Terkini Nasional

Disuruh Panggil Kasat Reskrim, ART Singgung Ekspresi Ferdy Sambo Langsung Berubah

Kamis, 24 November 2022 19:03 WIB
Warta Kota

TRIBUN-VIDEO.COM, JAKARTA - Asisten Rumah Tangga (ART) Ferdy Sambo, Diryanto alias Kodir mengaku mendengar lebih dari tembakan senjata api di rumah di Duren Tiga, Jakarta Selatan, saat penembakan terhadap Brigadir Nofriansyah Yosus Hutabarat alis Brigadir J terjadi 8 Juli 2022 lalu.

Menurut Kodir, sesaat setelah itu ia berada di garasi rumah bersama dua ajudan Ferdy Sambo, Yogi dan Romer, serta Ferdy Sambo pula.

Tak lama, kata Kodir, Ferdy Sambo menyuruhnya memanggil Kasat Reskrim Polres Jaksel Ridwan Soplanit yang rumahnya bersebelahan dengan rumah dinas di Duren Tiga.

Hal itu dikatakan Kodir kepada hakim saat sidang obstruction of justice atau perintangan penyidikan kematian Brigadir J di PN Jakarta Selatan, Kamis (24/11/2022).

"Lalu apa yang dikatakan FS ke saudara?" tanya Hakim Afrizal Hadi.

"Disuruh memanggil pak Kasat Yang Mulia," ujar Kodir.

"Maksudnya Kasat Reskrim Polres Jaksel? Saudara tahu siapa?," tanya hakim lagi.

Baca: Mirip Kasus Brigadir J, Keluarga Temukan Sejumlah Kejanggalan Kematian Prada Indra

"Pak Ridwan," ujar Kodir.

"Ridwan Soplanit maksud saudara?" tambah hakim.

“Untuk apa diminta panggil Ridwan Soplanit?” tanya Hakim.

“Saya kurang tahu, yang mulia, ”jawab Kodir.

“Bagaimana wajah FS waktu itu?” tanya Hakim.

“Seperti Menangis. Matanya merah dan keluar air mata,” kata Kodir.

"Merah itu, karena marah atau menangis?" tanya hakim memastikan.

Baca: Ferdy Sambo Bisa Dijerat Pidana Perpajakan lantaran Simpan Uang Pribadi di Rekening Ajudannya

"Seperti menangis, yang mulia. Dan keluar air mata," tegas Kodir.

“Saudara tidak tanya kenapa matanya merah?”t anya Hakim.

“Tidak berani yang mulia, tidak sopan,” jawab Kodir.

Sebelumnya AKBP Ridwan Soplanit adalah orang pertama yang dipanggil Ferdy Sambo setelah penembakan Brigadir J.

AKBP Ridwan turut menjadi saksi kunci rekayasa atau menghalangi proses penyelidikan dan penyidikan kasus tewasnya Brigadir J.

Kodir juga mengungkapkan ekspresi Brigadir J sebelum dirinya ditembak.

Menurut Kodir ekspresi dam sikap Yosua saat itu biasa saja dan tak ada yang aneh.

Kodir menjelaskan bahwa saat tiba di rumah Duren Tiga bersama Putri Candrawathi, Yosua langsung masuk ke dalam rumah melalui garasi.

Baca: Ferdy Sambo Benarkan Adanya Laporan Kasus Tambang Ilegal, Tanya Hasil Penyelidikan ke Propam

Dalam kasus ini, tujuh orang polisi didakwa telah melakukan perintangan proses penyidikan pengusutan kematian Brigadir J. Yakni Ferdy Sambo, Hendra Kurniawan, Agus Nurpatria, Arif Rachman, Baiquni Wibowo, Chuck Putranto, dan Irfan Widyanto.

Mereka dijerat Pasal 49 jo Pasal 33 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Juga dengan Pasal 48 jo Pasal 32 Ayat (1) UU No.19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Dimana ancaman hukumannya maksimal 10 tahun penjara dan denda Rp 10 miliar.

Keenam anggota polisi tersebut bersama-sama dengan Ferdy Sambo yang kala itu menjabat sebagai Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri bersiasat untuk menghapus CCTV di tempat kejadian perkara (TKP) Brigadir J tewas di Duren Tiga, Jakarta Selatan.

(*)

Artikel ini telah tayang di WartaKotalive.com dengan judul Mata Ferdy Sambo Berubah Merah dan Berair Saat Suruh Panggilkan Kasat Reskrim

# Ferdy Sambo # Kodir # Brigadir J # Kasat Reskrim # Ridwan Soplanit

Editor: Fitriana SekarAyu
Video Production: Damara Abella Sakti
Sumber: Warta Kota

KOMENTAR

Video TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved