Rabu, 22 April 2026

Konflik Palestina Vs Israel

Hamas Jelaskan Motif Serangan pada Operasi Banjir Al-aqsa 7 Oktober yang Akibatkan Pecahnya Perang

Senin, 22 Januari 2024 16:39 WIB
Tribunnews.com

Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru

TRIBUN-VIDEO.COM - Organisasi militan Hamas mengungkapkan motif menyerang wilayah Israel selatan pada Sabtu (7/10/2024) dan mengakibatkan pecahnya perang yang tak kunjung usai hingga kini.

Menurut pihak Hamas, ada kesalahan dari serangan tersebut.

Hamas menyatakan, serangan yang dilakukan seharusnya hanya menargetkan tentara Israel dan orang-orang yang membawa senjata.

Selain itu turut menyandera 240 orang lainnya yang turut dijadikan sandera di Gaza.

Alasan menculik warga sipil di Israel lantaran Hamas berencana menargetkan militer Israel.

Selain itu, menawan para tentaranya untuk menekan pemerintah Israel agar membebaskan ribuan warga Palestina yang ditahan di negara Yahudi itu.

Hal itu diklarifikasi Hamas dalam laporan setebal 16 halaman dengan judul 'Narasi Kita' dan dipublikasikan pada Minggu (21/1/2024).

Dalam laporan tersebut Hamas juga mengungkapkan bahwa serangan 7 Oktober sudah dipastikan menghindari jatuhnya korban sipil.

Baca: Warga Israel Bangun Tenda di Depan Rumah Netanyahu, Tak Mau Pergi Sampai Sepakat Bebaskan Sandera

Hamas menegaskan hal tersebut telah menjadi komitmen moral bagi sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam.

“Jika ada kasus penargetan kepada warga sipil, itu terjadi secara tidak sengaja dan merupakan proses konfrontasi dengan pasukan pendudukan (Israel),” demikian bunyi laporan tersebut.

Hamas kembali mengakui bahwa kemungkinan ada kesalahan yang terjadi selama penyerangan ke Israel.

Mereka mengungkapkan hal tersebut semata-mata akibat kolapsnya keamanan dan sistem militer Israel serta kekacauan di dekat Gaza.

“Banyak warga sipil Israel terbunuh oleh militer dan polisi Israel akibat kebingungan mereka sendiri,” tambahnya.

Terkini, Hamas juga membahas masalah di Gaza selama perang pecah.

Khususnya setelah Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menentang terwujudnya negara Palestina.

Saat menanggapi tentangan dari Netanyahu itu, Hamas menegaskan bahwa tidak ada satu pun negara yang diperbolehkan terlibat terkait masa depan Palestina.

Baca: Intel AS Permalukan Israel! Bantah Zionis Mampu Hancurkan Hamas: Israel Hanya Berhasil 20 Persen

Sebagai informasi, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu kerap menggembar-gemborkan pernyataannya di publik.

Pernyataan yang terbaru disampaikan Netanyahu pada Sabtu (20/1/2024), seusai melakukan percakapan dengan Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden.

Benjamin Netanyahu tegas menentang tekanan dari AS dan negara lain terhadap pemerintahannya untuk berkomitmen tehadap negara Palestina di masa depan.

Akibat sikap Netanyahu itu, banyak pihak menilai makin dalamnya perpecahan antara Israel dan AS soal rencana pemerintahan masa depan di Gaza dan Tepi Barat saat konflik berakhir.

Di sisi lain, sebenarnya, AS meyakini bahwa masa depan negara Palestina bersama Israel sangat penting bagi stabilitas jangka panjang.

Meski demikian, Joe Biden menyebut solusi dua negara antara Palestina dan Israel masih mungkin dilakukan saat Netanyahu menjabat.

“Ada beberapa jenis solusi dua negara. Ada sejumlah negara anggota PBB yang tidak memiliki militer sendiri,” kata Biden dikutip dari BBC.

*Disclaimer: Artikel ini telah disunting. Mohon maaf atas ketidaknyamanan pembaca.

(Tribun-Video.com/Tribunnews.com)

Baca berita terkait hanya di sini

# Konflik Palestina Vs Israel # Operasi Badai Al-Aqsa # Zionis # Gaza # Hamas

Editor: Dyah Ayu Ambarwati
Reporter: Adila Ulfa Muna Risna
Video Production: yohanes anton kurniawan
Sumber: Tribunnews.com

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved