Terkini Daerah

Sering Protes Kebijakan Kepala Sekolah, Siswa SMA di Lombok Berperingkat 2 Tidak Diluluskan

Kamis, 16 Mei 2019 20:33 WIB
Kompas.com

TRIBUN-VIDEO.COM - Seorang siswa tidak lulus sekolah diduga karena mengkritik kebijakan sekolah.

Dikutip dari Kompas.com, Aldi Irpan siswa kelas XII jurusan IPS SMAN 1 Sembalun dinyatakan tak lulus walaupun mendapat peringkat dua di jurusannya dengan total nilai 192, Senin (13/52019) lalu.

Aldi mengatakan dirinya tidak diluluskan karena dianggap tidak menurut dan mengkritik kebijakan kepala sekolah.

"Saya tidak lulus, karena dianggap terlalu berani melawan kebijakan kepala sekolah. Saya dianggap tidak menurut. Itu alasan kepala sekolah tidak meluluskan saya," kata Aldi, Kamis (16/5/2019).

Ia mengatakan berawal dari temannya, Holikul Amin, yang menggunakan jaket di lingkungan sekolah dan dianggap telah melanggar peraturan sekolah.

Kepala sekolah kemudian memukul dan melempar bak sampah ke Holikul Amin karena memakai jaket di lingkungan sekolah.

Dia melontarkan protes lewat wali kelas dan guru karena saat itu cuaca Sembalun yang berada di bawah kaki Gunung Rinjani sangat dingin.

"Padahal ketika itu kawan saya sudah lepas jaketnya di parkiran sekolah, malah dipukul dan dilempar bak sampah. Banyak kebijakan kepala sekolah yang tidak sesuai dan tidak adil, tetapi kawan-kawan saya tidak berani mengutarakan. Saya berani mengutarakannya demi kawan-kawan saya," kata Aldi.

Aldi juga protes karena para siswa yang telat kemudian dipulangkan dan dicurahkan melalui Facebook-nya.

Dia mengatakan banyak siswa yang terlambat karena terjadi longsor saat musim hujan.

Selain itu, mereka juga harus berjalan kaki di jalan yang becek dan licin, serta jalan yang rusak karena proyek pelebaran jalan.

"Kami siswa SMAN 1 Sembalun tolong hargailah perjuangan kami, kami ingin sekolah untuk masa depan kami agar kami bisa membahagiakan kedua orangtua kami pendidikan diperuntukkan untuk siswa bukan untuk dipersulit, tolong lihatlah perjuangan kami..... Salam Demokrasi"

Lantaran statusnya tersebut, dia dan beberapa temannya dipanggil oleh kepala sekolah untuk menjelaskannya.

Dia kemudian menyampaikan protes yang selama ini telah dia ungkapkan langsung di hadapan kepala sekolah.

"Kepala sekolah meminta saya mengumpulkan seluruh siswa yang setuju dengan pendapat saya. Jika banyak siswa yang setuju dengan saya dan bersedia berkumpul, kepala sekolah akan mengubah kebijakannya," kata Aldi.

Aldi pun berhasil mengumpulkan 200 teman-temannya, tetapi kepala sekolah tak menepati janji dan malah memojokkannya di hadapan seluruh siswa dan guru.

Dia juga pernah dimarahi seorang guru karena menggunakan baju hitam putih saat try out dan langsung diminta untuk pulang pada Senin (6/5/2019).

Ia mengaku baju basah karena hujan dan menolak pulang lalu menanyakan seragam guru BP yang juga tidak sesuai aturan.

Karena protes, Aldi pun dipecat dari sekolahan setelah pihak sekolah menggelar rapat.

Aldi kemudian dipanggil ke kepala sekolah dan ditanya keinginannya.

Ia pun menjawab bahwa menginginkan peraturan sekolah diubah dan kepala sekolah malah mengancam tak akan meluluskannya.

"Saya akan dibiayai jika mau pindah sekolah. Tapi saya menolak tetap tidak mau karena saya akan ujian. Kepala Sekolah mengancam tidak akan meluluskan. Saya tetap menolak. Kepala Sekolah akhirnya mengatakan terserah kamu, saya sudah menyerah," tutur Aldi.

Sebelumnya pihak sekolah sudah mengutus dua guru ke rumah Aldi jika ingin lulus sekolah maka Aldi dan orangtuanya harus minta maaf ke pihak sekolah.

"Kepala sekolah justru sebut permintaan maaf itu tidak diterima karena dilakukan di hari Minggu bukan jam kerja. Begitu kata kepala sekolah dan adik saya tetap dinyatakan tidak lulus karena keputusan kepala sekolah. Guru-gurunya banyak yang nangis karena tahu Aldi anak baik dan peringkat dua di jurusannya," kata kakak ipar Aldi, Rusman.

Orangtua Aldi tidak bisa berbuat apa-apa dan berharap Aldi bisa dinyatakan lulus untuk melanjutkan kejenjang selanjutnya.

Sementara itu, organisasi Aliansi Gerakan Reforma Agraria (Agra), Serikat Perempuan Indonesia (Seruni), dan Pembaru mendamping Aldi dan sempat melakukan pertemuan dengan kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru kurikulum, tim kesiswaan dan BP pada Rabu (14/5/2019).

Tetapi kepala sekolah tidak mau mencabut keputusannya karena dianggap Aldi dan keluarga tidak pernah meminta maaf. (Kompas.com/Tribun Video)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Protes Kebijakan Kepala Sekolah, Siswa SMAN 1 Sembalun Lombok Tidak Diluluskan

ARTIKEL POPULER:

Cara Mengulang Video di YouTube secara Otomatis, Berikut Langkah Mudahnya!

DIARY CLOUDRUN: Awal Puasa Ramadan Tanpa Orangtua, Teringat Kenakalan Remaja, dan Permintaan Maaf

BERKAH RAMADAN - Bulan Ramadan dan Solidaritas Sosial

 

TONTON JUGA:

Editor: Radifan Setiawan
Reporter: Aprilia Saraswati
Video Production: Ramadhan Aji Prakoso
Sumber: Kompas.com
Tags
   #sembalun   #tanah longsor
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved