Rabu, 7 Januari 2026

Tribunnews WIKI

Rencong - Senjata Khas Warisan Budaya Kesultanan Aceh

Senin, 8 Juli 2019 23:07 WIB
TribunnewsWiki

TRIBUN-VIDEO.COM - Rencong merupakan senjata tradisional yang berasal dari daerah Aceh.

Berdasarkan catatan sejarah yang ada, rencong mulai dikenal sejak zaman kepemimpinan Sulthan Ali Mugayatsyah berkuasa di Kerajaan Aceh pada tahun 1514 sampai 1528 M.

Bahkan ada juga catatan sejarah yang menyebutkan bahwa masyarakat Aceh telah mempergunakan Rencong sejak berdirinya kerajaan-kerajaan Islam pada sekitar abad ke-13.

Kedudukan rencong bagi Kesultanan Aceh juga sangat penting, rencong selalu diselipkan di pinggang Sultan Aceh, selain para Ulee Balang dan masyarakat biasa juga menggunakan rencong.

Rencong emas milik Sultan Aceh dapat dijumpai di Museum Sejarah Aceh, hal itu menunjukkan bahwa rencong memang sudah ada sejak masa Kesultanan Aceh meski sampai sekarang pembuat pertamanya belum diketahui pasti.

Rencong merupakan simbol keberanian dan kegagahan ureueng Aceh, siapapun yang memegang rencong akan merasa lebih berani menghadapi musuh.

Rencong masih dipakai seperti dalam upacara pernikahan yang menggambarkan keberanian seorang laki-laki dalam memimpin keluarga setelah menikah.

Masyarakat Aceh selalu menjaga kelestarian rencong secara turun temurun.

Sejak masa Kerajaan Samudera Pasai dan Kerajaan Aceh Darussalam, laki-laki Aceh terbiasa menyematkan rencong di pinggan setiap bepergian.

Jika dilihat secara sekilas, rencong memiliki bentuk seperti kalimat Basmalah yang ditulis dalam Bahasa Arab.

Tulisan itu memang tidak terlihat secara mendetail, namun secara kasar bentuk rencong memang mirip dengan kalimat Bismillah.

Hal tersebut menunjukkan adanya hubungan yang erat antara rencong dengan nuansa Islam.

Selain itu, rencong juga hanya boleh digunakan untuk kebaikan, membela diri, atau berperang di jalan Allah.

Zaman dulu, rencong digunakan para pahlawan dan pejuang Aceh untuk melawan tentara Portugis, Jepang, dan Belanda untuk mempertahankan tanah kelahiran mereka.

Bahan dan Proses Pembuatan Rencong

Saat ini, bahan baku yang paling banyak digunakan untuk membuat rencong adalah logam jenis besi putih dan besi hitam.

Setelah besi dibelah sesuai kebutuhan, selanjutnya besi tersebut dipanaskan di atas bara.

Setelah besi tersebut menyala merah, kemudian diletakkan di atas tatakan untuk selanjutnya dihantam berulang-ulabng menggunakan alat semacam palu berukuran ekstra besar.

Proses tersebut dilakukan secara terus menerus sampai memperoleh bentuk yang diinginkan.

Proses pembuatan ini dinamakan proses penempaan, proses yang paling menentukan berhasil atau tidaknya pembuatan rencong.

Sementara itu, gagang rencong dibuat dari kayu atau tanduk.

Kayu atau tanduk tadi kemudian dibuat pola dan kemudian diukir menggunakan kikir.

Pada zaman dulu, motif ukiran yang dibuat hanya sebatas motif etnik seperti motif pintu Aceh atau pucuk rebung saja.

Namun saat ini, para perajin lebih berani mengkreasi dengan menerapkan aneka motif tumbuh-tumbuhan ataupun hewan.

Tahap terakhir pembuatan rencong adalah tahap finishing, gagang yang sudah diukir kemudian dihaluskan dengan alat khusus.

Kemudian masukkan besi yang sudah dibentuk ke dalam gagang, maka jadilah senjata tradisional dari Bumi Rencong itu.

Jenis-jenis Rencong

Ada beberapa jenis rencong yang dikenal di tengah masyarakat.

Jenis-jenis rencong tersebut berdasarkan pada bentuknya.

Setidaknya ada empat jenis rencong yang biasa ditemui yaitu rencong meupucok, meucugek, pufoi, serta meukuree.

Rencong meupucok memiliki pucuk di atas gagangnya dan biasanya dibuat dari emas.

Umumnya gagang rencong meupucok terlihat sedikit lebih kecil, namun makin ke ujung akan semakin besar.

Rencong ini biasa digunakan untuk upacara-upacara resmi yang berhubungan dengan masalah adat dan kesenian.

Rencong meucugek bentuknya sedikit berbeda, karena di gagang rencongnya terdapat sebuah bentuk panahan dan perekat yang dalam bahasa Aceh disebut cugek atau meucugek.

Cugek ini diperlukan agar rencong mudah dipegang dan tak mudah lepas saat dipakai untuk menikam ke tubuh musuh.

Sementara itu rencong pudoi punya bentuk gagang lebih pendek dan lurus, sehingga dianggap sebagai rencong yang belum rampung dibuat.

Istilah pudoi dalam masyarakat Aceh dipakai untuk menyebut sesuatu yang dianggap kurang atau belum sempurna.

Beda lagi dengan rencong meukuree yang mata pisaunya terdapat aneka ukiran, berupa gambar hewan atau bunga.

Selain itu, bahan yang digunakan dalam pembuatan rencong biasanya disesuaikan dengan pemakainya.

Untuk raja atau sultan, biasanya sarung rencong terbuat dari gading, sedangkan pisaunya dibuat dari emas dengan ukiran kutipan ayat Al-Qur’an.

Namun bagi rakyat biasa, sarung rencongnya terbuat dari tanduk kerbau atau kayu, sementara belatinya menggunakan kuningan atau besi putih.

Harga Rencong

Saat ini masih ada beberapa sentra pembuatan rencong di Aceh.

Untuk kawasan Aceh Besar, tempat penempaan rencong terdapat di desa Bait atau Sibreh dan desa Lamblang atau Darul Imarah.

Ukuran menjadi faktor utama yang menentukan harga rencong.

Rencong dengan panjang 10 cm sampai 12 cm biasanya dihargai Rp20.000 sampai Rp75.000, sedangkan rencong yang panjangnya lebih dari 12 cm dihargai Rp75.000 sampai Rp80.000.

Tetapi untuk rencong koleksi khusus, ada yang harganya mencapai ratusan ribu rupiah bahkan jutaan rupiah.

Ronceng berbahan besi putih biasanya lebih banyak diminati karena lebih tahan karat.(TribunnewsWiki.com/Widi Pradana Riswan Hermawan)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Rencong

ARTIKEL POPULER:

Lansia Naik Haji karena Menabung Rp5000 Setiap Hari

Tak Bisa Tahan Nafsu Lihat Korban Beri Makan Babi, Pria di Bali Memeluk dari Belakang & Coba Cabuli

Sakit Hati, Pria Nekat Habisi Nyawa Pamannya hingga Luka 22 Tusukan

TONTON JUGA:

Editor: Radifan Setiawan
Video Production: Fikri Febriyanto
Sumber: TribunnewsWiki

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved