Terkini Daerah

Kisah Slamet Riyadi Tawarkan Jasa Reparasi Payung Berkeliling Kota Semarang

Senin, 14 Januari 2019 08:06 WIB
Tribun Jateng

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Saiful Ma'sum

TRIBUN-VIDEO.COM, SEMARANG - Seorang pria asal Boja, Kendal, Slamet Riyadi menawarkan jasa reparasi payung dengan cara berjalan kaki berkeliling di Kota Semarang.

Membawa sebuah tas hitam yang berisi alat-alat reparasi, Slamet menyusuri sudut-sudut Kota Semarang lengkap beberapa payung cadangan di pundaknya.

"Sebenarnya ini sebagai sampingan saja, berangkatnya tidak setiap hari, kadang empat kali dalam seminggu pernah juga satu atau dua hari saja," terangnya kepada Tribunjateng.com, Sabtu (12/1/2019).

Meski tidak menjadi pekerjaan pokok, pria berusia 63 tahun tersebut mengaku dapat memperbaiki payung hingga 70 buah dalam sehari.

"Itu kalau ramai, kan, tidak mesti," imbuhnya.

Hari berangkat yang tidak menentu tersebut ia sesuaikan dengan pekerjaannya sebagai petani di kampung.

Setiap mempunyai waktu longgar, sesegera ia kemasi peralatannya dan berangkat pukul 07.00 WIB menuju Kota Semarang.

Perjalanannya pun tidak mudah, menurut pria dengan tiga anak tersebut, dirinya harus naik dua angkutan umum untuk sampai di terminal Cangkiran.

Setelah dari Cangkiran, lantas ia menaiki bus Trans Semarang menuju halte Pasar Karang Ayu.

Dari lokasi tersebut, Slamet memulai langkahnya menyusuri Kota Semarang hingga sore.

"Mumpung masih sehat untuk jalan, yah pelan-pelan coba dimanfaatkan untuk hal yang bermanfaat," kata Slamet.

Di setiap proses perbaikan payung, Slamet membutuhkan 7-10 menit perbuahnya.

Untuk jasa reparasi satu buah payung ia kenakan tarif Rp 10.000.

Nominal tersebut berguna baik dengan tingkat kerusakan sedikit maupun banyak.

"Penghasilan meski tidak menentu tetap disyukuri, bagaimanapun semua orang pasti punya garis kehidupannya, yang penting berusaha," ujar Slamet.

Berprofesi sebagai jasa reparasi payung sudah ia lakoni sejak 8 tahun yang lalu.

Sebelumnya ia bekerja sebagai petani sekaligus tukang bangunan di kampungnya.

Semenjak usianya menginjak 50 tahun, Slamet mengaku bahwa kesehatannya menjadi tukang bangunan sudah angin-anginan.

Lantas ia bertemu dengan beberapa temannya yang seumuran dengannya.

"Dari situlah saya belajar memperbaiki payung lengkap dengan jenis-jenisnya, kemudian saya tekuni hingga sekarang," kata Slamet.

Penghasilannya sebagai reparasi payung harus terpotong Rp 20,000 - Rp 30,000 untuk ongkos angkutan umum pulang dan pergi. Itupun belum dengan makan siangnya.

"Kalau saya berangkat gini, istri saya yang merawat tanaman di kebun, kadang juga saya pulang cepat karena harus mencari rumput untuk sapi di rumah," katanya

"Pernah juga seminggu hanya sekali berangkat karena harus mengurus tanaman padi dan sayur-sayuran, yang penting selalu berusaha," pungkas pria dengan tiga saudara tersebut.(*)

ARTIKEL POPULER:

Ditanya Pilih Jokowi atau Prabowo, Begini Jawaban dan Saran Cak Nun

Benarkah Mie Ayam Tugu Lilin Pajang Solo Pakai Pesugihan Pocong? Yuk Mampir ke Warungnya

Video Detik-detik Personel Band Seventeen Diterjang Tsunami di Banten saat Tampil, 2 Orang Meninggal

Editor: Radifan Setiawan
Sumber: Tribun Jateng
Tags
   #Semarang   #kisah hidup   #Payung
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved