Mancanegara
Respons Hamas Terkait Ngototnya Netanyahu Ingin Ambil Alih Gaza Secara Penuh, Singgung Nasib Sandera
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru
TRIBUN-VIDEO.COM - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu kembali menuai kontroversi dengan menyatakan secara terbuka bahwa Israel berniat mengambil alih kendali militer penuh atas Jalur Gaza.
Dalam wawancara eksklusif dengan Fox News pada Kamis (7/8/2025), Netanyahu mengklaim bahwa penguasaan militer terhadap wilayah pesisir itu adalah bagian dari 'keamanan nasional'.
“Kami bermaksud mengambil alih Gaza untuk memastikan keamanan kami, menyingkirkan Hamas, lalu menyerahkannya kepada pemerintahan sipil non-Hamas,” ujarnya, dikutip dari Al Jazeera.
Baca: Situasi Israel Kacau saat Netanyahu Rapat Bahas Rencana Duduki Gaza, Warga Demo Tuntut Sandera Bebas
Pernyataan ini muncul hanya beberapa jam sebelum Netanyahu menggelar pertemuan dengan kabinet keamanannya untuk membahas perluasan operasi militer di Gaza.
Termasuk wilayah padat penduduk di mana sandera diyakini masih ditahan.
Israel telah melancarkan serangan di Jalur Gaza sejak Oktober 2023.
Dalam waktu singkat, eskalasi militer Israel berubah menjadi penghancuran masif.
Serangan udara, artileri, dan blokade ketat menyebabkan kehancuran infrastruktur, kelaparan, dan krisis kemanusiaan akut.
Menurut otoritas Gaza, lebih dari 30.000 warga Palestina tewas, termasuk ribuan anak-anak dan perempuan.
Sementara itu, rencana Netanyahu ini memicu reaksi keras datang dari berbagai pihak, termasuk Hamas.
Hamas menganggap pernyataan Netanyahu sebagai pengkhianatan terhadap proses negosiasi.
Dalam sebuah pernyataan resmi, kelompok tersebut menyebut PM Israel berusaha menyingkirkan para sandera sebagai hambatan politik untuk mencapai tujuan ideologisnya.
“Netanyahu secara sadar mengorbankan para tawanan demi kepentingan pribadinya dan agenda ideologis ekstremisnya,” tulis Hamas, dikutip dari Al-Arabiya.
Pernyataan ini muncul menyusul gagalnya perundingan tidak langsung antara Israel dan Hamas untuk mencapai gencatan senjata dan kesepakatan pembebasan sandera.
Baca: Krisis Personel Memuncak, Israel Rekrut Lansia untuk Perkuat IDF di Garis Depan
Hingga kini, masih ada 49 sandera yang ditahan, dan menurut militer Israel, 27 di antaranya diduga telah tewas.
Perpecahan Internal di Israel: Militer Menolak, Warga Protes
Kontroversi atas rencana pendudukan Gaza juga memecah belah internal Israel.
Kepala Staf Militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir dikabarkan menentang keras perluasan kampanye militer.
Dalam pernyataan publiknya, Zamir menyebut bahwa militer tidak boleh digunakan untuk tujuan politik yang mengabaikan realitas di lapangan.
“Kami berurusan dengan hidup dan mati, bukan teori. Dan kami tidak takut menyatakan posisi kami,” kata Zamir.
Di sisi lain, ratusan warga Israel, termasuk keluarga sandera, menggelar protes di Yerusalem, mendesak pemerintah untuk menghentikan serangan dan menuntut negosiasi pembebasan sandera.
Forum Keluarga Sandera bahkan meminta kepala staf militer untuk melawan rencana politik Netanyahu yang dianggap mengabaikan nyawa rakyat sendiri.
Salah satu kritik paling tajam datang dari jurnalis senior Israel, Gideon Levy, yang menyebut rencana Netanyahu sebagai "fantasi politik berbahaya".
“Siapa yang akan masuk dan memerintah Gaza jika bukan Israel? Tidak ada yang mau. Ini bukan soal keamanan, ini soal penghancuran dan pengusiran,” ujar Levy.
Menurutnya, pernyataan Netanyahu soal menyerahkan Gaza ke pasukan Arab hanyalah dalih untuk mencuci tangan dari konsekuensi genosida yang sedang berlangsung, sembari tetap mempertahankan kontrol militer secara de facto.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Komunitas Internasional: Peringatan akan Bencana Kemanusiaan
Rencana Netanyahu juga memicu kekhawatiran di kalangan internasional.
PBB melalui juru bicaranya, Farhan Haq, memperingatkan bahwa ekspansi militer ke wilayah yang padat penduduk bisa memperparah bencana kemanusiaan yang sudah sangat mengkhawatirkan.
Ia menyebut risiko kelaparan massal dan penderitaan sipil sebagai "skenario paling mengerikan".
Situasi di rumah sakit Gaza semakin mengkhawatirkan, dengan kematian baru akibat kelaparan dilaporkan setiap harinya, dan sistem medis hampir kolaps.
Bantuan kemanusiaan yang masuk sangat terbatas, dan Israel dituduh memperlambat distribusinya.
Sementara Hamas dituding menyita sebagian untuk kebutuhan militernya, tuduhan yang mereka bantah.
(*)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Netanyahu Ngotot Ingin Ambil Alih Gaza, Hamas: Sandera Dikorbankan demi Kepentingan Politik
# Respons # Hamas # Netanyahu # Gaza # Sandera # Perdana Menteri Israel # Benjamin Netanyahu #
Video Production: Anggraini Puspasari
Sumber: Tribunnews.com
Mancanegara
Video Saiful Mujani soal Pemakzulan Prabowo Viral, Fahri Hamzah Beri Respons Menohok!
Selasa, 7 April 2026
TRIBUNNEWS UPDATE
Kecam Ancaman AS, Iran Tuduh Trump Dikelabui Netanyahu, Serangan ke Sipil Picu Eskalasi Konflik
Senin, 6 April 2026
Mancanegara
ISRAEL MEMANAS! Polisi dan Warga Bentrok saat Demo Desak Netanyahu Hentikan Perang
Senin, 6 April 2026
Tribunnews Update
Netanyahu Sesumbar 70 Persen Produksi Baja Iran Hancur Diserang, Ancam Bakal Terus Bombardir
Minggu, 5 April 2026
TRIBUNNEWS UPDATE
Netanyahu Ungkap 70 Persen Industri Baja Iran Sukses Dihancurkan Lewat Serangan Militer Israel
Minggu, 5 April 2026
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.