman ribuan meter.

Kaldera, bentuk morfologinya seperti kawah tetapi garis tengahnya lebih dari 2 km, jenis kaldera:

Kaldera runtuhan, terjadi karena runtuhnya sebagian tubuh gunung api akibat pengeluaran material yang sangat banyak dari dapur magma;

Kaldera erosi, terjadi akibat erosi terus menerus pada dinding kawah sehingga melebar menjadi kaldera.

Bahaya Gunung Api

Bahaya erupsi gunung api dapat berpengaruh secara langsung atau primer dan tidak langsung atau sekunder yang dapat menimbulkan dampak berupa bencana bagi kehidupan manusia.

Bahaya Primer
Lava merupakan cairan pekat dan panas dengan suhu rata-rata berkisar antara 800 hingga 1.200 derajat celcius .

Kecepatan aliran lava tergantung dari kekentalan magma, semakin rendah kekentalannya maka jangkauan aliran lava semakin jauh.

Leleran lava dapat membakar dan merusak infrastruktur dan benda hidup yang dilewatinya.

Awan Panas

Awan panas atau aliran piroklastik dapat terjadi akibat runtuhan tiang asap erupsi plinian, letusan langsung ke satu arah, guguran kubah lava atau lidah lava dan aliran pada permukaan tanah atau surge.

Awan panas dipengaruhi oleh gravitasi dan dapat mengalir ke daerah rendah atau lembah.

Mobilitas tinggi awan panas dipengaruhi oleh pelepasan gas dari magma atau lava atau dari udara yang terpanaskan.

Kecepatan awan panas mencapai 150 hingga 250 km/jam dengan jangkauan mencapai puluhan kilometer serta memiliki suhu tinggi dan membahayakan penduduk sekitar gunung api.

Hujan Abu

Hujan abu atau jatuhan piroklastik terjadi dari letusan yang membentuk tiang asap cukup tinggi, dan ketika energinya habis abu akan menyebar sesuai arah angin kemudian jatuh lagi ke permukaan bumi.

Hujan abu tidak berdampak langsung bagi manusia tetapi abu dapat merusak pertanian, mengganggu jalur penerbangan, merobohkan inftrastruktur, dan mengganggu pernafasan.

Lahar Panas

Lahar panas biasanya terjadi pada gunung api yang mempunyai danau kawah.

Jika volume air dalam kawah cukup besar maka jika terjadi letusan atau erupsi dapat menimbulkan luapan lumpur panas.

Gas Beracun

Gunung berapi mengeluarkan gas dimana jika konsentrasi gas tersebut besar, dapat membahayakan keselamatan hewan maupun manusia.

Gas tersebut misalnya karbon dioksida, karbon monoksida, hidrogen sulfida, dan lain sebagainya.

Bahaya Sekunder
Lahar Hujan

Lahar hujan atau biasa disebut dengan lahar dingin terjadi apabila endapan material lepas hasil erupsi gunung api yang diendapkan pada puncak dan lereng terangkut oleh hujan atau air permukaan berupa aliran lumpur pekat.

Aliran lahar hujan dapat menggulingkan bongkahan batu besar berdiameter lebih dari 5 meter.

Jika lahar hujan melewati kawasan padat pemukiman penduduk, dapat menimbulkan kerusakan dan kematian.

Banjir Bandang

Banjir bandang terjadi akibat longsoran material vulkanik lama pada lereng gunung api curah hujan tinggi.

Aliran lumpur banjir bandang tidak sepekat aliran lahar hujan, namun cukup membahayakan jika melewati kawasan padat penduduk.

Longsoran Vulkanik

Longsoran vulkanik terjadi akibat letusan gunung api, eksplosi uap air, alterasi batuan pada tubuh gunung api, atau terkena gempa bumi.

Namun longsoran vulkanik sangat jarang terjadi.

Klasifikasi Gunung Api

Gunung api tipe A yaitu gunung api yang pernah mengalami erupsi magmatik minimal satu kali sesudah tahun 1600
Gunung api tipe B yaitu gunung api yang sesudah tahun 1600 belum lagi mengadakan erupsi magmatik, namun masih memperlihatkan gejala kegiatan seperti kegiatan solfatara
Gunung api tipe C yaitu gunung api yang erupsinya tidak diketahui dalam sejarah namun masih terdapat tanda-tanda kegiatan masa lampau berupa lapangan solfatara atau fumarola pada tingkah lemah.
Baca: Terjadi Bersama Erupsi, Ini Penjelasan PVMBG tentang Banjir di Kaldera Gunung Bromo

Baca: Pasca Erupsi, Para Wisatawan Gunung Bromo Diminta Tetap Berhati-hati dan Membawa Masker

Tingkat Kegiatan Gunung Api
Waspada (Level II): terdapat peningkatan aktivitas gunung berapi misalnya aktifitas magma, tektonik, dan hidrotermal
terjadi peningkatan seismik secara intensif
gunung berapi segera atau sedang meletus atau pada keadaan kritits yang dapat menimbulkan bencana dimulai dari keluarnya abu dan uap yang berpotensi terjadi letusan kurang lebih dalam 24 jam

Mitigasi Bencana Gunung Api

Sebelum terjadi letusan, lakukan hal berikut:

Pemantaun dan pengamatan kegiatan pada semua gunung api aktif,

Pembuatan dan penyediaan Peta Kawasan Rawan Bencana dan Peta Zona Resiko Bahaya Gunung Api yang didukung dengan dengan Peta Geologi Gunung Api,

Melaksanakan prosedur tetap penanggulangan bencana letusan gunung api,

Melakukan pembimbingan dan pemeberian informasi gunung api,

Melakukan penyelidikan dan penelitian geologi, geofisika dan geokimia di gunung api,

Melakukan peningkatan sumberdaya manusia dan pendukungnya seperti peningkatan sarana dan prasarananya.
Setelah terjadi letusan:

Menginventarisir data, mencakup sebaran dan volume hasil letusan,

Mengidentifikasi daerah yang terancam bahaya,

Memberikan saran penanggulangan bahaya,

Memberikan penataan kawasan jangka pendek dan jangka panjang,

Memperbaiki fasilitas pemantauan yang rusak,

Menurunkan status kegiatan, bila keadaan sudah menurun,

Melanjutkan memantauan rutin.

(TRIBUNNEWSWIKI/Magi)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Gunung Api

ARTIKEL POPULER:

Gempa Bumi, Bencana yang Susah Diprediksi

Gunung Andong, Gunung dengan tinggi 1726 Mdpl dan Tiga Puncak yang Terletak di Kabupaten Magelang

Parfum dengan Emas 24 Karat, Wanginya Mahal

TONTON JUGA:

Editor: Aprilia Saraswati
Video Production: Fikri Febriyanto
Sumber: TribunnewsWiki
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved