Profil

Pasar Triwindu Ngarsopuro, Surakarta - Pusat Jual Beli Barang Antik di Kota Surakarta

Jumat, 14 Juni 2019 08:09 WIB
Tribunnews.com

TRIBUN-VIDEO.COM - Pasar Triwindu Ngarsopuro atau yang lebih akrab disebut Pasar Triwindu dikenal sebagai pusat penjualan barang antik dan kuno yang terletak di Kota Solo.

Letak Pasar Triwindu tidak jauh dari Pura Mangkunegaran, yaitu hanya berjarak sekitar 350 meter.

Sebelum menjadi Pasar Triwindu, bangunan ini bernama Pasar Windujenar.

Pasar Triwindu merupakan peninggalan Raja Pura Mangkunegaran.

Sebelum menjadi Pasar Triwindu, lahan yang digunakan untuk bangunan pasar awal mulanya adalah alun-alun Mangkunegaran, lebih tepatnya kandang kuda milik Mangkunegaran.

Pada 1939, Raja Pura Mangkunegaran, KGPAA Mangkunegara VII membangun sebuah pasar sebagai kado ulang tahun ke-24 bagi Gusti Putri Mangkunegara VII bernama Noeroel Kamaril.

Pasar ini diberikan kepada Gusti Noeroel saat naik tahta Raja Mangkunegara VII yang ke tiga windu.

Perayaan naik tahta dirayakan besar-besaran oleh trah Mangkunegara dan masyarakat Surakarta dan dihadiri oleh Ratu Wihelmina Belanda.

Nama Triwindu diambil dari kata ‘tri’ yang dalam bahasa Jawa berarti tiga dan ‘windu’ yang berarti delapan.

Nama Triwindu memiliki makna delapan tahun rangkap tiga, 24, umur Gusti Noeroel saat dihadiahi oleh Raja Pura Mangkunegaran, KGPAA Mangkunegara VII.

Pasar Triwindu pertama kali berdiri hanyalah sebuah lahan kecil dengan meja-meja penjaja sederhana.

Seiring berjalannya waktu pada 1960 para pedagang mulai mendirikan kios-kios kecil.

Awalnya Pasar Triwindu tidak menjual barang-barang antik, tapi menjual kebutuhan sehari-hari.

Di awal berdirinya hingga tahun 1966, barang dagangan di Pasar Triwindu masih bercampur antara onderdil sepeda motor/mobil, alat pertukangan, alat rumah tangga, dan sedikit barang antik.

Setelah dilanda banjir pada 1966, setelah berdiri Pasar Sumodilagan, barang-barang rongsokan/klitikan sudah tidak ada lagi.

Saat itu sudah ada barang-barang lama yang berkualitas namun belum bisa disebut sebagai barang antik.

Mulai tahun 1970-an, barang-barang lama tersebut berubah menjadi barang antik.

Barang antik didefinisikan sebagai barang yang mempunyai nilai cukup umur, atau lebih dari 50 tahun dan kondisinya masih bagus.

Saat masa kolonial Jepang Pasar Triwindu pernah menjadi salah satu pasar terpenting di Kota Solo.

Banyak bangsawan yang menjual benda-benda antik dan koleksi seni milik mereka dikarenakan keadaan ekonomi yang sulit.

Pada 1990-an, para pedagang di Pasar Triwindu mencoba membuat barang baru yang bermotif antik seperti mebel dari serenan dan Jepara, patung perunggu dari Mojoagung dan Trowulan Jawa Timur, Keramik dari Bandung, Dinoyo, Malang, Singkawang, dan Pontianak.

Selain itu juga membuat kerajinan kuningan dari Juwono, kerajinan perak dari Yogyakarta, besi cor dari Ceper Klaten, patung kayu dari Wonogiri, hingga keris dari Solo.

Pada 5 Juli 2008, Pasar Triwindu mengalami pemugaran mengikuti arsitektur budaya Solo.

Pasar Triwindu selesai dibangun kembali pada Agustus 2009.

Lahan yang tadinya kecil dibangun menjadi sebuah bangunan pasar bertingkat dua oleh Pemerintah Kota Solo.

Pasar Triwindu setelah direvitalisasi juga memiliki lahan parkir yang luas.

Di area parkir Pasar Triwindu sering digunakan sebagai kegiatan seni budaya, baik tingkat local, nasional, hingga internasional.

Berbagai kegiatan seni yang diadakan di antaranya seperti musik keroncong, musik jazz, dan wayang kulit.

Tidak jarang juga area ini digunakan sebagai ajang jamuan pembukaan kegiatan tingkat nasional hingga internasional yang diselenggarakan di Solo.

Pada 17 Juni 2011, Pasar Triwindu diresmikan oleh Wali Kota Surakarta saat itu, Joko Widodo.

Pasar Triwindu terdiri dari dua lantai dengan jumlah pedagang sekitar 200an.

Di Pasar Triwindu, pengunjung bisa menemukan barang-barang antik seperti uang koin dan kertas kuno keluaran tahun 1800an, topeng, piring kuno tahun 1960, keris, batik, hingga perkakas rumah tangga kuno.

Selain itu juga terdapat radio kuno, jam tangan bekas, patung, lampu hias kuno, dan mainan tradisional zaman dahulu.

Harga barang yang dijual di Pasar Triwindu bervariasi mulai dari ribuan hingga puluhan juta rupiah.

Pengunjung Pasar Triwindu sebagian besar adalah para kolektor barang langka dan kuno yang datang dari berbagai daerah Indonesia hingga mancanegara.

Selain menjadi tempat berburu barang kuno, Pasar Triwindu juga menjadi salah satu tujuan wisata.

Di Pasar Triwindu selalu diadakan tradisi pasar malam setiap Sabtu, yang kerap disebut dengan Night Market.

Night Market ini terbentang dari depan Pura Mangkunegaran hingga Jalan Slamet Riyadi dan dikenal sebagai Koridor Budaya Ngarsopuro.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Yonas)

ARTIKEL POPULER

Cara Cek Saldo BPJS Ketenagakerjaan dari HP Melalui Aplikasi BPJSTKU, Bisa Kapan Pun dan di Mana Pun

Cara Cek Nomor Telkomsel di HP

Cara Cek Nomor Indosat di HP

TONTON JUGA:

Editor: Sigit Ariyanto
Sumber: Tribunnews.com
Tags
   #Profil   #Pasar Triwindu   #Kota Solo
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved