Tribunnews WIKI

Masjid Agung Jawa Tengah - Masjid Ratusan Milyar

Rabu, 3 Juli 2019 08:43 WIB
Tribunnews.com

TRIBUN-VIDEO.COM - Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) didesain dengan gaya arsitektur perpaduan antara Jawa, Timur Tengah dan Yunani. Dilengkapi dengan 6 buah payung hidrolik ukuran besar yang dibuka jika jemaah salat cukup banyak.

Awalnya pembangunan MAJT direncanakan menghabiskan biaya Rp 30 Miliar.

Gubernur Jawa Tengah saat itu H Mardiyanto pada upacara peresmian menyebut biaya pembangunan keseluruhan sebesar Rp 198.692.340.000.

Namun dalam perkembangannya menurut Wakil Ketua Badan Pengelola Masjid Agung Jawa Tengah Dr H Noor Achmad MA, biayanya terus mengalami peningkatan hingga mencapai Rp 230 Miliar.

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meresmikan MAJT pada Selasa 14 November 2006M/23 Syawal 1427H pukul 20.00. Peresmian ditandai dengan penandatanganan batu prasasti setinggi 3,2 meter dengan berat 7,8 ton.

Batu itu merupakan batu alam yang khusus diambil dari lereng Gunung Merapi, Kabupaten Magelang.

Prasasti tersebut dipahat Nyoman M. Alim yang juga dipercaya membuat miniatur candi Borobudur yang ditempatkan di Minimundus Vienna Austria pada tahun 2001.

Presiden SBY kemudian didampingi Habib Lutfi bin Ali Yahya, Sahal Mahfudh, Menteri Agama Maftuh Basyuni dan sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Gubernur Jawa Tengah H Mardiyanto dan Wakil Gubernur Drs H Ali Mufiz MPA menunaikan shalat sunah di MAJT.

Keistimewaan Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid Agung Jawa Tengah dibangun di atas lahan seluas 10 Hektare.

Luas Bangunan Induk atau Bangunan Utama untuk Shalat : 7.669 meter persegi .

Bangunan utama terdiri dua lantai, lantai satu untuk jamaah pria, lantai dua untuk jamaah perempuan.

Kapasitas ruang utama diperkirakan bisa menampung 6.000 orang jamaah.

Di dalam bangunan induk dilengkapi dengan empat buah minaret (menara masjid yang tinggi dan langsing, berbalkon, tempat muadzin mengumandangkan azan) masing-masing tingginya 62 meter.

Salah satu minaret dilengkapi dengan lift yaitu minaret bagian Depan (Timur) Kanan.

Kubah utama berbentuk setengah lingkaran dari cor beton dengan garis tengah 20 meter.

Gaya arsitektur masjid, merupakan perpaduan antara Jawa, Timur Tengah (Arab Saudi) dan Yunani.

Gaya timur tengah terlihat dari kubah dan empat minaretnya.

Gaya Jawa terlihat dari bentuk tajugan di atap di bawah kubah utama.

Sedang gaya Yunani terlihat pada 25 pilar-pilar Kolasium dipandu dengan kaligrafi Arab yang sangat indah.

Filosofi perancangan Masjid Agung Jawa Tengah merupakan perwujudan dan kesinambungan historis perkembangan agama Islam di Tanah Air.

Filosofi ini diterjemahkan dalam Candrasengkala yang dirangkai dalam kalimat “Sucining Guna Gapuraning Gusti” yang berarti Tahun Jawa 1943 atau Tahun Masehi 2001 adalah tahun dimulainya realisasi dari gagasan pembangunan Masjid Agung Jawa Tengah.

Candrasengkala ini terwujud menjadi ekspresi jatidiri Masjid Agung yang megah dan indah, perpaduan unsur budaya universal maupun lokal dalam kebudayaan Islam.

Berikutnya, plasa Masjid. Pada plasa ini terdapat banner yang dinamakan Gerbang Al-Qanathir yang artinya “Megah dan Bernilai”.

Tiang pada Gerbang Al-Qanathir ini berjumlah 25 buah merupakan simbolisasi dari 25 rosul Allah sebagai pembimbing umat. Pada Banner Gerbang ini bertuliskan kaligrafi kalimat Syahadat Tauhid “Asyhadu Alla Illa Ha Illallah´ dan Syahadat Rasul “Asyhadu anna Muhammadar Rosulullah”.

Sedang pada bidang datar tertulis huruf pegon berbunyi “Sucining Guna Gapuraning Gusti”.

Plasa masjid seluas 7500 meter persegi ini merupakan perluasan ruang salat yang dapat menampung kurang lebih 10 ribu jamaah.

Dilengkapi dengan 6 payung raksasa yang bisa membuka dan menutup secara otomatis seperti yang ada di masjid Nabawi di Madinah.

Konon di dunia hanya ada dua masjid yang dilengkapi dengan payung hidrolik semacam ini.

Tinggi tiang payung hidrolik masing-masing 20 meter sedangkan bentangan (jari-jari) masing-masing 14 meter.

Di dalam ruang utama Masjid Agung Jawa Tengah terdapat Al-Qur’an Raksasa (Mushaf Al-Akbar) karya Santri Pondok Pesantren Al-Asy’ariyyah Kalibeber, Mojotengah, Wonosobo.

Disebut Mushaf Al-Akbar karena ukuran yang besar yaitu 145 cm x 95 cm.

Alquran tersebut kini diletakkan di Museum Sejarah Islam di lantai dua Menara Al-Husna Kompleks Masjid Agung Jawa Tengah.

Di dalam Masjid bagian Timur Utara juga terdapat Bedug Raksasa Karya KH. Ahmad Shobri, Tinggarjaya, Jatilawang, Purwokerto Banyumas.

Bedug bernama “BEDUG IJO” Mangunsari dibuat pada 20 Sya’ban 1424 H.

Panjangnya 310 cm, diameter 186 cm. Garis tengah bagian Tengah 220 cm, keliling depan/belakang 588 cm.

Yang istimewa, menurut Kiai Shobri, Dukuh tempat dibuatnya bedug namanya Mangunsari dari Bahasa Arab Maun Syaar artinya pertolongan dari kejelekan.

Bedug ini terbuat dari kayu waru.

Kiai Shobri juga membuat Kentongan Ijo yang diletakkan bersebelahan dengan Bedug Ijo.

Kemudian di bawah bangunan utama terdapat tempat wudhu pria/wanita.

Terdapat 93 kran wudhu pria dan 56 kran wudhu wanita.

Di tempat wudhu sayap kanan terdapat 50 buah kran wudhu sedang di tempat wudhu sayap kiri terdapat 14 buah.

Di bawah bangunan utama juga terdapat Ruang Perkantoran Badan Pengelola, Gedung Serbaguna dan Ruang VIP yang akses langsung ke ruang Imam.

Bangunan sayap kanan adalah Convention Hall (auditorium) yang mampu menampung 2 ribu orang.

Sedang bangunan sayap kiri adalah Perpustakaan yang nantinya didesain menjadi perpustakaan modern “Digital Library”dan Office Space ruang perkantoran yang disewakan.

Di bawah Plasa Masjid Agung Jawa Tengah terdapat tempat parkir yang mampu menampung 680 mobil dan 670 sepeda motor.

Masjid Agung Jawa Tengah juga dilengkapi dengan Wisma Penginapan GRAHA AGUNG dengan kapasitas 23 kamar berbagai kelas.

Para peziarah atau pengunjung yang ingin bermalam bisa memanfaatkan fasilitas tersebut dengan harga yang sangat murah.

Wisma penginapan ini terletak di bagian Timur utara Masjid. 

Daya tarik lainnya yaitu Menara AL-HUSNA (Al-Husna Tower).

Di sebelah masjid, terdapat Menara Asmaul Husna (Al Husna Tower) yang memiliki ketinggian 99 meter merujuk pada angka Al-Asmaul Husna.

Bagian dasar menara terdapat Studio Radio DAIS (Dakwah Islam).

Lantai 2 dan 3 untuk Museum Kebudayaan Islam.

Di lantai 18 terdapat kafe muslim yang bisa berputar 360 derajat.

Lantai 19 untuk menara pandang.

Dilengkapi dengan 5 teropong yang bisa melihat pemandangan Kota Semarang.

Pada awal Ramadhan 1427 H, untuk kali pertama dipakai Rukyatul Hilal dari Tim Rukyah Jawa Tengah menggunakan teropong canggih dari BOSCHA.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/NIKEN)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT)

ARTIKEL POPULER:

Wawancara Eksklusif bersama Presiden Joko Widodo: Blak-blakan Kabinet 2019-2024

Wawancara Eksklusif bersama Presiden Joko Widodo: Akan Ada Reformasi Besar

Wawancara Eksklusif bersama Presiden Joko Widodo: Strategi Jokowi untuk Menjawab Harapan Rakyat

Editor: Radifan Setiawan
Sumber: Tribunnews.com
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved