Monumen Jogja Kembali (Monjali), Yogyakarta

Kamis, 13 Juni 2019 16:11 WIB
Tribunnews.com

TRIBUN-VIDEO.COM - Monumen Yogya Kembali atau Monjali mulai didirikan pada 29 Juni 1985 untuk memperingati kembalinya Yogyakarta sebagai Ibukota Republik Indonesia pada 6 Juli 1949.

Yogyakarta memang pernah menjadi Ibukota Indonesia pada kurun waktu 1946 sampai 1949.

Selama masa itu, banyak peristiwa-peristiwa penting yang kini dapat di lihat di Monumen Yogya Kembali.

Ketika Yogyakarta menjadi Ibukota Indonesia, Belanda sempat menduduki Yogyakarta lagi setelah melancarkan agresi militernya.

Namun pasca disetujuinya Perjanjian Roem Royen pada tanggal 29 Juni 1949, pasukan Belanda ditarik mundur ke luar Yogyakarta.

Setelah itu, TNI yang dipimpin oleh Jenderal Soedirman kemudian masuk ke Yogyakarta.

Peristiwa keluarnya tetnara Belanda dan masuknya TNI ke Yogyakarta inilah dikenal dengan Peristiwa Yogya Kembali.

Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta kemudian ke Yogyakarta pada tanggal 6 Juli 1949. (1)

Pembangunan Monumen Yogya Kembali pertama kali diinisiasi oleh Wali Kota yang menjabat saat itu, yaitu Kol. Sugiarto.

Usulan tersebut dinilai bagus dan disetujui oleh pemerintah untuk direalisasikan.

Pemilihan nama Monumen Yogya Kembali sendiri bertujuan untuk memudahkan dalam mengingat peristiwa kembalinya Yogyakarta sebagai Ibukota Indonesia saat itu.

Nama Monumen Yogya Kembali merupakan perlambang berfungsinya kembali Pemerintahan Republik Indonesia dan sebagai tetengger sejarah ditarik mundurnya tentara Belanda dari Ibukota Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949 dan kembalinya Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan petinggi lainnya pada tanggal 6 Juli 1949 di Yogyakarta.

Peletakan batu pertama dilakukan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX didampingi Sri Paku Alam VIII.

Pembangunan Monumen Yogya Kembali baru selesai setelah menjalani empat tahun masa pembangunan dan diresmikan oleh presiden kedua Indonesia, Soeharto pada 6 Juli 1989. (2)

Tata Letak Bangunan Monumen Yogya Kembali

Monumen Yogya Kembali berada di Dusun Jongkang, Desa Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman, Yogyakarta.

Monumen Yogya Kembali memiliki luas bangunan sekitar 49.000 meter persegi dengan bentuk bangunan yang cukup unik, yakni kerucut seperti gunung.

Bentuk kerucut setinggi 31,8 meter ini merepresentasikan Yogyakarta yang memiliki Gunung Merapi.

Letak Monumen Yogya Kembali sendiri ada di sumbu umajiner yang menghubungkan Merapi, Tugu, Keraton, Panggung Krapyak, dan Laut Selatan.

Titik imajiner pada Monumen Yogya Kembali dapat dilihat pada lantai tiga, tepatnya pada tempat berdirinya tiang bendera. (3)

Selain itu, ada juga pendapat bahwa bentuk kerucut memiliki arti sebagai kesuburan tanah Yogyakarta serta bentuk pelestarian budaya dan tradisi pada masa lampau.

Memasuki halaman utama Monumen Yogya Kembali, terdapat halaman luas yang biasa digunakan sebagai tempat berbagai pertunjukkan baik tradisional maupun modern.

Ada juga meriam yang cukup besar, yakni Meriam PSU Kaliber yang dibuat khusus oleh Rusia.

Tidak hanya meriam, ada juga replika Pesawat Guntai dan Cureng yang digunakan pahlawan saat itu untuk berjuang melawan Belanda.

Di dinding besar juga terdapat puisi karya Chairil Anwar yang berjudul Karawang – Bekasi.

Ada juga sekitar 420 nama pahlawan yang tertulis di dinding sebagai bentuk kebanggaan masyarakat Yogyakarta atas perjuangan pahlawan sejak 19 Desember 1948 sampai 29 Juni 1949.

Monumen Yogya Kembali dibagi menjadi tiga lantai. Lantai satu digunakan sebagai museum, perpustakaan, pujasera, serta auditorium.

Perpustakaan tersebut berisi berbagai referensi sejarah tentang perjuangan di Yogyakarta maupun di daerah lain secara umum.

Perpustakaan di sini bukan sekadar sebagai tempat penyimpanan dokumen, melainkan dapat digunakan juga oleh pengunjung untuk membaca.

Sementara itu, lantai dua terdapat diorama yang bercerita tentang perjungan para pahlawan dan masyarakat Yogyakarta dalam mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia saat penjajahan Belanda.

Diorama tersebut bercerita tentang peristiwa sejak Desember 1948 sampai Juli 1949 yang diawali dengan berlangsungnya Agresi Militer Belanda II yang mendarat di Yogyakarta.

Monumen Yogya Kembali Lantai 2

Ada juga cerita tentang penguasaan lapangan udara Adisucipto oleh Belanda yang dipimpin oleh Kapten Van langen.

Yang tidak kalah menarik, diceritakan juga kisah perjuangan Jenderal Soedirman dalam mempertahankan Kemerdekaan Indonesia meski tengah menderita sakit paru-paru.

Lantai tiga sendiri khusus dijadikan tempat untuk mendoakan jasa para pahlawan yang telah gugur dalam perjuangannya.

Di tengah ruangan, terdapat sebuah bendera merah putih.

Selama menyusuri tangga menuju lantai tiga, akan dijumpai juga relief-relief yang menceritakan kisah perjuangan para pahlawan.

Dalam relief ini, diceritakan sangat detail bagaimana Indonesia mempertahankan kemerdekaannya sejak 17 Agustus 1945 sampai benar-benar mendapat pengakuan dari dunia internasional pada 27 Desember 1949. (*)

(TribunnewsWIKI/Widi Pradana Riswan Hermawan)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Monumen Yogya Kembali

ARTIKEL POPULER:

Viral Penjual Rujak Cingur Kasih Harga Rp60 Ribu, Lontong Rp15 Ribu dan Es Teh Rp15 Ribu

Sempat Salah Tangkap, Polisi Kini Berhasil Ciduk Pria yang Ancam Bunuh Jokowi & Wiranto

Ayah Tendang Anaknya yang Berusia 11 Tahun karena Tak Diberi saat Meminta Uang THR Rp34 Ribu

Editor: Radifan Setiawan
Sumber: Tribunnews.com
Tags
   #Museum Monjali   #Monjali
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved