Pengacara Pemprov Papua Sebut Pegawai KPK Tidak Alami Pipi Robek dan Hidung Patah

Senin, 11 Februari 2019 15:47 WIB
Warta Kota

TRIBUN-VIDEO.COM - Kuasa Hukum Pemprov Papua Stefanus Roy Rening mengatakan menyangkut substansi dugaan penganiayaan pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pihaknya juga datang mengecek laporan dugaan penganiayaan pegawai KPK yang di sejumlah media disebutkan bahwa korban mengalami penganiayaan muka robek dan hidung patah.

"Kami memperlihatkan foto yang kami ambil saat dua pengawai KPK itu kami bawa ke Polda Metro Jaya. Di foto tidak ada tanda penganiayaan terhadap dua pegawai KPK itu oleh pegawai Pemprov Papua, yang katanya ada pegawai KPK yang pipinya robek dan hidung patah. Tapi ini biar gambar yang bicara," kata Roy sambil menunjukkan gambar yang diperlihatk ke penyidik ke hadapan wartawan, Senin (11/2/2019).

"Inilah gambar yang diambil jam 4 pagi, hari Minggu di Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Di gambar tidak ada tanda-tanda kekerasan fisik apalagi pipi robek hidung patah," katanya.

Karenanya Roy meminta KPK jujur dalam kasus ini dan tidak menggeser isu.

"Saya berharap KPK jangan menggeser isu kegagalan mereka melakukan OTT terhadap Gubernur Papua dengan dugaan penganiayaan. KPK harus menjawab dan mempertanggungjawankan ini. Dia mau melakukan OTT tapi dia gagal," kata Roy.

Sehingga kata Roy, KPK menggeser isu menjadi dugaan penganiayaan yang dialami pegawainya. "Pimpinan KPk harus menjelaskan secara transparan dan terbuka. Jangan sampai KPK dipakai sebagai alat politik untuk melakukan kriminalisasi terhadap pejabat daerah," kata Roy.

Indikasi kriminalisasi kata Roy adalah setelah ditemukan handpohne dari saudara Wicaksono selaku penyelidik KPK ada grup WhatsApp di sana yang bernama Bubar dan merupakan singkatan dari Buruan Baru.

"Ada WA grup namanya Bubar, atau Buruan Baru. Disitu tanda-tanda kuat mereka lakukan OTT namun gagal," katanya.

Sebelumnya Roy Rening memastikan bahwa Sespri Gubernur Papua tidak dapat memenuhi panggilan penyidik Polda Metro Jaya untuk diperiksa sebagai saksi, Senin (11/2/2019) hari ini, dalam kasus penganiayaan pegawai KPK di Hotel Borobudur Papua.

Hal itu diungkapkan Roy usai bertemu penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Senin (11/2/2019).

"Kami menyampaikan ke penyidik Subdit Jatanras Ditreskrimum bahwa karena sesuatu hal Sespri Gubernur Papua tidak bisa hadir penuhi panggilan penyidik hari ini. Karena beliau harus mendampingi Gubernur yang baru tiba dari Surabaya," kata Roy.

Oleh karena itu, kata Roy, pihaknya meminta pemeriksaan ditunda sampai waktu yang belum ditentukan. "Kami meminta pemeriksaan ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan," katanya.

Selain sespri, Gubernur Papua, Roy mengatakan pihaknya juga menyampaikan ke penyidik bahwa saksi lain yang dipanggil yang semuanya pejabat di Pemprov Papua tidak dapat memenuhi panggilan penyidik hari ini.

"Karena saksi dari kami ini bukan satu tapi ada 20 orang, maka kami meminta penyidik mempertimbangkan agar pemeriksaan saksi yang semuanya pejabat Pemprov Papua ini dilakukan di Jayapura," kata Roy.

Roy menjelaskan semua saksi pihaknga adalah pejabat di Papua mulai dari Kepala Dinas dan staf di Pemprov Papua, anggota DPRD Papua, Sekda Papua, dan lain sebagainya.

"Oleh karena itu kami mengusulkan pemeriksaan dilakukan penyidik di Jayapura. Tapi belum dijawab karena penyidik masih berkordinasi dengan pimpinan," kata Roy.

Sebelumnya Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan untuk penyidikan kasus dugaan penganiayaan penyelidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Hotel Borobudur beberapa waktu lalu, pihaknya kini sudah memeriksa dan meminta keterangan 5 saksi.

"Kelima saksi itu 3 orang adalah sekuriti hotel, satu orang dari CVR CCTV hotel serta satu orang resepsionis," kata Argo di Mapolda Metro Jaya, Kamis.(7/2/2019).

Keterangan mereka katanya akan dicocokkan dengan hasil analisa CCTV hotel yang saat ini sedang diperiksa dan dianalisis di Puslabfor Mabes Polri.

"Kami juga terus berkomunikasi dan berkordinasi dengan KPK untuk dapat memeriksa kembali penyelidik KPK yang merupakan korban dan pelapornya," kata Argo.

Sebelumnya Argo menjelaskan dugaan penganiayaan yang dialami penyelidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Sabtu (2/2/2019) malam, diduga dilakukan 10 orang.

Hal itu kata Argo berdasarkan laporan yang dilakukan saksi dan korban ke Polda Metro Jaya, pada Minggu (3/2/2019) pukul 14.30.

Karenanya kata Argo dalam laporannya, polisi memasukkan Pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan serta Pasal 211 KUHP dan Pasal 212 KUHP tentang melawan dan menghalangi tugas aparatur negara yang dapat dikenakan ke para pelaku.

Menurut Argo dalam laporan disebutkan bahwa pelapor adalah Indra Matong dan korban adalah Muhamad Gilang Wicaksono, penyelidik KPK yang mengalami retak pada hidung, luka memar dan sobek di bagian wajah.(bum)

Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul VIDEO: Pengacara Pemprov Papua Sebut Gilang Pegawai KPK Tidak Alami Pipi Robek dan Hidung Patah

Editor: Novri Eka Putra
Sumber: Warta Kota
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved