Profil

Tugu Golong Gilig (Tugu Pal Putih/Tugu Jogja)

Kamis, 13 Juni 2019 10:21 WIB
Tribunnews.com

TRIBUN-VIDEO.COM - Tugu Golong Gilig dibangun pada 1756, setahun setelah Yogyakarta berdiri.

Bentuk awal tugu ini tidak seperti sekarang, melainkan berupa silinder atau golong dalam Bahasa Jawa dengan puncak berupa bulatan atau dalam bahasa Jawa disebut gilig.

Dari bentuknya itulah tugu ini kemudian dinamai Tugu Golong Gilig.

Golong Gilig ini memiliki makna semangat persatuan antara rakyat dengan rajanya.

Selain itu, bentuk golong gilig ini juga memiliki filosofi Jawa Manunggaling Kawula Gusti, yang bukan hanya berarti menyatukan rakyat dengan penguasa, melainkan menyatukan manusia dengan kehendak Sang Pencipta.

Tugu Golong Gilig juga menjadi sumbu garis filosofis yang membentang lurus dari Gunung Merapi, Tugu Golong Gilig, Alun-alun Lor, Keraton Yogyakarta, Alun-alun Kidul, Panggung Krapyak, serta Laut Selatan. (1)

Sumbu filosofis ini melambangkan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan sesama manusia, serta manusia dengan alam semesta.

Dikutip dari Tribunjogja.com pada Rabu (12/6/2019), Panggung Krapyak ke utara hingga Kraton melambangkan manusia sejak bayi dari lahir, beranjak dewasa, berumah tangga, hingga melahirkan anak.

Sedangkan dari Tugu Golong Gilig ke Kraton melambangkan perjalanan manusia kembali ke Sang Pencipta.

Tugu Golong Gilig dan Panggung Krapyak juga merupakan simbol Lingga dan Yoni yang melambangkan kesuburan.

Sedangkan pusat dari sumbu filosofis tersebut adalah Keraton Yogyakarta.

Keraton Yogyakarta dianggap suci karena diapit enam buah sungai secara simetris, yakni sungai Code, Gajah Wong, Opak Winongo, dan Bedhog, dan sungai Progo. (2)

Kembali ke Tugu Golong Gilig, pada masa lalu, gilig pada puncak tugu biasa digunakan sebagai titik pandang ketika Sri Sultan melakukan meditasi di Bangsal Manguntur Tangkil.

Bangsal Manguntur Tangkil sendiri merupakan ruang tahta yang ada di Siti Hinggil Lor, pelataran keraton yang tanahnya ditinggikan.

Pada masa Belanda, orang-orang Belanda menyebut Tugu Golong Gilig dengan nama White Paal (tiang putih).

Karena itu, sampai sekarang masih banyak orang yang menyebut Tugu Golong Gilig dengan nama Tugu Pal Putih.

Pada 10 Juni 1867 atau 4 Safar tahun 1796 Jawa, saat masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VI, terjadi gempa tekntonik berkekuatan besar yang mengguncang Yogyakarta.

Gempa ini menyebabkan beberapa bangunan runtuh, termasuk Tugu Golong Gilig.

Pilar tugu patah sekitar sepertiga bagiannya. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan candra sengkala yang berbunyi Obah Trus Pitung Bumi (tujuh bumi terus berguncang).

Selama bertahun-tahun, Tugu Golong Gilig pun terbengkalai. Baru ketika masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII, tugu Golong Gilig dibangun kembali dan diresmikan pada 3 Oktober 1889.

Dalam renovasi ini, Tugu Golong Gilig mengalami beberapa perubahan bentuk, tidak lagi berbentuk golong dan gilig melainkan berbentuk persegi dan berujung lancip.

Konon, desain baru ini merupakan strategi Belanda untuk menghilangkan simbol kebersamaan raja dan rakyat yang ditunjukkan oleh desain tugu sebelumnya.

Pada desain bangunan yang baru tersebut, terdapat prasari di setiap sisi tugu yang merekam proses rekonstruksi Tugu Golong Gilig.

Di sisi barat terdapat prasasti yang berbunyi, “YASAN DALEM INGKANG SINUHUN KANJENG SULTAN HAMENGKUBUWANA KAPING VII”.

Prasasti ini menunjukkan bahwa tugu tersebut dibangun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana VII.

Di sisi timur terdapat prasasti yang berbunyi, “INGKANG MANGAYUBAGYA KARSA DALEM KANJENG TUWAN RESIDHEN Y. MULLEMESTER”.

Prasasti ini menyebutkan bahwa Y. Mullemester, Residen Yogyakarta waktu itu, menyambut baik pembangunan tugu tersebut.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah Belanda tidak terlibat dalam pendanaan.

Di sisi selatan terdapat prasasti yang berbunyi, “WIWARA HARJA MANGGALA PRAJA, KAPING VII SAPAR ALIP 1819”.

Wiwara Harja Manggala Praja merupakan sengkalan yang menandai selesainya pembangunan Tugu Golong Gilig yang baru.

Wiwara berarti gerbang, mewakili angka sembilan. Harja bermakna kemakmuran, mewakili angka satu. Manggala bermakna pemimpin, mewakili angka delapan. Sementara Prajabermakna negara, mewakili angka satu.

Dapat diartikan bahwa perjalanan menuju gerbang kemakmuran dimulai dari pemimpin negara.

Sengkalan ini menunjuk pada angka 1819, sesuai dengan tahun yang ditulis di bawahnya.

Di atas tulisan tersebut terdapat lambang padi dan kapas dengan tulisan HB VII, juga lambang mahkota Belanda di puncaknya.

Lambang ini adalah lambang resmi yang dipakai oleh Sri Sultan Hamengku Buwana VII.

Di sisi utara terdapat prasasti yang berbunyi, “PAKARYANIPUN SINEMBADAN PATIH DALEM KANJENG RADEN ADIPATI DANUREJA INGKANG KAPING V. KAUNDHAGEN DENING TUWAN YPF VAN BRUSSEL. OPSIHTER WATERSTAAT”.

Prasasti ini menyebutkan bahwa pelaksanaan pembangunan tugu dipimpin oleh Patih Danurejo V (1879-1899), dan arsitektur tugu dirancang oleh YPF Van Brussel, seorang petugas Dinas Pengairan Belanda yang bertugas di Yogyakarta.

Konstruksi tugu itu masih bertahan sampai sekarang, hanya ada pekerjaan yang bersifat perawatan dan penataan Kawasan disekelilingnya saja.

Tahun 2015, pemerintah setempat membangun sebuah miniatur Tugu Golong Gilig oada sudut perempatan sebelah tenggara tugu.

Miniatur ini dibangun sesuai desain awal dan dilengkapi dengan keterangan tentang sejarah pejalanan Tugu Golong Gilig.

Pembangunan miniatur ini dilakukan sebagai solusi bagi kebutuhan masyarakat yang ingn memahami sejarah dan falsafah bentuk tugu hasil rancangan pendiri Yogyakarta.

Sementara itu, tugu hasil rancangan orang Belanda kini menjadi bangunan cagar budaya sekaligus menjadi landmark kota Yogyakarta. (3)

(TribunnewsWIKI/Widi)

ARTIKEL POPULER

Cara Cek Saldo BPJS Ketenagakerjaan dari HP Melalui Aplikasi BPJSTKU, Bisa Kapan Pun dan di Mana Pun

Cara Cek Nomor Telkomsel di HP

Cara Cek Nomor Indosat di HP

TONTON JUGA:

Editor: Sigit Ariyanto
Sumber: Tribunnews.com
Tags
   #Profil   #Tugu Golong Gilig   #Tugu Jogja
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved