Terkini Nasional

Media Asing Soroti Sikap Polisi dalam Tragedi Kanjuruhan, Sebut Polri Tak Terlatih

Kamis, 6 Oktober 2022 09:56 WIB
Tribunnews.com

TRIBUN-VIDEO.COM - Kinerja Polri menjadi sorotan media asing buntut pecahnya tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, yang menewaskan ratusan suporter Arema FC dan dua anggota polisi.

Media asal Amerika Serikat (AS), New York Times, menuliskan di akun Twitter mereka, bahwa polisi Indonesia kurang terlatih dalam mengendalikan massa.

Tak hanya itu, dalam hampir semua kasus, Polri tidak pernah dimintai pertanggungjawaban atas kesalahan langkah mereka dalam mengantisipasi kerusuhan.

"Kepolisian Indonesia sangat termiliterisasi, kurang terlatih dalam pengendalian massa, dan dalam hampir semua kasus, (Polri) tidak pernah dimintai pertanggungjawaban atas kesalahan langkah, kata para ahli," cuit New York Times, Selasa (4/10/2022).

Lebih lanjut, artikel New York Times yang dikutip The Indian Express, membahas soal tanggapan para ahli terkait kinerja polisi Indonesia dalam tragedi di Kanjuruhan.

Tak hanya itu, anggaran Polri yang meningkat dari tahun ke tahun juga turut menjadi sorotan.

Selama bertahun-tahun, orang Indonesia berhadapan dengan Polri yang banyak dikatakan korupsi, menggunakan kekerasan untuk menekan massa, dan tidak bertanggung jawab atas sikap mereka.

Pada 2019 lalu, polisi menembak dan membunuh 10 orang dalam unjuk rasa di Jakarta yang menentang pemilihan kembali Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Tahun berikutnya, ratusan orang di 15 provinsi dipukuli menggunakan tongkat saat memprotes undang-undang baru.

Baca: Hasil Rapat Perdana TGIPF Tragedi Stadion Kanjuruhan: Cari Akar Masalah Hingga Sinkronisasi Aturan

Di bulan April 2022, polisi menembakkan gas air mata ke kerumunan mahasiswa pengunjuk rasa yang damai, membuat tiga balita terdampak.

Dunia melihat sekilas taktik itu pada tragedi Kanjuruhan, Sabtu (1/10/2022), saat petugas anti-huru hara di Kota Malang, memukuli suporter Arema menggunakan tongkat dan perisai.

Lalu, tanpa peringatan menembakkan gas air mata ke puluhan ribu penonton yang berkerumun di salah satu tribun.

Metode ini memicu keributan yang berujung pada kematian ratusan orang, salah satu bencana terburuk dalam sejarah olahraga.

Para ahli mengatakan, tragedi itu mengungkap masalah sistematik yang dihadapi polisi.

Banyak di antara petugas yang kurang terlatih dalam pengendalian massa dan sangat militeristik.

Dalam hampir semua kasus, kata para ahli, polisi tidak pernah merespons secara benar atau bertanggung jawab atas kesalahan langkah yang mereka tempuh.

“Bagi saya, ini benar-benar fungsi dari kegagalan reformasi kepolisian di Indonesia,” kata Jacqui Baker, ekonom politik di Murdoch University di Perth, Australia, yang mempelajari kepolisian di Indonesia.

Selama lebih dari dua dekade, aktivis HAM dan ombudsman pemerintah telah melakukan penyelidikan atas tindakan polisi Indonesia.

Laporan-laporan ini, menurut Baker, sering sampai ke kepala polisi, tetapi tidak banyak atau tidak berpengaruh sama sekali.

“Mengapa kita terus dihadapkan dengan impunitas?” dia berkata.

“Karena tidak ada kepentingan politik untuk benar-benar mewujudkan kepolisian yang profesional.”

Para ahli terkejut dengan reaksi polisi dalam tragedi Kanjuruhan

Untuk mengantisipasi kekerasan dalam pertandingan sepak bola, banyak polisi muncul mengenakan helm, rompi, dan tameng, serta bersenjatakan tongkat.

Baca: Media Asing Soroti Sikap Polisi saat Tragedi Kanjuruhan, Sebut Kurang Terlatih & Tak Tanggung Jawab

Beberapa klub suporter memiliki komandan yang terlibat dalam pelatihan fisik untuk mempersiapkan pertarungan.

Beberapa tim tiba di pertandingan dengan pengangkut personel lapis baja.

Namun, para ahli mengatakan mereka terkejut dengan tanggapan kacau polisi di stadion pada hari Sabtu (1/10/2022), mengingat kekerasan sepak bola biasa terjadi di negara itu - dengan seringnya perkelahian antara suporter klub saingan - dan bahwa polisi harus memiliki pedoman untuk setiap kerusuhan.

Pada 2018, polisi anti-huru hara menembakkan gas air mata di Stadion Kanjuruhan, Malang, ketika terjadi kekerasan dalam pertandingan yang melibatkan tim tuan rumah, Arema.

Seorang anak laki-laki berusia 16 tahun meninggal beberapa hari kemudian.

Tidak ada laporan apakah ada penyelidikan atas kematiannya atau bagaimana polisi menangani kerusuhan tersebut.

Sekarang, pihak berwenang berencana untuk menyelidiki apa yang salah pada Sabtu lalu, ketika ribuan pendukung berkumpul di Malang untuk melihat Arema menjamu Persebaya Surabaya.

Setelah Arema mengalami kekalahan mengejutkan, 2-3, beberapa suporter berlarian ke lapangan.

Polisi kemudian melepaskan gelombang kekerasan dan menembakkan gas air mata, kata saksi mata.

Kepala menteri keamanan mengatakan bahwa petugas yang dicurigai melakukan kekerasan di stadion akan menghadapi tuntutan pidana.

Baca: Kesaksian Pelatih Arema FC soal Malam Kelam Tragedi Stadion Kanjuruhan, Roca: Saya Hancur Mental

Pada Minggu (2/10/2022), Kapolres Jatim Irjen Nico Afinta mengatakan polisi telah mengambil tindakan sesuai prosedur.

Ia mengatakan bahwa gas air mata telah dikerahkan "karena ada anarki" dan bahwa para suporter "akan menyerang petugas dan merusak mobil."

Sebagai tanda bahwa Polres Malang telah berupaya mengantisipasi aksi kekerasan tersebut, pihaknya meminta pihak penyelenggara untuk memundurkan pertandingan menjadi pukul 15.30 WIB.

“Demi pertimbangan keamanan,” demikian surat yang beredar secara online dan dikonfirmasi isinya oleh Polda Jatim kepada The New York Times.

Slot waktu yang lebih awal, menurut pemikiran itu, akan membuat acara lebih ramah keluarga.

Namun, permintaan polisi itu ditolak. Penyelenggara tidak dapat segera dihubungi untuk memberikan komentar pada hari Senin (3/10/2022).

Banyak aktivis HAM mengatakan bahwa untuk meningkatkan taktik penegakan hukum, mereka secara konsisten membuat rekomendasi ini kepada polisi: Jangan langsung mengambil gas air mata; jangan mengayunkan tongkat pada orang berdasarkan insting pertama; memahami bagaimana mengendalikan orang banyak; meredakan konflik.

“Standar operasional prosedurnya jangan sampai polisi loncat dari nol ke 100,” kata Wirya Adiwena, wakil direktur Amnesty International Indonesia.

(Tribunnews.com/Pravitri Retno W)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul New York Times: Polisi Indonesia Kurang Terlatih dalam Mengendalikan Massa

#media asing #polisi #Tragedi Kanjuruhan #Tragedi Stadion Kanjuruhan

Baca Artikel Lainnya di Sini

Editor: Muhammad Eka Putra
Video Production: Rania Amalia Achsanty
Sumber: Tribunnews.com

VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved