Diperiksa KPK, Bupati Meranti Ngaku Enggak Kenal Bowo Sidik

Jumat, 12 Juli 2019 10:34 WIB
Tribunnews.com

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ilham Rian Pratama

TRIBUN-VIDEO.COM- Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami penyidikan kasus dugaan suap dan gratifikasi yang menjerat anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso.

Hari ini penyidikan difokuskan kepada Bupati Kepulauan Meranti Irwan Nasir. Irwan diperiksa untuk melengkapi berkas penyidikan dengan tersangka Indung, orang kepercayaan Bowo Sidik yang juga staf PT Inersia.

Diperiksa selama 4 jam di dalam kantor KPK, Irwan Nasir mengaku tidak mengenal Bowo Sidik.

"Saya enggak tau, enggak pernah ketemu sama Pak Bowo," ucap Irwan selepas pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (11/7/2019).

Selain ditelisik KPK terkait asal-usul penerimaan gratifikasi Bowo Sidik, Irwan juga menyerahkan sejumlah dokumen Dana Alokasi Khusus (DAK) kepada penyidik.

"Dokumen DAK tadi ada beberapa lah yang dibutuhkan," tutur Irwan.

Namun Irwan mengklaim tidak tahu-menahu proses pengusulan DAK di Meranti. Karena saat itu, ia masih belum menjabat sebagai Bupati.

Irwan juga tidak ingat nilai DAK yang didapat Kabupaten Kepulauan Meranti. "Saya enggak ingat, itu kan ada di data rekap Kementerian Keuangan. Jadi saya tidak bisa ngomong berapa. Karena saya sifatnya hanya mengonfirmasi, terus menyerahkan data yang dibutuhkan," katanya.

Diketahui, pemeriksaan terhadap Irwan Nasir merupakan penjadwalan ulang dari rencana pemeriksaan pada hari Selasa (9/7/2019) lalu.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah menerangkan, penyidik mendalami pengetahuan dan peran Irwan dalam pengurusan DAK di Kabupaten Meranti.

"Serta hubungan dengan anggota DPR-RI terkait pengurusan anggaran tersebut," ujar Febri kepada pewarta, Kamis (11/7/2019).

Tak hanya kasus gratifikasi, Bowo dan anak buahnya, Indung juga menyandang status tersangka penerima suap dari Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti terkait kerja sama bidang pelayaran menggunakan kapal PT Humpuss Transportasi Kimia.

KPK menetapkan anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso dan anak buahnya, staf PT Inersia bernama Indung serta Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti sebagai tersangka.

Bowo melalui Indung diduga menerima suap dari Asty dan petinggi PT Humpuss Transportasi Kimia lainnya terkait kerja sama bidang pelayaran menggunakan kapal PT Humpuss Transportasi Kimia.

Tak hanya suap dari PT Humpuss Transportasi Kimia, Bowo juga diduga menerima gratifikasi dari pihak lain. Gratifikasi yang diterima Bowo tersebut diduga terkait pengurusan di BUMN, hingga soal Dana Alokasi Khusus (DAK) di sejumlah daerah.

Secara total, suap dan gratifikasi yang diterima Bowo mencapai sekitar Rp8 miliar. Uang tersebut dikumpulkan Bowo untuk melakukan serangan fajar pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019.

Untuk Asty, saat ini sedang dalam proses persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.

Sebelumnya, KPK sedang mengidentifikasi proses penggunaan anggaran di Kabupaten Mihanasa Selatan, Sulawesi Utara dan Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau terkait gratifikasi yang diterima tersangka Bowo Sidik.

Diketahui sebelumnya bahwa salah satu sumber gratifikasi terkait jabatan pada Bowo Sidik berasal dari pengurusan Dana Alokasi Khusus termasuk di dua kabupaten tersebut.

Sementara untuk Kabupaten Minahasa Selatan diduga gratifikasi pada Bowo Sidik terkait penganggaran revitalisasi empat pasar di sana.

Sebelumnya, KPK pada Rabu (26/6/2019) juga telah memeriksa Bupati Minahasa Selatan Christiany Eugenia Paruntu dan mengonfirmasi soal proses penganggaran revitalisasi empat pasar di Kabupaten Minahasa Selatan.(*)

Editor: Novri Eka Putra
Reporter: Ilham Rian Pratama
Videografer: Ilham Rian Pratama
Video Production: Novri Eka Putra
Sumber: Tribunnews.com
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved