Natal dan Tahun Baru 2019
Jaga Toleransi, Umat Islam dan Budha di Lereng Merbabu Ucapkan Selamat Natal Kepada Umat Kristiani
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Eka Yulianti Fajlin
TRIBUN-VIDEO.COM, UNGARAN - Perayaan Natal di lereng Gunung Merbabu tepatnya di Dusun Thekelan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang berlangsung berbeda dari yang lainnya.
Pagi hari puluhan umat Kristiani dari beberapa gereja di Dusun Thekelan melakukan ibadah bersama di GPdi Thekelan, Rabu (26/12/18).
Tak lama berselang, sekitar pukul 08.00, umat Islam dan Budha berbondong-bondong menuju sekitar gereja dan menunggu para umat kristiani.
Usai umat Kristiani melaksanakan ibadah, mereka berjajar di samping kanan dan kiri jalan. Perwakilan dari setiap umat pun memberikan sambutan, mengucapkan selamat natal dan memberikan doa bagi para umat kristiani.
"Selamat natal. Semoga memberi kedamaian lahir dan batin," tutur Sukhadhamma Sukarmin, seorang perwakilan tokoh agama buddha.
Perwakilan tokoh agama islam pun demikian. Mewakili umat islam, Satiman mengucapkan selamat natal kepada para umat kristiani.
"Selamat Natal bagi umat Kristiani. Semoga Natal ini membawa berkah," tuturnya.
Tidak hanya mengucapkan secara perwakilan, ratusan warga Thekelan menyalami umat Kristiani satu per satu secara bergantian dan mengucapkan selamat natal.
"Selamat Hari Natal," ucap seorang muslim sambil memeluk umat kristiani.
Umat Kristiani pun membalas dengan senyuman dan ucapan doa-doa.
"Terimakasih, semoga Gusti memberkati," jawabnya.
Isak tangis pun tak terbendung ketika mereka saling bersalaman dan memberi ucapan.
Seorang pendeta GPdI Thekelan, Pdt Petrus Sukiman menyambut positif ucapan Natal dari umat Islam dan Buddha.
Kehadiran umat Islam dan Buddha membuat para jemaat dapat beribadah dengan tenang dan tidak ada hal yang ditakutkan.
"Indonesia sebagai negara yang beragam suku, ras, dan agama, cara ini positif sekali," ungkapnya.
Menurutnya, adanya toleransi antarumat yang ada di Thekelan, masyarakat dapat membangun desa bersama-sama tanpa ada perselisihan.
Dusun Thekelan juga dapat menjadi miniatur negara Indonesia yang beragam agama namun toleransi tetap terjaga.
"Mungkin di tempat lain tidak ada hal semacam ini. Ini perlu menjadi contoh bentuk toleransi bagi masyarakat lain," ujarnya.
Dia berharap toleransi seperti hal tersebut terus dijaga agar semakin kompak dan pembangunan dapat terus maju.
Sementara itu, Kepala Dusun Thekelan, Supriyo mengatakan, Dusun Thekelan berpenduduk sekitar 720 jiwa. Mereka menganut berbeda agama yang didominasi umat buddha.
"Satu rumah beda agama disini sudah biasa," ungkapnya.
Meski berbeda, toleransi antar umat di Dusun Thekelan sangat terjaga.
Ucapan memberi selamat saat hari besar merupakan bentuk toleransi antar umat dalam rangka menjaga kerukunan warga Thekelan yang beragam agama.
Acara ini dilakukan oleh warga Thekelan tidak hanya saat Natal, namun setiap perayaan hari besar agama.
"Setiap hari besar, entah Natal, Waisak, Idul Fitri, kami selalu melakukan tradisi ini," ungkapnya.
Menurutnya, meski berbeda keyakinan hubungan antar warga harus terus dijaga.
"Urusan kami sama Tuhan memang masing-masing, tapi urusan dengan sesama harus kita jaga," tuturnya.
Toleransi di Dusun Thekelan tidak hanya ditunjukkan saat perayaan hari besar.
Dalam kehidupan sehari-hari toleransi pun terus terjaga, seperti membangun tempat ibadah secara bersama-sama.
Saat ramadhan tiba, umat Islam juga mengundang umat non islam untuk berbuka bersama.
"Bahkan, ketika ada pengajian, yang mengaji tidak hanya satu umat saja. Semua ikut," tambahnya.
Supriyo juga menanamkan tradisi tersebut kepada anak-anak Dusun Thekelan agar toleransi antar umat di Dusun Thekelan selalu terjaga.
"Kami tidak hanya menjalankan saja, tapi kami mengajari anak-anak generasi milenial karena era mereka berbeda dengan agar mereka menjaga toleransi," katanya.(*)
ARTIKEL POPULER:
Video Detik-detik Personel Band Seventeen Diterjang Tsunami di Banten saat Tampil, 2 Orang Meninggal
Video Mobil Terseret Diterjang Air Laut di Anyer, Warga Panik Beredar Kabar Terjadi Tsunami
Video Evakuasi Bocah Umur 5 Tahun yang Terjebak di Puing Kayu akibat Terjangan Tsunami
Sumber: Tribun Jateng
TRIBUNNEWS UPDATE
Balita 15 Bulan Alami Hipotermia saat Dibawa Mendaki ke Gunung Ungaran, Langsung Dievakuasi Tim SAR
Selasa, 14 April 2026
Terkini Daerah
Viral Video Tim SAR Evakuasi Balita yang Hipotermia saat Diajak Mendaki di Gunung Ungaran
Selasa, 14 April 2026
Terkini Daerah
Viral Bayi Diduga Hipotermia saat Mendaki Gunung Ungaran, Orangtua Tetap Lanjut meski Diingatkan
Selasa, 14 April 2026
Live Tribunnews Update
Ayah Bayi 1,5 Tahun yang Hipotermia saat Dibawa Naik Gunung Ungaran Sempat Ngotot Lanjut Mendaki
Senin, 13 April 2026
Live Tribunnews Update
Kronologi Bayi Hipotermia saat Dibawa Mendaki ke Gunung Ungaran, Orangtua Sempat Diperingatkan
Senin, 13 April 2026
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.