Psikolog ULM Firdha Yuserina: Senang Melihat Klien Tersenyum

Senin, 20 Mei 2019 11:37 WIB
Banjarmasin Post

TRIBUN-VIDEO.COM - Layaknya dokter, menjalankan profesi sebagai seorang psikolog tentunya juga berkompeten untuk mengobati seorang klien (pasien).

Namun yang sedikit membedakan, dokter memberikan pengobatan secara medis sedangkan psikolog lebih condong berupa terapi bimbingan atau juga konsultasi-konsultasi.

Dan bisa menyembuhkan seorang klien yang datang dengan beragam permasalahan ini pula, menjadi hal menyenangkan sekaligus membanggakan yang dirasakan oleh seorang psikolog di Banua yang bernama Firdha Yuserina ini.

Profesi ini sudah ditekuni oleh perempuan cantik berkerudung ini, kurang lebih sekitar tiga tahun terakhir

"Menyenangkan sekali bila berhasil membantu orang (klien) mengurangi bebannya apalagi bisa sembuh," kata Ida yang bertugas di Unit Konsultasi Pelayanan Psikologi (UKPP) Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini.

Ida ini termasuk sebagai psikolog klinis, dan lebih berkonsentrasi kepada anak. Sehingga kliennya pun kebanyakannya adalah anak-anak pula.

"Kebanyakannya anak-anak, misalnya ke minat dan bakatnya, kesiapan masuk sekolah, dan kesulitan belajar. Kadang ada juga klien anak berkebutuhan khusus," katanya.

Terkait klien anak berkebutuhan khusus, Ida pun menerangkan ada tantangan tersendiri karena tak jarang juga disertai memberikan dukungan mental kepada orangtuanya.

"Kalau untuk anak berkebutuhan khusus (disabilitas), biasanya kita akan bantu mencari minat dan bakatnya. Dan orangtua juga harus dibantu penguatan mental, belum lagi jika ada komentar-komentar negatif orang di sekitarnya sehingga harus diberikan dukungan," jelasnya.

Meskipun konsentrasi ke anak, namun tak jarang juga Ida menangani klien lainnya untuk menjalani test atau juga dikenal dengan istilah psikotes.

"Bisa juga untuk tes minat bakat untuk masuk kerja, psikotes assesment untuk perusahaan swasta hingga pemerintah dan sebagainya," katanya.

Selain bertugas di UKPP Fakultas Kedokteran ULM, Ida pun juga kerap menangani klien jika memang tenaganya diperlukan.

"Kadang untuk rumah sakit swasta tidak ada psikolog tetapnya, jadi kalau ada klien dan saya diperlukan biasanya dihubungi oleh pihak rumah sakit. Biasanya dalam satu bulan selalu saja ada klien yang didapat melalui rumah sakit ini," katanya.

Disinggung mengenai awal mulanya menjadi psikolog, Ida pun menerangkan karena arahan dari orangtuanya.

"Awalnya saya mendaftar masuk kuliah dokter, tapi tidak lulus. Kemudian orangtua menyarangkan kenapa tidak juruan psikologi saja, kan itu juga kerjanya mengobati orang. Jadi saya pun akhirnya ngambil jurusan psikologi," katanya.

Setelah menempuh pendidikan kurang lebih 3,5 tahun, Ida pun lulus dari jurusan psikologi ULM pada 2013.

Selanjutnya Ida menempuh pendidikan S2 dengan jurusan Magister Profesi Psikologi Universitas Gajah Mada dan lulus pada 2016.

"Setelah lulus S2, baru saya mendapat gelar psikolog tersebut," terangnya.

Meskipun bukan seperti tujuan awalnya menjadi seorang dokter, namun Ida pun ternyata begitu menikmati pekerjaan sebagai seorang psikolog ini.

"Setelah saya menjalani, ternyata sangat menyenangkan makanya saya pun sangat enjoy," pungkasnya.(banjarmasinpost.co.id/Frans)

Editor: Novri Eka Putra
Sumber: Banjarmasin Post
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved