Terkini Daerah
Wisata Budaya di Desa Adat Ende Lombok: Desa Wisata yang Junjung Tinggi Eksistensi Budaya
Laporan Wartawan Tribunlombok.com, Sinto
TRIBUN-VIDEO.COM - Desa Adat Ende sangat kental dengan kelestarian budaya meski memasuki era modern.
Desa adat di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, NTB ini menjadi tempat wisata budaya.
Penduduk Desa Adat Ende 100 persen beragama Islam dengan mata pencaharian penduduk sebagai petani, peternak, dan perajin kesenian.
Ciri khas rumah warga Desa Adat Ende ini adalah menggunakan kotoran sapi sebagai lantai dan bahan untuk mengepel atau membersihkan rumah.
Ketua Pokdarwis Desa Adat Ende Tantowi Surahman mengungkapkan, penduduk Desa Adat Ende ini terkenal sangat pandai dalam menenun atau dalam bahasa Suku Sasak dikenal dengan nama nyensek.
Nyensek ini juga merupakan prasyarat bagi gadis Suku Sasak Lombok agar ia bisa menikah.
Baca: Tempat Wisata Kuliner Legendaris di Pati, Ada Nasi Gandul Pak Yadiman dengan Cita Rasa Otentik
Aktivitas menenun ini dapat ditemukan di depan teras rumah penduduk.
Desa Adat Ende ini sangat kaya dengan budaya mulai dari alat musik tradisional hingga kesenian tradisional.
Salah satunya adalah alat musik Genggong yang terbuat dari pelepah daun enau dan dimainkan dengan cara ditiup.
Alat musik genggong ini harus dimainkan secara berpasang-pasangan yang terdiri dari suara tinggi (Genggong lanang) dan suara rendah (genggong wadon).
"Teknik memainkannya di sini bukan hanya sekedar ditiup namun ada unsur lain yang dilakukan melalui tarik ulur tali senar dan berpadu dengan perasaan," jelas Tantowi Surahman saat diwawancara TribunLombok.com.
Baca: Ramai Pengunjung, Harga Gazebo di Tempat Wisata Pantai Toronipa Konawe Naik 2 Kali Lipat
Desa Adat Ende merawat tradisi kesenian tradisional Peresean.
Peresean dimainkan dua orang pemuda saling beradu ketangkasan dengan senjata tongkat rotan dan perisai.
Rotan inilah yang digunakan untuk menyerang lawan main sedangkan perisai digunakan untuk menghindari serangan lawan.
"Aturan main dari Peresean ini sebenarnya juga cukup sederhana dimana petarung yang berhasil melukai lawannya terutama jika bocor maka kalah atau dianggap KO," terang Tantowi Surahman.
Setiap petarung atau dalam masyarakat Suku Sasak Lombok menyebutnya sebagai pepadu itu tidak boleh menyerang bagian perut ke bawah.
Setiap pertandingan terdiri atas tiga ronde dan terdapat seorang wasit yang bertugas mengatur jalannya permainan.
Kesenian Peresean inilah yang kemudian ditampilkan pengelola saat pengunjung datang melihat desa wisata ini.
(*)
Artikel ini telah tayang di TribunLombok.com dengan judul Wisata Budaya di Desa Adat Ende Lombok: Belajar Alat Musik Tradisional Genggong hingga Peresean
Video Production: Lalu Yusuf Wibisono
Sumber: Tribun Lombok
LIVE UPDATE
Belum Resmi Beroperasi, 411 Gerai Koperasi Desa di Kaltara Masih Tahap Pembangunan
1 jam lalu
LIVE UPDATE
Eks Taman Festival Padanggalak Ditata Ulang, Kawasan Dibagi Zona Hijau, Parkir, dan Budaya
1 jam lalu
LIVE UPDATE
Diguyur Hujan Deras, Longsor Terjang Desa Kereana Malaka, Rumah Warga Retak dan Terbelah
1 jam lalu
Terkini Nasional
Bermodal Tikar dan Atap Langit, Keluarga Jemaah Haji Asal Sambelia Rela Menginap demi Antar Kakak
7 jam lalu
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.