TRIBUNWIKI

Profil Umar Wirahadikusumah - Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia

Kamis, 23 Mei 2019 08:12 WIB
Tribunnews.com

TRIBUN-VIDEO.COM - Umar Wirahadikusumah merupakan anak kelima dari pasangan Raden Rangga Wirahadikusumah dan Raden Ratnaningrum.

Anak dari pasangan bangsawan ini lahir di Situraja, Sumedang, Jawa Barat pada 10 Oktober 1942.

Umar menghabiskan sebagian banyak hidupnya berkarir di dunia militer.

Puncak karier Umar adalah ketika menjabat sebagai Wakil Presiden RI mendampingi Presiden Soeharto pada 1983-1988).

Sebagai wakil presiden, Umar dikenal sebagai sosok yang taat beragama.

Di setiap Bulan Ramadan, Umar selalu mengadakan salat tarawih berjamaan di Istana Wakil Presiden.

Selain dikenal sebagai sosok yang taat beragama, Umar juga dikenal sebagai orang yang sederhana, tidak suka kemewahan.

Umar mengembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat TNI-AD Gatot Subroto, Jakarta Pusat sekitar pukul 07.53 WIB pada Jumat 21 Maret 2003.

Umar wafat setelah mendapat perawatan intensif selama dua minggu di rumah sakit.

Orang-orang terdekat Umar mengenalnya sebagai orang yang berkepribadian rendah hati, jujur, dan lebih banyak bekerja daripada berbicara.

Mantan wakil presiden RI ini juga dikenal bersih dari KKN.

Riwayat Karier

Karier Umar Wirahadikusumah di bidang kemiliteran dimulai sebagai Komandan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Cicalengka, Jawa Barat pada 1945.

Umar jugalah yang mendirikan TKR Cicalengka pada 1 September 1945.

Pada 1946 Umar menjadi Wakas Res. X Tasikmalaya dengan pangkat kapten.

Setelah itu Umar diangkat menjadi Ajudan Panglima Kodam (Pangdam) VI Siliwangi yang ketika itu dijabat oleh AH Nasution.

Kemudian pada 1947 Umar menjadi Dirlat di Garut dan Komandan Batalyon (Danyon) 1-U/III Cirebon.

Pada 1949, Umar dipercaya menjabat sebagai Danyon IV/Be XIII Solo, Komandan Komando Militer Kota (Dan KMK) Cirebon.

Kemudian menjabat sebagai Kas Ur Ex Knil Div Siliwangi pada 1950.

Pada 1951 menjabat sebagai Ka Su-II Div. Siliwangi, dilanjutkan sebagai Kas Brigif-L Cirebon pada 1952, Res XI/Cop Sektor A-1 pada 1952-1953, dan Inspektur Jenderal (Irjen) T dan TIII pada 1953-1954.

Umar juga sempat menjadi Pengganti Sementara (Pgs) Su.2 TT III pada 1954-1957.

Kemudian menjabat sebagai Dan Men 10-Dan RTP Sibolga dengan pangkat Letkol pada 1957.

Melalui Sibolga, Umar mendapat promosi jabatan sebagai Komandan Komando Militer Kota Besar (Dan KMKB) Jakarta Raya pada 1959.

Pada 1960, Umar menjabat sebagai Pejabat (Ps) Pangdam V/Jaya-I sampai menjadi Pangdam V/Jaya-1 pada 1961-1965.

Saat menjadi Pejabat (Ps) Pangdam V/Jaya-I, Umar memiliki pangkat kolonel dan naik menjadi Brigjen saat menjabat sebagai Pangdam V/Jaya-1.

Dalam masa jabatan sebagai Pangdam V/Jaya Umar juga ikut terlibat dalam penumpasan G-30-S/PKI.

Semasa berkariernya di dunia militer, Umar terlibat dalam banyak operasi militer.

Umar pernah terlibat dalam pelucutan senjata Jepang di Cicalengka/Tasikmalaya pada 1945, Kerusuhan “Merah” di Cirebon, Brebes, dan Tegal pada 1946-1947.

Selain itu juga pernah terlibat di Clash I pada 1947-1948, Wehr Kreise II/Daerah Gerilya III Kuningan Barat sebagai Komandan Batalyion I Brigade Cirebon pada 1947-1948.

Pada 1947, Umar mengikuti operasi penghancuran pasukan Sutan Akbar Ciniru/Kuningan.

Selama 1948-1950 mengikuti penumpasan Peristiwa Madiun sebagai Komandan Batalyon IV dengan pangkat Mayor, dilanjutkan Clash II sebagai Komandan Ko Troepen Long March Solo-Tasikmalaya Barat-Ciamis Utara pada 1948-1952, terlibat penumpasan Darul Islam (DI) Jawa Barat pada 1950-1952, dan terlibat penumpasan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Tapanuli pada 1958.

Umar berhasil membantu Panglima Kostrad Mayjen Soeharto dalam membekukan PKI.

Karena jasanya tersebut Umar diangkat menjadi Panglima Komando Strategi Tjadangan Angkatan Darat (Pangkostrad) pada 1965-1967 menggantikan Mayjen Soeharto.

Di tahun 1966 Umar diangkat menjadi Pangkolaga. Pengangkatan Umar menjadi Pangkogala hanya selisih beberapa bulan dengan diangkatnya Umar menjadi Panglima Komando.

Kariernya semakin melejit ketika dipercaya sebagai Wakil Panglima Angkatan Darat (Wapangad) pada 1967-1969.

Puncak karier militernya adalah saat menjabat sebagai Kepala Staf AD pada Desember 1969-April 1973.

Kariernya berpindah haluan ke pemerintahan ketika diangkat menjadi Ketua Badan Pengawas Keuangan (BPK).

Umar menjabat sebagai Ketua BPK selama sepuluh tahun pada 1973-1983.

Pada 1983, Umar terpilih sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia mendampingi Presiden Soeharto. Saat menjadi wakil presiden RI, Umar selalu mengadakan salat tarawih berjamaah di Istana Wakil Presiden.

Pada 1988 Umar mundur dari jabatannya sebagai wakil presiden.

Mantan Ketua BPK ini meninggal di usianya 79 tahun di Rumah Sakit Pusat TNI-AD Gatot Subroto, Jakarta Pusat pada Jumat, 21 Maret 2003.

Setelah dimandikan, sekitar pukul 12.00 WIB jenazah Umar dibawa ke Masjid Istiqlal untuk disalatkan.

Tepat pukul 13.00 WIB jenazah tiba di kediaman Umar di Jalan Teuku Umar No 61 Jakarta Pusat.

Jenazah Umar dimakamkan sore harinya di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan pukul 16.00 WIB.

Pemakaman dilakukan dengan upacara militer yang dipimpin oleh mantan Wapres Jenderal (Purn) Try Sutrisno dan komandan upacara Kolonel Tisna Komara (Asisten Intelijen Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat/Kostrad).

Beberapa tokoh yang menghadiri pemakaman Umar di antaranya mantan Presiden Soeharto, Presiden Megawati Soekarnoputri, Wapres Hamzah Haz, mantan Presiden ke-3 RI BJ Habibie, Mantan Wakil Presiden (Wapres) Sudharmono, Menko Kesra Jusuf Kalla, KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu, KSAL Laksamana Bernard Kent Sondakh, Kepala Polri Jenderal (Pol) Dai Bachtiar, Pangkostrad Letjen Bibit Waluyo, Pangdam Jaya Mayjen Djoko Santoso, dan Kepala BIN Hendropriyono.

Upacara pelepasan jenazah di rumah duka dipimpin oleh KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu dengan komandan upacara Kolonel M Nizam (Asisten Perencanaan Kostrad).

Umar wafat setelah mengidap penyakit jantung selama 13 tahun dan telah menjalani operasi by pass jantung di Herz Und Diabetes Zentrum, Jerman pada 1989.

Kesehatannya membaik pasca menjalani operasi. Namun pada 2002, jantung mantan wakil presiden ini harus kembali menjalani perawatan di Jerman.

Keadaannya berangsur-angsur melemah setelah kembali dari Jerman. Umar harus menjalani home care karena daya pompa jantungnya yang melemah dan adanya bendungan di paru-paru sehingga menyebabkan Umar sesak napas.

Pada 5 Maret 2003, Umar dilarikan ke RSPAD dan dirawat di pavilion Kartika. 8 Maret 2003, Umar dipindahkan ke ruang ICU sampai menghembuskan nafas terakhirnya.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul TRIBUNNEWSWIKI: Jenderal TNI (Purn) Umar Wirahadikusumah

ARTIKEL POPULER:

Benarkah Mie Ayam Tugu Lilin Pajang Solo Pakai Pesugihan Pocong? Yuk Mampir ke Warungnya

Cara Mudah Membuat QR Code Lokasi untuk Undangan Pernikahan via Smartphone (Android/iOS)

Polisi Tangkap 12 Tersangka Baru Kerusuhan 22 Mei, Total 257 Tersangka

TONTON JUGA:

Editor: fajri digit sholikhawan
Sumber: Tribunnews.com
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved