Yandex

Bekas Komandan NII Bongkar Fakta Anak Jenderal Gampang Diracuni Paham Radikal, Begini Perekrutannya

Minggu, 27 Mei 2018 16:33 WIB
Tribun Video
Editor: Riesa Sativa Ilma | Reporter: Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana | Video Production: alfin wahyu

TRIBUN-VIDEO.COM - Seorang pria yang dulunya merupakan Komandan Negara Islam Indonesia (NII) telah meninggalkan kelompok radikal yang dipimpinnya itu.

Ken Setiawan, nama sosok tersebut, kemudian justru mendirikan Rehabilitasi Korban NII alias NII Crisis Center.

Setelah menjadi jebolan NII, Ken bahkan membongkar cara kelompok radikal merekrut anggota untuk dijadikan teroris.

Dilansir Tribun-Video.com dari Wartakotalive.com, Sabtu (26/5/2018), menurut Ken, dulu kelompok radikal menghindari keluarga TNI/Polri.

Keluarga kalangan TNI/Polri dipercaya dapat membahayakan kelompok mereka, dan berakibat sangat fatal jika ketahuan.

Baca: Durhaka, Tega Aniaya dan Bakar Rumah Ibu, Ternyata Pelaku Pernah Dipenjara usai Aniaya Bapaknya

Namun, kini anak jenderal TNI/Polri malah bisa dengan mudah direkrut dan dijadikan teroris.

Ken juga membeberkan fakta bahwa saat ini sudah banyak anak tentara dan polisi yang menjadi korban perekrutan.

Bahkan banyak pula tentara dan polisi yang aktif sampai menanggalkan profesinya sebagai abdi negara setelah terpapar paham radikal.

Seorang anak rektor kampus tentara pun mengakafirkan orangtuanya sendiri setelah direkrut kelompok radikal.

Baca: Terungkap, Pencuri 10 Koper di Bandara Soekarno-Hatta Ternyata Masih Kelas 3 SMP

"Anak Kapolda wilayah Sumatera juga ada yang pernah direkrut," ungkapnya, Sabtu (26/5/2018).

Sebelum perekrutan, langkah awal yang dilakukan yakni 'screening' pada target.

"Kita pelajari aktivitas kesehariannya, pekerjaannya apa, bagaimana keluarganya, hobinya apa, apa yang dia suka dan tidak sukai, dan sebagainya," beber Ken.

Dengan begitu dapat ditentukan model perekrutan yang akan dipakai.

Lalu target dicuci otak, misalnya dengan simulasi yang melibatkan audiensi.

Hanya dalam waktu lima menit mereka bisa mengatakan dirinya kafir dan tengah berada di negara jahiliyah.

"Model-model perekrutan itu dibeberkan agar seluruh peserta waspada dan berhati-hati apabila menemui hal serupa," kata Ken.

Baca: Hendak Parkir, Minibus Malah Nyemplung ke Lubang Resapan Air di Jakarta, Pengemudi Seorang Insinyur

Pada proses cuci otak, target diminta menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar soal kalimat Syahadat.

"Contoh pertanyaan yang akan saya sampaikan begini, kapan Anda mengucap kalimat Syahadat?" ucap Ken menirukan pertanyaan yang ia ajukan kepada target.

Lalu mereka dicecar berbagai dalil, ayat Alquran, dan hadis yang diambil secara sepotong-sepotong dan diminta mengulang kalimat Syahadat.

Setelah itu mereka ditanyai soal doktrin negara, aturan hukum, dan sebagainya.

Dalam pikiran mereka ditanamkan bahwa Indonesia melawan hukum Allah karena tak memakai hukum yang sesuai dengan Alquran dan hadis.

"Berarti Anda telah mendurhakai Allah, karena Anda muslim tetapi tidak menggunakan hukum Islam," kata Ken.

Menurut Ken, perekrut bertanya apakah dalam memutuskan perkara di Indonesia menggunakan hukum Islam atau hukum KUHP peninggalan penjajah Belanda? Ini pertanyaan menjebak.

Doktrin-doktrin yang diuraikan pada sasaran bertujuan membuat mereka ragu pada NKRI dan ajaran agama yang ia pahami selama ini.

Lamanya proses pencucian otak pada target ini disebutkan beragam, ada yang sampai 30 tahun, ada yang lebih lama.

Simak video di atas.(Tribun-Video.com/Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana)

TONTON JUGA:

Sumber: Tribun Video
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved