Terkini Daerah
Kelompok Tani Akar Tani Makmur di Kudus Panen Perdana Padi Organik
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Rifqi Gozali
TRIBUN-VIDEO.COM, KUDUS – 30 petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Akar Tani Makmur memanen hasil padi organiknya.
Panen perdana dilakukan di Desa Bae, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Senin (28/1/2019).
Panen ini menandai berhasilnya program yang digalakkan Akar Tani Makmur yang didukung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melaui Program Pendidikan dan Kecakapan Wirausaha Unggulan (PKWU).
Tukimin (38) petani pada kelompok itu mengatakan, ini merupakan kali pertama dia menanam padi organik.
Hasilnya dinilai lebih melimpah daripada padi non organik yang sebelumnya dia tanam.
“Bulirnya serta rumpunnya lebih banyak daripada padi non organik. Padinya juga kuat batangnya lebih besar,” kata Tukimin, petani asal Desa Purworejo, Kecamatan Bae itu.
Sejak tanam, katanya, sama sekali tidak menggunakan bahan kimia.
Baik itu pupuk kimia maupun pestisida.
Selama perawatan juga gunakan cara alami, yaitu memanfaatkan bonggol pisang yang telah diolah saat masa pertumbuhan padi.
“Kalau ada hama, kami kaji atau konsultasikan bersama dengan petani organik lainnya. Kami biasa berkumpul selama seminggu sekali, itu namanya sekolah lapang,” katanya.
Bupati Kudus Muhammad Tamzil mengatakan, pertanian organik yang saat ini digalakkan Akar Tani Makmur bisa menjadi percontohan bagi wilayah Kudus yang lain.
Saat para petani kesulitan mencari pupuk kimia untuk kebutuhan tanaman, beda halnya dengan para petani organik, mereka sama sekali tidak menggantungkan pupuk kimia.
“Sama-sama 3 bulan bisa panen, kami optimis pertanian organik di Kudus bisa berkembang. Kami punya program sama, nanti bisa belajar dari sini. Kira-kira pada 2019 nanti 4 hektare dahulu,” kata Tamzil.
Kepala Pusat Pengembangan PAUD dan Pendidikan Masyarakat Jawa Tengah, Djajeng Baskoro mengatakan, program PKWU ini hanya ada di 6 titik di Indonesia.
Dan di Kudus yang dinilainya berhasil.
Pembina Akar Tani Makmur, Hasan Aoni mengatakan, para petani sejak tanam, sudah diajarkan agar tidak bingung saat menjual hasil panennya.
Sebab, padi organik lebih unggul dibanding padi non organik.
“Ini saat panen nanti sudah ada yang siap membelinya. Nanti kalau sudah jadi beras, per kilogramnya Rp25 ribu,” kata dia. (*)
ARTIKEL POPULER:
Ditanya Pilih Jokowi atau Prabowo, Begini Jawaban dan Saran Cak Nun
Benarkah Mie Ayam Tugu Lilin Pajang Solo Pakai Pesugihan Pocong? Yuk Mampir ke Warungnya
Video Detik-detik Personel Band Seventeen Diterjang Tsunami di Banten saat Tampil, 2 Orang Meninggal
Sumber: Tribun Jateng
Local Experience
Mengenal Sego Wiwit Kuliner Tradisional Khas Jawa! Sering Dihidangkan saat Panen Padi
Jumat, 27 Maret 2026
Tribunnews Update
Pemberangkatan Jenazah Bambang Hartono ke Rembang, Keluarga Pecahkan Semangka di Depan Mobil
Rabu, 25 Maret 2026
LIVE UPDATE
Targetkan Warga Kurang Mampu, Pemkab Kudus Bakal Gelar Pasar Murah Jelang Lebaran
Senin, 2 Maret 2026
LIVE UPDATE
PPPK Paruh Waktu di Kudus Dipastikan Tak Dapat THR Lebaran 2026, Bupati Imbau PNS Untuk Iuran
Senin, 23 Februari 2026
Saksi Kata
Bangkit dari Kegagalan! Kisah Haji Haryanto Membangun Perusahaan Otobus, Kini Memiliki 150 Armada
Jumat, 13 Februari 2026
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.