Kamis, 23 April 2026

JEJAK ISLAM

JEJAK ISLAM: Profil Masjid Jami', Tertua di Kota Jayapura

Minggu, 9 April 2023 15:54 WIB
Tribun Papua

TRIBUN-VIDEO.COM - Kota Jayapura dengan keanekaragaman penduduknya, nyatanya juga menjadi salah satu kota di Papua yang memiliki jejak penyebaran Agama Islam sejak dulu.

Salah satu jejak Islam yang masih tersisa yakni adanya masjid tua pertama di Kota Jayapura, bernama Masjid Jami yang secara administratif terletak di Jalan Percetakan Negara, Kelurahan Gurabessi, Distrik Jayapura Utara.

Masjid Jami lokasinya hanya sekira 200 meter dari Masjid Raya Baiturrahim Jayapura yang menjadi tempat ibadah umat Muslim terbesar di Kota Jayapura saat ini.

Masjid Baiturrahim dibangun pada 1974 untuk mengakomodasi semakin pesatnya jumlah umat Islam di Kota Jayapura.

Adapun Jurnalis Tribun-Papua.com Aldi Bimantara, berkesempatan menelusuri masjid tertua di ibu kota Provinsi Papua tersebut, pada Minggu (12/3/2023).

Memang ketika melintasi Jalan Percetakan Negara, tepatnya di belakang Hotel Triton yang juga termasuk hotel tua di Kota Jayapura, sepintas tak ada yang mengira bangunan lantai 3 ini adalah masjid.

Hal tersebut dikarenakan, tampak visual memang tak terlihat kubah masjid karena berukuran kecil sehingga terhalangi atap depannya.

Sejatinya pula Masjid Jami Kota Jayapura saat ini terletak di lantai 3, sedangkan lantai 1 dan 2 merupakan bangunan yang difungsikan sebagai sekolah.

Pengelola sekolah adalah Lembaga Pendidikan (LP) Ma'arif, yang memiliki Madrasah Ibtidaiyah Nurul Huda Ma'arif, Sekolah Dasar Nurul Huda 1 Ma'arif, dan Sekolah Menengah Pertama Nurul Huda Ma'arif.

Lalu untuk menuju masjid, jamaah harus menaiki anak tangga dari lantai satu ke lantai dua, baru kemudian naik ke lantai tiga dan mendapati masjid tua itu.

Masjid Jami memiliki ukuran 12 x 12 meter atau kira-kira dua kali lapangan bulu tangkis dan mampu menampung sekira 200 jamaah.

Dindingnya berlapis keramik hijau dan lantainya diberi keramik putih, serta ada desain kaligrafi di dalamnya. Kemudian ada mimbar berwarna coklat muda yang tentu difungsikan bagi para penceramah. Kemudian, terdapat empat unit pendingin ruangan di dalam masjid yang masih berfungsi dengan baik.

Kepada Tribun-Papua.com, Imam Masjid Jami Kota Jayapura, H Muhammad Syaiful mengatakan masjid tua itu didirikan pada 1943 silam.

Bangunan Masjid Jami dulunya berada di lantai 1 dengan memiliki kubah berbentuk limas. Serta satu-satunya peninggalan yang masih tersisa hingga saat ini, yakni mimbar tempat penceramah.

"Masjid ini sudah dipugar beberapa kali, dan karena adanya sekolah maka dinaikkan ke lantai 3, yakni lantai paling atas," sebut Syaiful.

Semual bangunan Masjid Jami Kota Jayapura ini hanya terdiri dari satu lantai di atas lahan seluas 1.400 meter persegi dengan atap dari seng.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Syaiful dari para sesepuhnya dahulu, dikatakannya masjid tersebut berdiri atas prakarsa umat Muslim yang datang dari berbagai daerah, yakni Ternate, Tidore, Buton Sulawesi Tenggara, Halmahera, Waigeo, Salawati dan sekitarnya.

"Mereka ini bekerja sebagai buruh atau kuli pelabuhan di Holandia (sebuah nama jaman penjajahan Belanda untuk Jayapura, sebelum berubah nama menjadi Kota Baru, lantas menjadi Soekarnopura dan sekarang menjadi Jayapura)," terangnya.

Mengingat tempat ibadah sangat penting dan dibutuhkan bagi pemeluk Islam, maka dikatakan Syaiful saat itu mereka (para buruh) yang berasal dari berbagai daerah tersebut, memprakarsai tempat ibadah di Kota Holandia (Jayapura).

Saat itu Irian Barat (Papua), masih dalam kekuasaan penjajahan Belanda, setelah 1 Mei 1963 wilayah Irian Barat masuk bingkai NKRI, maka diceritakan Syaiful pihak PBB menugaskan komando United Nations Security Forces (UNSF).

"Nah di dalam UNSF ini waktu itu terdapat angkatan perang Pakistan yang dipimpin oleh Brigjen Sa'id Udin Khan," katanya.

Lalu dikatakannya, masa peralihan kekuasaan di Irian Barat dari United Nation Temporary Executive Authority (UNTEA) kepada RI berakhir April 1963.

"Lantas orang-orang Pakistan yang bertugas ke Irian Barat kebanyakan pemeluk Islam dan tempat ibadahnya adalah di Masjid Jami Holandia ini," katanya.

Syaiful menjelaskan, dalam kurun waktu sejak tahun 1943 hingga 1963, di antara mereka ada yang gugur alias meninggal dunia, maka dimakamkan pada sebuah area pemakaman Islam.

"Menurut sejarah makamnya hingga sekarang, masih ada yakni di belakang Kantor Asuransi Jiwa Sraya Jalan Sam Ratulangi Jayapura, kurang lebih 200 meter masuk ke dalam, itulah kuburan Islam masa dulu," kisahnya.

Seiring bergulirnya waktu, hadirlah sebuah Referendum yang dikenal sebagai Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) tahun 1969.

Kemudian, dari pihak pemerintah setelah Irian Barat resmi bergabung bersama NKRI, Pemerintah menugaskan KH Muslich dari Yayasan Al Hidayah Jakarta ke Irian Barat tepatnya ditugaskan di Kota Holandia (Jayapura).

"Untuk diketahui KH Muslich ini, beliau juga termasuk anggota MPR RI, tetapi tak lama kemudian kembali lagi ke Jakarta," tuturnya.(*)

Editor: Sigit Ariyanto
Sumber: Tribun Papua

Tags
   #JEJAK ISLAM   #Jayapura   #masjid   #Papua

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved