Tribunnews WIKI

Elang Jawa - Apakah Burung Garuda Ada ? Ini Penjelasannya

Senin, 8 Juli 2019 18:01 WIB
Tribunnews.com

TRIBUN-VIDEO.COM – Elang jawa merupakan jenis burung predator endemic di Pulau Jawa.

Elang jawa memiliki sebutan ilmiah nisaetus bartelsi, dalam Bahasa Inggris, elang jawa biasa disebut javan hawk eagle (JHE).

Sedangkan sebagian masyarakat Indonesia menyebut elang jawa dengan nama burung garuda.

Elang jawa memang menjadi lambang negara Republik Indonesia, yaitu Garuda Pancasila.

Elang jawa termasuk ke dalam genus Nisaetus dengan ordo Accipitriformes, serta termasuk ke dalam keluarga Accipitridae.

Garuda sendiri merupakan binatang mitos di Jawa yang dipercaya sebagai kendaraan Dewa Wisnu.

Garuda dipercaya memiliki sepasang sayap, berkepala burung namun memiliki tubuh yang menyerupai manusia.

Elang jawa disebut-sebut menjadi inspirasi pembuatan lambang negara Garuda Pancasila karena sama-sama memiliki jambul.

Awalnya, Garuda Pancasila tidak berjambul, namun Ir Sukarno mengusulkan untuk menambahkan jambul agar tidak mirip dengan lambang negara Amerika Serikat yaitu elang bondol.

Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN), elang jawa kini berstatus Endangered atau terancam punah.

Populasinya hanya tinggal sekitar 200 pasang.

Menurunnya populasi elang jawa terutama disebabkan karena wilayah persebaran yang terbatas, tekanan yang tinggi, kehilangan habitat, serta eksploitasi untuk diburu dan diperjualbelikan.

Populasi elang jawa dari tahun ke tahun juga terus mengalami penurunan.

Meski telah dilakukan upaya konservasi, namun hasilnya masih belum optimal.

Tantangan lain yang dihadapi dalam upaya konservasi ini adalah masa berkembang biak elang jawa yang cukup lama, setidaknya dibutuhkan waktu tujuh tahun untuk indukan pertama berkembang biak. (3)

Sejak 1992, elang jawa sudah ditetapkan sebagai mascot satwa langka Indonesia.

Ciri-ciri Elang Jawa

Ciri-ciri yang paling khas dari elang jawa adalah adanya jambul di kepalanya.

Jambul yang ada di kepala elang jawa terdiri atas dua sampai empat helai bulu dengan panjang mencapai 12 cm.

Elang jawa merupakan jenis elang berukuran sedang dengan ukuran antara 60 – 70 cm, sedangkan ukuran terkecil antara 56 sampai 61 cm dari ujung paruh sampai ujung ekor.

Sedangkan rentang sayap elang jawa sekitar 110 sampai 130 cm.

Selain memiliki jambul, kepala elang jawa berukuran cokelat kemerahan dengan tengkuk berwarna cokelat kekuningan, apabila terkena sinar matahari, kadang tampak keemasan.

Bagian punggung dan sayap elang jawa berwarna cokelat gelap.

Elang jawa memiliki kerongkongan yang berwarna agak keputihan dengan garis-garis hitam yang membujur di tengahnya.

Ke arah dada, coret-coret hitam menyebar di atas warna kuning kecokelatan pucat.

Di sebelah bawah pola tersebut kemudian menjadi pola garis rapat melintang merah sawo matang sampai kecokelatan di atas warna pucat keputihan bulu-bulu perut dan kaki.

Pada bagian kaki, tertutup bulu-bulu yang sama dengan elang IBE, dengan ekor kecokelatan dengan empat garis gelap dan lebar melintang yang tampak jelas di sisi bawah, sedangkan ujung ekornya bergaris putih tipis.

Saat terbang di udara, elang jawa akan tampak seperti elang brontok, namun warnanya cenderung lebih kecokelatan.

Elang jawa betina dan jantan memiliki ciri yang serupa, hanya saja elang jawa betina biasanya memiliki ukuran yang sedikit lebih besar.

Elang jawa memiliki iris mata kuning atau kecoklatan, paruh kehitaman; daging di pangkal paruh kekuningan; serta kaki atau jari kekuningan juga.

Elang jawa yang masih muda memiliki kepala, leher, dan sisi bawah tubuh berwarna coklat kayu manis terang, tanpa coretan atau garis-garis.

Elang jawa memiliki bunyi nyaring tinggi, berulang-ulang, klii-iiw atau ii-iiiw, bervariasi antara satu hingga tiga suku kata.

Penyebaran, Ekologi, dan Konservasi

Sebaran elang jawa terbatas di Pulau Jawa saja, dari ujung barat (Taman Nasional Ujung Kulon) hingga ujung timur di Semenanjung Blambangan Purwo.

Namun penyebarannya kini terbatas di wilayah-wilayah dengan hutan primer dan di daerah perbukitan berhutan pada peralihan dataran rendah dengan pegunungan.

Elang jawa sebagian besar ditemukan di separuh belahan selatan Pulau Jawa, diperkirakan burung ini hidup berspesialisasi pada wilayah berlereng.

Elang Jawa menyukai ekosistem hutan hujan tropika yang selalu hijau, di dataran rendah maupun pada tempat-tempat yang lebih tinggi.

Mulai dari wilayah dekat pantai seperti di Ujung Kulon dan Meru Betiri, sampai ke hutan-hutan pegunungan bawah dan atas hingga ketinggian 2.200 mdpl dan kadang-kadang 3.000 mdpl.

Pada umumnya tempat tinggal elang jawa sukar untuk dicapai, meski tidak selalu jauh dari lokasi aktivitas manusia.

Elang jawa sangat bergantung pada keberadaan hutan primer sebagai tempat hidupnya.

Walaupun kadang ditemukan elang jawa yang menggunakan hutan sekunder sebagai tempat berburu dan bersarang, akan tetapi letaknya berdekatan dengan hutan primer yang luas.

Elang jawa biasanya berburu dari tempat bertenggernya di pohon-pohon tinggi dalam hutan.

Dengan sigap dan tangkas, elang jawa menyergap aneka mangsanya yang berada di dahan pohon maupun yang di atas tanah, seperti berbagai jenis reptil, burung-burung sejenis walik, punai, dan bahkan ayam kampung.

Elang jawa juga memangsa mamalia berukuran kecil sampai sedang seperti tupai, kalong, musang, sampai dengan anak monyet.

Masa bertelur elang jawa tercatat mulai bulan Januari hingga Juni.

Elang jawa biasanya hanya bertelur sebanyak satu butir, yang dierami selama kurang lebih 47 hari.

Sarang elang jawa berupa tumpukan ranting-ranting berdaun yang disusun tinggi, dibuat di cabang pohon setinggi 20-30 di atas tanah.

Pohon sarang merupakan jenis-jenis pohon hutan yang tinggi, seperti rasamala, pasang, tusam, puspa, dan ki sireum.

Sarang elang jawa tidak selalu jauh berada di dalam hutan, ada pula sarang-sarang yang ditemukan hanya sejarak 200-300 m dari tempat rekreasi.

Di habitatnya, elang jawa menyebar jarang-jarang, sehingga meskipun luas daerah agihannya, total jumlahnya hanya sekitar 137-188 pasang burung.

Populasi yang kecil ini menghadapi ancaman besar terhadap kelestariannya, yang disebabkan oleh kehilangan habitat dan eksploitasi jenis.

Pembalakan liar dan konversi hutan menjadi lahan pertanian telah menyusutkan tutupan hutan primer di Jawa.

Elang jawa juga terus diburu orang untuk diperjual belikan di pasar gelap sebagai satwa peliharaan.

Karena kelangkaannya, memelihara burung ini seolah menjadi kebanggaan tersendiri, hingga kemudian menjadikan harga burung ini melambung tinggi.

Mempertimbangkan kecilnya populasi, wilayah agihannya yang terbatas dan tekanan tinggi yang dihadapi itu, organisasi konservasi dunia IUCN memasukkan elang Jawa ke dalam status EN (Endangered, terancam kepunahan).

Pemerintah Indonesia juga menetapkan elang jawa sebagai hewan yang dilindungi oleh undang-undang.

Sesungguhnya keberadaan elang Jawa telah diketahui sejak 1820, ketika van Hasselt dan Kuhl mengoleksi dua spesimen burung ini dari kawasan Gunung Salak untuk Museum Leiden, Negeri Belanda.

Akan tetapi pada masa itu hingga akhir abad-19, spesimen-spesimen burung ini masih dianggap sebagai jenis elang brontok.

Baru di tahun 1908, atas dasar spesimen koleksi yang dibuat oleh Max Bartels dari Pasir Datar, Sukabumi pada tahun 1907, seorang pakar burung di Negeri Jerman, O. Finsch, mengenalinya sebagai takson yang baru.

Ia mengiranya sebagai anak jenis dari Spizaetus kelaarti, sejenis elang yang ada di Sri Lanka.

Sampai kemudian pada tahun 1924, Prof Stresemann memberi nama takson baru tersebut dengan epitet spesifik bartelsi, untuk menghormati Max Bartels di atas, dan memasukkannya sebagai anak jenis elang gunung Spizaetus nipalensis.

Elang jawa kemudian dikenal dunia dengan nama ilmiah Spizaetus nipalensis bartelsi, hingga akhirnya pada tahun 1953 D Amadon mengusulkan untuk menaikkan peringkatnya dan mendudukkannya ke dalam jenis yang tersendiri, Spizaetus bartelsi.

Di Jawa, keberadaan elang jawa terancam punah, di habitatnya di Kaliurang, Sleman, saat ini tinggal 10 ekor.

Upaya pelestarian elang Jawa melalui penangkaran sangatlah sulit. Selain karena kebiasaannya yang suka terbang jarak jauh dan habitatnya di hutan tropis basah dataran tinggi, elang ini juga hidup secara liar. (7)

(TribunnewsWIKI/Widi Hermawan)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Elang Jawa

ARTIKEL POPULER

Cara Cek Saldo BPJS Ketenagakerjaan dari HP Melalui Aplikasi BPJSTKU, Bisa Kapan Pun dan di Mana Pun

Cara Cek Nomor Telkomsel di HP

Cara Cek Nomor Indosat di HP

TONTON JUGA:

Editor: Sigit Ariyanto
Video Production: Fikri Febriyanto
Sumber: Tribunnews.com
Tags
   #elang Jawa   #Garuda
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved