Kamis, 9 April 2026

Nasional

Massa Aksi 13 Agustus di Pati Terbelah seusai PBB 250% Dibatalkan, Ada yang Batal dan Lanjut

Senin, 11 Agustus 2025 13:52 WIB
Tribunnews.com

Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru

TRIBUN-VIDEO.COM — Sebagian massa batal menggelar aksi pada 13 Agustus 2025 mendatang, buntut batalnya kenaikan tarif Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) hingga 250 persen di Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Massa memutuskan batal menggelar demo karena merasa tuntutan mereka sudah dipenuhi oleh Bupati Pati, Sudewo.

Kelompok yang memutuskan batal berunjuk rasa di antaranya yakni Gerakan Pati Bersatu (Gerpab) yang dikomandoi Cahya Basuki alias Yayak Gundul, dan Aliansi Santri Pati untuk Demokrasi (Aspirasi) yang dikoordinatori Sahal Mahfudh.

Namun, sebagian massa lainnya mengatakan bakal tetap menggelar aksi unjuk rasa pada 13 Agustus 2025 dengan tuntutan Sudewo lengser.

Rencana unjuk rasa itu setelah Pemkab Pati mengeluarkan kebijakan tentang penyesuaian Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) dan menaikkan tarif Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan (PBB-P2) hingga 250 persen.

Namun, setelah kebijakan itu menjadi polemik, Bupati Pati Sudewo membatalkan kenaikan tarif PBB-P2.

Baca: Seruan Lawan Agresi Israel Menggema, Presiden Iran: Negara di Seluruh Dunia Harus Bekerja Sama!

Pembatalan Aksi Unjuk Rasa

Koordinator kelompok Gerakan Pati Bersatu (Gerpab), Cahya Basuki alias Yayak Gundul memicu polemik setelah menerbitkan surat pembatalan aksi demo.

Surat itu dia keluarkan setelah bertemu Bupati Pati Sudewo di salah satu restoran di Jalan Diponegoro, Jumat (8/8/2025).

Kelompok ini sebelumnya juga hendak menggelar aksi unjuk rasa menolak kenaikan PBB-P2 pada 13 Agustus 2025.

Yayak mengatakan, sudah tidak perlu lagi dilakukan unjuk rasa karena Bupati Pati Sudewo telah membatalkan kebijakan kenaikan PBB-P2.

Yayak juga mengaku, dirinya merasa “dikhianati” oleh massa aliansi.

Ia mengaku heran dengan pergeseran fokus tuntutan aliansi, dari menurunkan PBB-P2 menjadi melengserkan Sudewo.

“Saya merasa heran juga, lo kok berubah begini? Memang ada isu, orang yang akan melengserkan bupati itu mengeluarkan dana."

"Ada isu yang bilang ditunggangi (kepentingan) politik. Tapi itu isu. Saya tidak lihat uangnya."

"Tapi apa pun itu, (melanjutkan demo) itu hak mereka. Saya juga punya hak (untuk membatalkan aksi kelompoknya)” ujar Yayak kepada TribunJateng.com, Jumat.

Baca: Soroti Gibran Makan Bareng Dasco, Ray Rangkuti: Rasa Tidak Percaya Diri Lagi di Lingkungan Jokowi

Aliansi Masyarakat Pati Bersatu Akan Tetap Demo

Sementara itu, Aliansi Masyarakat Pati Bersatu menegaskan aksi unjuk rasa besar-besaran pada 13 Agustus 2025 tidak akan dibatalkan.

Mereka tidak akan melunak meski Bupati Sudewo menyatakan membatalkan kebijakan penyesuaian Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) yang berdampak pada kenaikan tarif Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) hingga 250 persen.

Koordinator Lapangan (Korlap) Penggalangan Donasi Masyarakat Pati Bersatu, Teguh Istiyanto, mempertanyakan kebenaran pernyataan Sudewo.

“Apakah memang benar? Suratnya mana? Dulu dia waktu kampanye janji tidak akan memberatkan warga dengan pajak, tapi faktanya setelah jadi bupati dia menaikkan pajak."

"Setelah itu nantang warga yang tidak setuju untuk demo. Setelah kami terima tantangannya, dia ngomong membatalkan kenaikan pajak. Bagi saya itu kata-kata seperti pepesan kosong, omon-omon saja,” tegasnya di posko donasi, depan Kantor Bupati Pati, kawasan Alun-Alun Pati, Jumat, dikutip dari TribunJateng.com.

Teguh lantas meyakini, jika benar Sudewo membatalkan kenaikan pajak, hal itu bukan karena hati nurani, melainkan karena terpaksa akibat tekanan publik.

“Kalau dia memang prorakyat, harusnya sejak awal tidak ada pemikiran dia untuk menaikkan pajak. Ini dia batalkan karena ada tekanan dari warga. Kalau dia ngomong akan membela rakyat, saya katakan itu bullshit,” ujarnya.

Ia menegaskan, sampai kapan pun, pihaknya akan terus menuntut Sudewo dicopot dari jabatannya, bagaimana pun mekanismenya.

“Sampai kapan pun selama dia masih menjabat, kami akan berusaha menurunkan dia, minta dia diganti. Siapa pun nanti penggantinya, kami tidak peduli, yang penting bukan Sudewo. Sikap dia itu penuh kesombongan," lanjutnya. 

(*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Massa Aksi 13 Agustus di Pati Terbelah, Sebagian Batal Demo usai PBB Tak Jadi Naik, Ada yang Lanjut

Editor: Dimas HayyuAsa
Video Production: Muhammad Arief Prasetyo
Sumber: Tribunnews.com

Tags
   #Pati   #unjuk rasa   #Yayak Gundul   #pajak

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved