Jumat, 10 April 2026

Konflik Palestina Vs Israel

3 Tentaranya Tewas, AS Balas Serangan Udara ke 85 Lebih Sasaran di Irak dan Suriah

Minggu, 4 Februari 2024 13:17 WIB
VOA

TRIBUN-VIDEO.COM- Amerika Serikat (AS) mengklaim telah melakukan serangan udara di Timur Tengah.

Pasukan Komando Pusat AS (CENTCOM) hal itu dilakukan sebagai pembalasan atas serangan pesawat tak berawak yang fatal terhadap pangkalan Amerika di Yordania pada pekan lalu.

CENTCOM menyatakan, pasukan militer AS menyerang lebih dari 85 sasaran.

Yakni, menyerang dengan banyak pesawat termasuk pembom jarak jauh yang diterbangkan dari Amerika Serikat.

"Pasukan Komando Pusat AS [CENTCOM] telah melakukan serangan udara di Irak dan Suriah terhadap Pasukan Quds Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran dan kelompok-kelompok milisi afiliasinya. Pasukan militer AS menyerang lebih dari 85 sasaran, dengan banyak pesawat termasuk pembom jarak jauh yang diterbangkan dari Amerika Serikat,” kata CENTCOM dalam sebuah pernyataan pada Jumat (2/2).

Baca: Rudal Houthi Ancam Kapal AS di Teluk Aden, Malam Hari Targetkan Kapal Dagang Amerika Serikat KOI

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden mengklaim tindakan tersebut telah sesuai dengan arahannya.

Yakni, pasukan militer AS menyerang sasaran di fasilitas di Irak dan Suriah yang digunakan IRGC dan milisi afiliasinya untuk menyerang pasukan Amerika Serikat.

“Sore ini, atas arahan saya, pasukan militer AS menyerang sasaran di fasilitas di Irak dan Suriah yang digunakan IRGC dan milisi afiliasinya untuk menyerang pasukan AS,” Biden dalam pernyataannya pada Jumat malam.

Joe Biden menyatakan, serangan tersebut akan berlanjut pada waktu dan tempat yang dipilih.

Kendati AS tak menginginkan adanya konflik di Timur Tengah, namun tindakan itu harus dilakukan sebagai pembalasan.

"Respons kami dimulai hari ini. Ini akan berlanjut pada waktu dan tempat yang kami pilih. Amerika Serikat tidak menginginkan konflik di Timur Tengah atau di mana pun di dunia. Tapi biar semua orang yang ingin menyakiti kami mengetahui hal ini: Jika Anda menyakiti orang Amerika, kami akan membalasnya."

Terkait serangan balasan AS, Menteri Pertahanan Lloyd Austin membuka suara.

Lloyd Austin menyatakan, Joe Biden telah mengarahkan tindakan tambahan untuk meminta pertanggungjawaban IRGC dan milisi yang berafiliasi atas serangan mereka terhadap Pasukan AS.

Baca: Jet Tempur F-16 Amerika Serikat Jatuh di Dekat Korea Selatan, Aksi Dramatis Pilot Selamatkan Diri

"Presiden telah mengarahkan tindakan tambahan untuk meminta pertanggungjawaban IRGC dan milisi yang berafiliasi atas serangan mereka terhadap Pasukan AS dan Koalisi. Hal ini akan terjadi pada waktu dan tempat yang kita pilih,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Menurut Lloyd Austin, pasukan AS menyerang operasi komando dan kendali, pusat-pusat, pusat intelijen.

Kemudian, menyerang roket dan rudal, serta tempat penyimpanan kendaraan tak berawak dan fasilitas rantai pasokan logistik dan amunisi kelompok milisi dan sponsor IRGC.

“operasi komando dan kendali, pusat-pusat, pusat intelijen, roket dan rudal, serta tempat penyimpanan kendaraan tak berawak, dan fasilitas rantai pasokan logistik dan amunisi kelompok milisi dan sponsor IRGC mereka yang memfasilitasi serangan terhadap pasukan AS dan koalisi. .”

Sebelumnya, serangan pada Minggu (25/1) lalu di pangkalan di Yordania menewaskan tiga tentara AS.

Selain itu, serangan tersebut juga melukai lebih dari 40 lainnya.

Terdapat lebih dari 165 serangan terhadap pasukan AS di Timur Tengah sejak pertengahan Oktober.

“Saya tidak akan membahas tindakan spesifik yang akan kami ambil dan seperti apa responsnya. Hal pertama yang Anda lihat bukanlah hal terakhir yang Anda lihat,” kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih John Kirby kepada VOA pada hari Rabu.

Baca: Pimpinan Houthi Yaman Sebut Amerika Serikat Bisa Ubah Laut Merah Jadi Medan Perang

“Saya pikir setiap kali Anda kehilangan tentara AS di luar negeri dalam suatu operasi, hal ini memberikan tekanan tambahan pada pemerintahan mana pun, baik dari Partai Demokrat atau Republik untuk mengambil tindakan tegas,” kata Jeremi Suri, seorang profesor sejarah di Universitas Texas di Austin kepada VOA.

“Masalah besar yang dihadapi pemerintah adalah bagaimana memiliki kebijakan pencegahan yang kuat tanpa melakukan eskalasi di seluruh wilayah dan (kemudian) sulit untuk mengatasi hal tersebut. Menurut saya, pilihan yang mereka ambil sejauh ini bagus,” kata Suri.

Serangan tersebut menyusul konflik terbaru di Timur Tengah dipicu hampir empat bulan lalu oleh Hamas dan kelompok militan lainnya yang menyeberang dari Gaza ke Israel.

Serangan Hamas pada 7 Oktober lalu telah menewaskan 1.200 warga Israel.

Sebagaian besar yang tewas merupakan warga sipil dan asing yang berada, di rumah mereka, di festival musik.

Lantas, Israel membalasnya dan tak kunjung usai meluncurkan serangan di Gaza.

Dilaporkan, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 27.000 warga Palestina.

Selain itu, menurut Kementerian Kesehatan Gaza telah melukai lebih dari 66.000 warga Palestina.

Sementara itu menurut pejabat di PBB mengatakan perang tersebut menciptakan bencana kemanusiaan dengan sekitar seperempat dari 2,3 juta penduduk Gaza menderita kelaparan.

(Tribun-Video.com/voaindonesia.com)

Host: Adilla Risna
VP: Latif

Artikel ini telah tayang di voaindonesia.com dengan judul "AS Mulai Pembalasan atas Serangan Drone yang Tewaskan 3 Tentaranya"

# Amerika Serikat # drone # CENTCOM # Militer AS

Editor: Ramadhan Aji Prakoso
Video Production: Latif Ghufron Aula
Sumber: VOA

Tags
   #Amerika Serikat   #drone   #CENTCOM   #Militer AS

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved