Terkini Daerah

Erijadi Sebut Ada Pelanggaran HAM, Forum Rehabilitasi Napza Layangkan Surat

Rabu, 27 Februari 2019 12:36 WIB
Tribun Bali

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Forum Rehabilitasi Napza (Narkoba, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya) Bali melayangkan surat terbuka kepada Kepolisian Resor Kota Denpasar, Selasa (26/2).

Surat terbuka tersebut mempertanyakan dasar hukum kepolisian mempertontonkan 23 tersangka penyalahgunaan narkoba di depan masyarakat umum bertepatan dengan car free day di Patung Anti Premanisme dan Narkotika, Monumen Bajra Sandhi Renon, Denpasar, Minggu (24/2).

Ketua Forum Rehabilitasi Napza, Erijadi Sulaeman, menyebutkan surat terbuka ini merupakan respons atas kebijakan Polresta Denpasar yang mempertontonkan 23 tersangka penyalahgunaan narkoba di depan masyarakat umum.

Erijadi menyatakan pers rilis yang dilakukan di depan masyarakat umum terhadap para tersangka penyalahgunaan narkoba hanya terjadi di Bali.

"Kalau khususnya di Bali katanya ini sudah terjadi lebih dari dua kali atau tiga kali. Tetapi beberapa waktu sebelumnya pers rilisnya di lapangan terbuka itu isunya tidak spesifik. Campur-campur. Ada yang napza, kriminal, dan lainnya. Tetapi yang terakhir ini adalah memang spesifik kepada penyalahgunaan napza," ungkapnya di Sidakarya, Denpasar, Selasa (26/2).

Diberitakan sebelumnya, Polresta Denpasar menunjukkan 23 tersangka kasus narkotika yang ditangkap Sat Resnarkoba Polresta Denpasar bersama CTOC Polda Bali pada tiga minggu terakhir di Monumen Bajra Sandhi Renon, Minggu (24/2), Para tersangka menggunakan pakaian tahanan kepolisian, dengan tangan dan khaki diborgol dan dirantai besi.

"Di Indonesia seingat saya belum ada seperti ini. Dilakukan di tempat umum dengan dijaga aparat bersenjata, rantai lengkap, kemudian tangan dan kaki diborgol. Jadi saya secara pribadi dan forum sekali lagi kurang bersimpati dengan cara yang dilakukan ini," ungkap Erijadi.

Selain itu, pihaknya juga menduga adanya pelanggaran hak asasi manusia (HAM) terhadap para tersangka penyalahgunaan narkoba dalam pers rilis di Renon tersebut.

"Karena kita selalu kalau dari hukum ya ada aturan yang sudah mengikat bagaimana prosedur seseorang tertangkap, bagaimana nanti ke keputusan pengadilan. Jadi sepertinya begitu. Ada kecerendungan pelanggaran hak asasi yang dilakukan," ujarnya.

Karena itulah, Forum Rehabilitasi Napza Bali melayangkan surat terbuka kepada Polresta Denpasar. Tujuannya untuk mempertanyakan dasar hukum kepolisian mempertontonkan 23 tersangka penyalahgunaan narkoba di depan masyarakat umum.

Di sisi lain, forum ini juga mengajak kepolisian untuk mencari cara yang lebih elegan dan cerdas serta solusi yang lebih baik terhadap penyalahgunaan napza khususnya di Bali.

"Ayolah kita cari cara yang lebih elegan, yang lebih cerdas, dan mencari solusi yang lebih baik untuk penyalahgunaan napza mereka. Agar mereka tidak menjadi traumatis setelahnya. Kemudian kewibawaan polisi dalam penegakan hukum tidak berkurang," ajaknya.

Tiga Pertanyaan

Dalam surat terbukanya ke Polresta Denpasar, Forum Rehabilitasi Napza Bali pertanyakan tiga hal.

Pertama, tentang dasar hukum kepolisian dalam melakukan atau menunjukkan ke 23 pelaku penyalahgunaan narkoba di Renon pada car free day, Minggu (24/2) lalu.

Kedua, mempertanyakan ada atau tidaknya tindakan penangkapan dan penahanan tersebut bertentangan dengan aturan yang mengikat kepolisian sebagai aparatur penegak hukum.

Ketiga, mempertanyakan tindakan yang dilakukan oleh kepolisian bertentangan dengan asas "Praduga Tak Bersalah".

Seorang anggota Forum Rehabilitas Napza Bali, Yayuk Fatmawati, meminta Kapolresta Denpasar Kombes Pol Ruddi Setiawan memberikan jawaban secara terbuka terhadap tiga pertanyaan tersebut.

"Memang kita kemarin sepakat untuk menyampaikan kepada kepolisian dasar hukum mereka apa. Jadi kalau ada pelanggaran HAM atau tidak kita menunggu jawaban terbuka dari Pak Kapolresta," ungkapnya.

“Jadi itu target utamanya. Sengaja surat ini kami layangkan terbuka supaya harapan kami ada jawaban. Karena kami meminta jawaban Bapak Kapolresta Denpasar secara terbuka juga terkait tiga pertanyaan kami tersebut," imbuhnya.

Yang menarik, surat terbuka yang dilayangkan oleh Forum Rehabilitasi Napza Bali kepada Polresta Denpasar hanya akan dinaikkan di media sosial Instagram dengan menandai akun resmi Polresta Denpsar.

"Surat terbuka ini tidak kita kirimkan langsung ke Polresta Denpasar karena nanti tidak terbuka lagi suratnya. Biar masyarakat juga melihat," ungkap anggota Forum Rehabilitasi Napza Bali lainnya, Novian Hariawan.

Forum Rehabilitasi Napza Bali terdiri dari Ikatan Konselor Adiksi Indonesia (IKAI Provinsi Bali), Yayasan Kesehatan Bali (Yakeba), Yayasan Generasi Bisa (Gerasa), Yakita Bali, Yayasan Anargya, Yayasan Bali Mercusuar, Ikatan Korban Napza (IKON Bali), Jaringan Indonesia Positif (JIP) Provinsi Bali dan Perempuan Tangguh Inspirasi Wahana Imbas Napza (Pertiwi Bali) yang tergerak untuk melayangkan surat terbuka kepada Polresta Denpasar.

Masyarakat Biar Tahu

Sementara itu, pada saat pers rilis di Renon tersebut, Kapolresta Denpasar, Kombes Pol Ruddi Setiawan, mengatakan kebijakan ini dilakukan supaya masyarakat bisa mengetahui para tersangka narkotika yang tertangkap dan jenis narkotika yang diamankan Sat Resnarkoba Polresta Denpasar.

"Kami rilis di Renon, di bawah patung anti premanisme dan narkotika ini, supaya masyarakat semua yang hadir di Lapangan Renon ini bisa mengetahui para pelaku narkoba dan masyarakat bisa tahu, ini loh narkoba-narkoba jenis sabu, ganja gorila dan ekstasi," ujar Ruddi.

Para tersangka juga ditunjukkan agar masyarakat juga tidak berkeinginan untuk menggunakan barang haram tersebut. "Supaya masyarakat jangan sampai tergoda atau berkeinginan untuk membeli narkoba, jadi kita kenakan mereka ini sanksi pidana yang berlaku," katanya.

Berdasarkan laporan Sat Resnarkoba Polresta Denpasar, ke-23 tersangka yang dipamerkan di Renon tersebut merupakan pengguna, pengedar, kurir (narkoba), dan bandar (tembakau gorila).

Sebanyak 10 tersangka berasal dari Jawa, 1 orang dari Sulawesi, 1 dari Sumatera, dan 11 orang berasal dari Bali.
Barang bukti narkotika yang dibawa oleh tersangka seperti jenis sabu seberat 406,94 gram, ekstasi sebanyak 232 1/2 butir, tembakau gorila seberat 448,92 gram dan heroin seberat 77,70 gram.

Dikonfirmasi terpisah, Selasa (26/2) kemarin, Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Bali, Brigadir Jenderal Polisi Putu Gede Suastawa, tidak mau berkomentar terlalu jauh terhadap kebijakan Polresta.

Ditanya perihal aspek rehabilitasi, efektif tidaknya efek jera oleh Polresta Denpasar melalui cara rilis tindak kasus di ruang publik ini juga tidak bisa ia komentari lebih jauh. Menurutnya, hal ini adalah kebijakan instansi.

Suastawa mengaku tidak bisa mencampuri terlalu jauh soal kebijakan instansi. Ia hanya mengungkapkan keyakinannya pada Polresta sudah memiliki maksud dan tujuan tertentu.

''Saya tidak mengatakan mendukung atau tidak, efektif atau tidak. Pokoknya kami yakin pasti dia (Polresta, red) punya maksud dan tujuan tertentu di balik itu," tegasnya berulang-ulang. (ana/azm)

Artikel ini telah tayang di tribun-bali.com dengan judul Hanya di Bali Penyalahguna Narkoba Dipamer di Depan Umum, Erijadi Sebut Ada Pelanggaran HAM

ARTIKEL POPULER:

Baca: Dewi Sandra Ungkap Dua Momen saat Merasa Dirinya Sangat Cantik: Pokoknya Kebersihan Itu Nomor Satu

Baca: Link Live Streaming AFC Cup Home United Vs PSM Makassar, Rabu Pukul 18.30 WIB

Baca: Link Live Streaming Bigmatch: Chelsea Vs Tottenham Hotspur, Kamis Pukul 03.00 WIB

TONTON JUGA:

Editor: Tri Hantoro
Sumber: Tribun Bali
Tags
   #pelanggaran HAM   #Bali
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved