Sabtu, 10 Januari 2026

Local Experience

Rumah Manuskrip Penjaga Hening Sejarah Kuno Aceh

Sabtu, 16 Agustus 2025 10:49 WIB
Serambi Indonesia

Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru

TRIBUN-VIDEO.COM - Di balik tembok beton di Jalan Seroja, Ie Masen Kayee Adang, Banda Aceh, berdiri sebuah rumah dua lantai yang sederhana, dilapisi cat putih dengan konsep minimalis.

Sekilas, tak ada yang istimewa. Rumah ini terlihat seperti hunian masyarakat pada umumnya, tenang, bersahaja.

Namun, di balik kesederhanaannya, tersembunyi kekayaan yang tak ternilai.

Warisan leluhur yang telah melintasi ratusan tahun sejarah, dirawat dengan sepenuh hati di tempat yang disebut orang sebagai Rumoh Manuskrip.

Rumoh Manuskrip, sebenarnya merupakan rumah pribadi milik Tarmizi Abdul Hamid, seorang budayawan Aceh sekaligus kolektor naskah kuno Aceh.

Lahir di Pidie pada 31 Desember 1966, ketertarikan Cek Midi terhadap manuskrip kuno bermula dari kenangan terhadap sang kakek, yang ia panggil Abusyik. 

Dari manuskrip peninggalan sang kakek, tumbuh ketertarikan yang kemudian menjelma menjadi panggilan jiwa.

Sejak tahun 1995, Cek Midi mulai mengoleksi manuskrip dengan serius. 

Berbekal dana pribadi dan semangat menjaga warisan intelektual Aceh, ia berburu naskah kuno ke berbagai penjuru provinsi, bahkan hingga ke Riau dan Sumatera Barat. 

Manuskrip pertamanya adalah Sir al-Salikin, karya ulama besar Syekh Abdul Samad Palembani yang diperolehnya dari Kecamatan Jeunieb, Bireuen.

Perburuan manuskrip yang dilakukan Cek Midi selama lebih dari 20 tahun membuahkan hasil yang cukup mencengangkan. 

Kini, koleksi naskah kuno Aceh yang berhasil ia kumpulkan telah mencapai 598 manuskrip.

Seluruhnya tersimpan rapi di dalam lemari kaca sederhana yang ditempatkan di ruang tamu dan ruang keluarga rumahnya, seolah menjadi etalase warisan budaya.

Sebagian lainnya ditata penuh dalam bingkai besar berlapis kaca, menghiasi hampir setiap sisi dinding rumah, menjadikan kediaman Cek Midi bak museum hidup peninggalan sejarah.

Ratusan naskah kuno Aceh yang dikumpulkan oleh Cek Midi mencakup berbagai jenis karya klasik—mulai dari mushaf Al-Qur’an, kitab-kitab tauhid, tasawuf, hukum Islam, hingga naskah yang membahas ilmu pengobatan tradisional dan ilmu falak.

Seluruh manuskrip itu ditulis tangan dalam Bahasa Arab dan Arab-Jawi, menggunakan kertas impor asal Eropa yang dulu dipesan secara khusus oleh Sultan Iskandar Muda.

Uniknya, watermark pada kertas-kertas itu masih bisa dikenali hingga hari ini.

Sebagian dari naskah koleksi Cek Midi bahkan telah berusia lebih dari tiga abad.

Meski kertasnya mulai menguning dan rapuh, tulisan-tulisannya tetap utuh dan jelas terbaca.

Semua itu berkat perawatan teliti yang diberikan oleh Cek Midi.

Lembar-lembar yang rapuh direstorasi menggunakan kertas uruci, sejenis kain putih tipis buatan Jepang yang menyerupai kasa, namun tidak tembus air.

Ia juga memanfaatkan berbagai bahan alami dan alat tradisional untuk menjaga manuskrip dari serangan rayap dan kerusakan usia.

Rumah yang didedikasikan Cek Midi ini bukan sekadar tempat menyimpan sejarah.

Lebih dari itu, ia menjelma menjadi ruang belajar hidup—terbuka bagi peneliti lokal, mahasiswa, hingga tamu dari mancanegara yang ingin menyelami warisan intelektual masa lampau.

Bagi Cek Midi, ilmu bukan untuk disimpan sendiri. Ia percaya, pengetahuan harus diwariskan.

Karena itu, ia menyediakan berbagai fasilitas digital guna mempermudah akses bagi siapa pun yang ingin belajar.

Langkah ini sekaligus menjadi upaya pengarsipan, sebagai bentuk perlindungan sebelum naskah-naskah berharga itu benar-benar hilang ditelan waktu.

Beberapa naskah bahkan telah berhasil dialihaksarakan dan didigitalisasi.
Di antaranya adalah Nazam Aceh, syair perempuan sufi karya Pocut di Beutong, serta karya monumental Jalaluddin bin Syekh Jamaluddin Ibnu Al Qadhi.

Selain manuskrip, di rumahnya Cek Midi juga menyimpan barang-barang peninggalan sejarah Aceh lain.

Diantaranya senjata perang seperti pedang dan rencong, batu nisan kuno, hingga alat-alat rumah tangga yang digunakan pada masa kerajaan Aceh. 

Rumoh Manuskrip telah menjadi rumah waktu, penjaga aksara sekaligus pengingat bahwa sejarah bukan hanya untuk dikenang, tapi untuk dirawat dan diwariskan.

Rumoh Manuskrip bukan hanya rumah bagi naskah-naskah tua, tapi juga rumah bagi ingatan kolektif bangsa.

Rumah bagi penjaga aksara dan siapa pun yang ingin menyelami warisan leluhur.

Program: Local Experience
Editor Video: Akmal Khoirul Habib

#rumahmanuskrip #manuskrip #aceh #cekmidi #sejarahaceh #sejarah

Editor: Sigit Ariyanto
Video Production: Akmal KhoirulHabib
Sumber: Serambi Indonesia

Tags
   #Local Experience   #manuskrip   #Aceh

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved