Bisnis Migas Ada Untung Rugi, Karen Agustiawan Nyatakan Tak Layak Diproses Hukum

Kamis, 16 Mei 2019 14:03 WIB
Tribunnews.com

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Glery Lazuardi

TRIBUN-VIDEO.COM - Mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Karen Agustiawan, menjalani sidang pemeriksaan terdakwa atas kasus korupsi investasi di Blok Baskar Manta Gummy (BMG), Australia 2009.

Sidang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, pada Kamis (16/5/2019). Karen menegaskan, selama persidangan Jaksa Penuntut Umum (JPU) tidak dapat membuktikan dugaan kasus korupsi pada saat melakukan investasi tersebut.

"Telah dibuktikan dakwaan-dakwaan sudah patah. Misalnya dakwaan yang menyatakan akuisisi tidak melalui kajian atau kajian diabaikan. Padahal, kemarin berdasarkan keterangan saksi dan dokumen yang ada telah dibuktikan seluruh temuan dari hasil kajian telah dimasukkan ke dalam perjanjian," kata Karen di persidangan.

Dia menjelaskan, untuk akuisisi blok BMG sudah ada persetujuan dari komisaris PT Pertamina. Menurut dia, komisaris sudah bertindak diluar ketentuan internal Pertamina dengan mengeluarkan surat persetujuan dan pada saat direksi sudah menandatangani surat persetujuan, tiba-tiba komisaris menyatakan keberatan.

Menurut dia, perbedaan pendapat antara komisaris dan direksi itu seharusnya sudah tidak menjadi persoalan. Hal ini, kata dia, karena pada akhirnya pemegang saham yaitu menteri BUMN sudah memberikan pembebasan tanggungjawab.

"Jadi, yang lucu ketika pemegang saham atau yang mempunyai rumah tangga sudah bilang ok, eh sembilan tahun kemudian ada warga tetangga datang dan ngomel-ngomel," kata dia.

Direktur Utama Pertamina periode 2009-2014 itu mengungkapkan pada periode kepemimpinannya, PT Pertamina mendapatkan keuntungan. Sehingga, dia mempertanyakan, dakwaan jaksa yang menyebutkannya merugikan negara.

Dia menegaskan, pada bisnis hulu dan migas (migas) terdapat untung dan rugi. Dia menilai, untung dan rugi di dalam bisnis itu merupakan hal yang biasa dan termasuk dalam risiko bisnis.

"Bisnis pasti ada untung ada rugi. Pertamina pada zaman saya tidak pernah mengalami kerugian. Malah kian meningkat dari tahun ke tahun. Kecuali ada yang menerima uang suap, oke, merugikan negara. Orang sampai sekarang dalam dakwaan maupun persidangan tidak ada pembicaran masalah aliran uang yang diterima para tersangka. Jadi dimana korupsinya?" tanya dia.

Atas dasar itu, dia berharap kepada JPU dan majelis hakim agar dapat membuat keputusan yang seadil-adilnya.

"Saya hanya berharap baik JPU dalam membuat tuntutan maupun majelis yang saya muliakan dalam menentukan putusan dapat dibersihkan hatinya sehingga apapun yang dilakukan sesuai fakta persidangan," tambahnya.

Sementara itu, Ahli & Praktisi Industri Migas, Hilmi Panigoro, memandang apa yang terjadi pada Karen merupakan bagian dari risiko bisnis. Dia menegaskan, tidak ada kesengajaan merugikan negara pada saat melakukan bisnis.

"Pure (Murni,-red) risiko bisnis, yang umum dihadapi oleh korporasi. Saya kira tidak ada, tidak ada bisnis yang mau diturunkan," kata dia.

Dia menilai, upaya proses hukum terhadap langkah akuisisi blok migas dapat menimbulkan preseden buruk.

"Saya pikir ini juga memberikan preseden buruk, bahwa keputusan aksi korporasi bisa berakhir di ranah pidana, kecuali kalau ada fraud, ada conflict of interest untuk hal lain. Dengan good faith, kegagalan itu bisa diterima," tambahnya.(*)

Editor: Novri Eka Putra
Reporter: Glery Lazuardi
Videografer: Glery Lazuardi
Video Production: Novri Eka Putra
Sumber: Tribunnews.com
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved