Tribunnews WIKI

Profil Kasino - Aktor dan Komedian

Kamis, 11 Juli 2019 21:55 WIB
TribunnewsWiki

TRIBUN-VIDEO.COM – Kasino Hadiwibowo atau terkenal dengan Kasino Warkop merupakan komedian atau pelawak legendaris yang pernah dimiliki Indonesia.

Duet bersama dua komedian lainnya, Dono dan Indro, Kasino selalu bisa mengocok perut penonton karena lawakan-lawakan konyolnya.

Kasino Hadiwibowo lahir di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah pada 15 September 1950.

Meski lahir di Kebumen, Kasino menghabiskan masa kecilnya dengan bersekolah di Jakarta.

Kasino menikahi seorang perempuan bernama Amarmini.

Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Hanna Kasino.

Kesehatan Kasino mulai terganggu ketika ia mengalami collapse pada November 1996 di Bandung.

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ada tumor bagian otak.

Setahun kemudian, kondisi Kasino semakin memburuk hingga akhirnya menghembuskan napas terakhir pada 18 Desember 1997 pukul 23.00 WIB di RS Cipto Mangunkusumo.

Sebelum meninggal dunia, Kasino sempat dirawat di RSCM selama kurang lebih dua pekan.

Riwayat Pendidikan

Meski dikenal sebagai seorang pelawak, pendidikan Kasino bisa dibilang tinggi, tentunya untuk ukuran pada masanya.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, bahwa meski lahir di Kebumen, Kasino menghabiskan masa kecilnya untuk bersekolah di Jakarta.

Kasino menempuh pendidikan pertamanya di SDN Budi Utomo, Jakarta dan lulus pada 1963.

Lulus dari SD, Kasino kemudian melanjutkan ke SMPN 51 Cipinang sampai 1966.

Kasino kemudian melanjutkan ke SMAN 22 Jatinegara dan lulus pada 1969.

Lulus dari SMA, Kasino melanjutkan ke Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Indonesia mengambil Jurusan Administrasi Niaga.

Semasa kuliah, Kasino memiliki nama panggilan yaitu Seky, yang berarti si pesek.

Kasino akhirnya berhasil meraih gelar sarjananya pada 1979.

Riwayat Karier

Awalnya Kasino maupun keluarganya tidak pernah membayangkan dirinya akan menjadi seorang pelawak.

Namun Kasino memang sudah menjadi seorang yang humoris sejak masih kanak-kanak.

Kasino sangat suka usil dengan orang-orang di sekitarnya.

Ketika menjadi mahasiswa, Kasino bertemu dengan teman-teman sealiran yaitu Nanu Mulyono dan Wahjoe Sardono alias Dono Warkop.

Akhirnya banyolan Kasinopun semakin menjadi.

Awal mula karier Kasino dan teman-temannya bermula ketika mereka kongkow di radio Prambors.

Mereke mengobrol sekenanya layaknya sedang berada di warung kopi.

Tidak disangka, acara mereka ternyata mendapat sambutan hangat dari masyarakat.

Bahkan setiap acara tersebut tiba, selalu ada pisang goreng, ketan pakai kelapa parut, dan berbagai makanan lain di studio yang dikirim oleh para ibu-ibu yang menikmati acara mereka.

Mereka pun kemudian tenar dengan nama Warkop Prambors.

Selain Warkop Prambors, mereka juga dikenal dengan nama Trio DKI.

Grup lawak tersebut merupakan bentukan Nanu Mulyono, Rudy Badil, Wahjoe Sardono, Kasino Hadiwibowo, serta Indrojojo Kusumonegoro (Indro).

Dari lima orang itu, hanya Indro yang merupakan mahasiswa Univresitas Pancasila, Jakarta, sedangkan sisanya adalah mahasiswa UI.

Bersama teman-temannya di Warkop Prambors, Kasino meraih kesuksesan pertamanya lewat Obrolan Santai di Warung Kopi, sebuah acara garapan Temmy Lesanpura, seorang Kepala Bagian Programming Radio Prambors.

Acara tersebut disiarkan setiap Jumat malam pukul 20.30 sampai 21.15 oleh Radio Prambors yang saat itu bermarkas di Kawasan Menteng Pinggir.

Awalnya, Radio Prambors meminta seorang dedengkot mahasiswa UI, Hariman Siregar untuk mengisi acara di Prambors.

Hariman Siregar kemudian menunjuk Kasino dan Nanu yang dikenal sebagai pelawak di lingkungan kampus UI untuk mengisi acara tersebut.

Hal itu kemudian disambut baik oleh Kasino, Nanu, dan Rudy Badil, lalu disusul oleh Dono dan Indro.

Lambat laun, Warkop mulai merambah ke pertunjukan panggung.

Rudy Badil yang sebelumnya ikut dalam siaran radio Warkop kemudian mengundurkan diri karena demam panggung.

Demam panggung juga sempat dialami oleh Dono, namun seiring berjalannya waktu Dono mulai terbiasa.

Warkop pertama kali melakukan aksi panggungnya pada 1976 dalam acara perpisahan di SMA IX yang diadakan di Hotel Indonesia.

Karena penampilan perdana, semua anggota mengalami demam panggung, hasilnya juga tidak terlalu memuaskan.

Atas penampilan itu, mereka mendapat uang transport sebesar Rp 20 ribu, nominal yang cukup besar saat itu.

Setelah penampilan perdana itu, Kasino dan teman-teman Warkop lain kemudian tampil di Tropicana.

Meski merupakan penampilan kedua, namun mereka masih demam panggung, hasilnya lagi-lagi belum terlalu maksimal.

Namun pelan-pelan, jam terbang mereka semakin banyak, penampilan mereka juga semakin baik.

Warkop Prambors kemudian diundang sebagai bintang tamu baru dunia lawak Indonesia dalam acara Terminal Musikal, asuhan Mus Mualim.

Sejak saat itu, honor yang mereka terima mulai meroket mencapai sekitar Rp 1 juta tiap pertunjukan.

Mereka kemudian dikenal dengan nama DKI yang merupakan kepankangan dari Dono, Kasino, dan Indro.

Penggantian nama itu karena ketika memakai nama Warkop Prambors mereka harus mengirim royalti kepada pihak Radio Prambors.

Akhirnya mereka mengganti nama menjadi Warkop DKI.

Setelah berkecimpung dari panggung ke panggung, Warkop DKI mulai bermain untuk berbagai film komedi.

Dalam setahun, setidaknya mereka membintangi dua buah film dengan honor Rp 15 juta per filmnya.

Film-film mereka pun laris manis dan mendapat penggemar yang luar biasa.

Dalam era televise swasta dan menurunnya produksi film, Warkop DKI kemudian memulai serial televisi sendiri yang bertahan selama beberapa tahun.

Selain dikenal sebagai pelawak, Kasino juga sempat menjadi Direktur Klinik Spesialis Rawamangun sampai 1983.

Kasino meninggal diusia 47 tahun karena tumor otak yang dideritanya.

Selama hidupnya, Kasino dikenal sebagai seorng yang hobi mendaki gunung. Karena itu, ia juga merupakan anggota Mapala UI.

Film

Banyak dari film Warkop DKI yang tidak dapat diedarkan secara internasional karena masalah pelanggaran hak cipta, yaitu digunakannya musik karya komponis Henry Mancini tanpa izin atau tanpa mencantumkan namanya dalam film.

Pembuatan dan peredaran film setahun dua kali diperuntukkan masa edar bioskop-bioskop utama di Indonesia dengan masa tayang awal bertepatan dengan libur Hari Raya Idul Fitri dan malam pergantian tahun.

Beberapa film yang dibintangi Kasino antara lain:

Mana Tahaaan... (1979) bersama Elvy Sukaesih, Rahayu Effendi dan Kusno Sudjarwadi

Gengsi Dong (1980) bersama Camelia Malik, Zainal Abidin dan M. Pandji Anom

GeEr - Gede Rasa (1980) bersama Dorman Borisman, Ita Mustafa dan Itje Trisnawati

Pintar Pintar Bodoh (1980) bersama Eva Arnaz, Debby Cynthia Dewi dan Dorman Borisman

Manusia 6.000.000 Dollar (1981) bersama Eva Arnaz, Dorman Borisman dan A. Hamid Arief

IQ Jongkok (1981) bersama Enny Haryono, Marissa Haque, dan Bokir

Setan Kredit (1982) bersama Minati Atmanegara, Nasir dan Alicia Djohar

Chips (1982) bersama Sherly Malinton, Tetty Liz Indriati dan M. Pandji Anom

Dongkrak Antik (1983) bersama Meriam Bellina, Mat Solar dan Pietrajaya Burnama

Maju Kena Mundur Kena (1983) bersama Eva Arnaz, Lydia Kandou dan Us Us

Pokoknya Beres (1983) bersama Eva Arnaz, Lydia Kandou dan Us Us

Tahu Diri Dong (1984) bersama Eva Arnaz, Lydia Kandou dan Us Us.

Itu Bisa Diatur (1984) bersama Ira Wibowo, Lia Warokka dan Aminah Cendrakasih

Kesempatan Dalam Kesempitan (1985) bersama Lydia Kandou, Nena Rosier, Lia Warokka, Leily Sagita dan Kaharuddin Syah.

Gantian Dong (1985) bersama Ira Wibowo, Lia Warokka dan Advent Bangun

Sama Juga Bohong (1986) bersama Ayu Azhari, Nia Zulkarnaen, dan Chintami Atmanegara

Atas Boleh Bawah Boleh (1986) besama Eva Arnaz, Dian Nitami dan Wolly Sutinah

Depan Bisa Belakang Bisa (1986) bersama Eva Arnaz dan HIM Damsyik

Makin Lama Makin Asyik (1987) bersama Meriam Bellina, Susy Bolle dan Timbul

Saya Suka Kamu Punya (1987) bersama Doyok dan Didik Mangkuprojo

Jodoh Boleh Diatur (1988) bersama Raja Ema, Silvana Herman dan Nia Zulkarnaen

Malu-Malu Mau (1988) bersama Nurul Arifin, Suyadi dan Sherly Malinton

Godain Kita Dong (1989) bersama Lisa Patsy, Ida Kusumah dan Tarsan

Sabar Dulu Doong...! (1989) bersama Anna Shirley, Pak Tile dan Eva Arnaz

Mana Bisa Tahan (1990) bersama Nurul Arifin, Zainal Abidin dan Sally Marcellina

Lupa Aturan Main (1991) bersama Eva Arnaz, Fortunella dan Hengky Solaiman

Sudah Pasti Tahan (1991) bersama Nurul Arifin dan Sherly Malinton

Bisa Naik Bisa Turun (1992) bersama Kiki Fatmala, Fortunella, Fritz G. Schadt dan Gitty Srinita

Masuk Kena Keluar Kena (1992) bersama Kiki Fatmala, Fortunella dan Sally Marcellina

Salah Masuk (1992) bersama Fortunella, Gitty Srinita, Tarida Gloria dan Angel Ibrahim

Bagi-Bagi Dong (1993) bersama Kiki Fatmala dan Inneke Koesherawati

Bebas Aturan Main (1993) bersama Lella Anggraini, Gitty Srinita dan Diah Permatasari

Saya Duluan Dong (1994) bersama Diah Permatasari, Gitty Srinita dan HIM Damsyik

Pencet Sana Pencet Sini (1994) bersama Sally Marcellina, Pak Tile dan Taffana Dewi

(TribunnewsWIKI/Widi Hermawan)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Kasino Hadiwibowo (Kasino Warkop DKI)

ARTIKEL POPULER

Cara Cek Saldo BPJS Ketenagakerjaan dari HP Melalui Aplikasi BPJSTKU, Bisa Kapan Pun dan di Mana Pun

Cara Cek Nomor Telkomsel di HP

Cara Cek Nomor Indosat di HP

TONTON JUGA:

Editor: Sigit Ariyanto
Video Production: Panji Anggoro Putro
Sumber: TribunnewsWiki
Tags
   #Tribunnews WIKI   #kasino   #Kasino Warkop
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved