Rabu, 8 April 2026

LIVE UPDATE MANCANEGARA

Hadapi Tantangan Keras, Sekjen PBB Takut Perang Rusia-Ukraina Meluas, Ungkap Malapetaka Global

Kamis, 9 Februari 2023 13:56 WIB
Kompas.com

TRIBUN-VIDEO.COM - Perang Rusia dan Ukraina yang hampir satu tahun ini menjadi sorotan utama Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Sekretaris Jenderal Antonio Guterres mengaku takut konflik tersebut kian meluas dan menjadi malapetaka global.

Sekjen PBB memperingatkan bahwa dunia sedang menghadapi tantangan baru.

Baca: Rangkuman Konflik Rusia-Ukraina Hari Ke-350: 24 Jam Paling Mematikan hingga Minta Bantuan Jet Tempur


Ia menyatakan ketakutan akan perang yang lebih luas menjelang peringatan pertama invasi Rusia ke Ukraina.

Sekretaris Jenderal Antonio Guterres mengatakan perang di Ukraina menyebabkan malapetaka iklim yang tak terkendali.

Bahkan perang tersebut menimbulkan ancaman nuklir yang meningkat.

Sekjen PBB menerangkan, akibat perang pula terjadi kesenjangan sosial.

Disebutkan, ada jurang yang melebar antara yang kaya dan yang miskin di dunia.

Guterres mengungkapkan, perang Rusia dan Ukraina merembet pada perpecahan geopolitik yang epik, merusak solidaritas dan kepercayaan global.

“Ada pula perpecahan geopolitik yang epik, merusak solidaritas dan kepercayaan global," katanya.

Dalam pidatonya pada Senin (6/2/2023), Guterres mendesak 193 negara anggota Majelis Umum mengubah pola pikir mereka.

Hal ini tentang pengambilan keputusan dari pemikiran jangka pendek.

Ia mengatakan peringatan 75 tahun Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia tahun ini harus berfungsi sebagai pengingat.

Disebutkan, hak semua orang yang tidak dapat dicabut adalah kebebasan, keadilan dan perdamaian.

Guterres mengatakan transformasi yang dibutuhkan hari ini harus dimulai dengan perdamaian.

Hal ini bisa dimulai di Ukraina.

Namun, Sekjen PBB menyayangkan, prospek perdamaian terus berkurang.

Peluang eskalasi lebih lanjut dan pertumpahan darah terus meningkat.

"Sayangnya, prospek perdamaian terus berkurang. Peluang eskalasi lebih lanjut dan pertumpahan darah terus meningkat," katanya.

“Saya khawatir dunia tidak berjalan dengan tidak sadar menuju perang yang lebih luas. Itu dilakukan dengan mata terbuka lebar," tambahnya.

Diungkapkan, dunia harus bekerja lebih keras untuk perdamaian.

Tidak hanya di Ukraina tetapi dalam konflik Israel-Palestina yang telah berlangsung puluhan tahun.

"Solusi dua negara semakin jauh dari hari ke hari,” katanya.

Selain itu ia juga menyoroti pelanggaran HAM di Afghanistan.

Menurutnya, di sana hak-hak perempuan dan anak diinjak-injak dan serangan teroris mematikan terus berlanjut.

Selain itu, Sekjen PBB juga menyinggung kondisi Di wilayah Sahel Afrika.

Baca: Putin akan Beri Tanggapan Jika Inggris Beri Ukraina Jet Tempur, Ingatkan Akibat Politik-Militer


Disebutkan, keamanan di kawasan tersebut memburuk pada tingkat yang mengkhawatirkan

"Di Afghanistan, hak-hak perempuan dan anak diinjak-injak dan serangan teroris mematikan terus berlanjut. Di wilayah Sahel Afrika, keamanan memburuk pada tingkat yang mengkhawatirkan," terangnya.

Ia juga menyerukan peningkatan upaya perdamaian di Myanmar.

Negara itu menghadapi kekerasan dan penindasan baru.

Gutteres juga menggaungkan perdamaian di Haiti.

Hal ini karena di sana masih terhadi geng-geng pengacau menyandera negara.

Sehingga menurut Sekjen PBB, perdamaian juga harus dilakukan di tempat lain di seluruh dunia.

"Tak hanya itu, perdamaian juga harus dilakukan di tempat lain di seluruh dunia, di mana dua miliar orang yang tinggal di negara-negara yang terkena dampak konflik dan krisis kemanusiaan,” tambahnya.

Ia mengingatkan, dua miliar orang yang tinggal di negara-negara yang terkena dampak konflik dan krisis kemanusiaan

(Tribun-Video.com/ Kompas.com)


Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Sekjen PBB Khawatir Perang dan Konflik di Dunia Kian Meluas"

# Ukraina # Rusia # PBB # Perang Dunia

Video Production: Ika Vidya Lestari
Sumber: Kompas.com

Tags
   #Ukraina   #Rusia   #PBB   #Perang Dunia

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved