G30S/PKI

Padahal Juga Jenderal Namun Mengapa Soeharto Lolos dari Penculikan dan Pembunuhan G30S/PKI?

Sabtu, 1 Oktober 2022 10:21 WIB
Tribun Jabar

TRIBUN-VIDEO.COM - Peristiwa G30SPKI susah dilupakan dari benak warga Indonesia.

Peristiwa itu menewaskan 6 jendral dan 1 anggota TNI berpangkat kapten.

Banyak yang mengatakan bahwa para jendral memang menjadi target utama, namun nyatanya Soeharto lolos dari penculikan.

Sering menjadi pertanyaan dalam peristiwa G30SPKI adalah mengapa Soeharto lolos dari pembantaian PKI?

Soeharto merupakan salah satu jenderal yang lolos dari penculikan dan pembunuhan dalam peristiwa G30SPKI

Soeharto lolos dari penculikan dan pembunuhan yang dilakukan pasukan Cakrabirawa dalam tragedi G30SPKI.

Lolosnya Soeharto menimbulkan berbagai teori tentang dalang peristiwa G30SPKI .

Hingga timbul prasangka yang meyakini Soeharto-lah yang sebenarnya berada di balik peristiwa G30S/PKI dan pembantaian ratusan ribu orang yang menyusulnya.

Teori keterlibatan Soeharto didukung sebuah pertanyaan sederhana: Mengapa Soeharto tidak ikut diculik dan dibunuh oleh PKI seperti jenderal-jenderal lainnya?

Selama puluhan tahun, pemerintah Orde Baru dan sekolah mengajarkan peristiwa G30S adalah ulah Partai Komunis Indonesia (PKI).

Faktanya, penculikan dan pembunuhan para jenderal pada 1 Oktober 1965 tak bisa dilihat sebagai kesalahan tunggal PKI.

Peristiwa G30S akibat adanya kabar burung yang mengatakan adanya sekelompok jenderal atau Dewan Jenderal yang hendak mengudeta Presiden Sukarno.

Peter Kasenda dalam Kematian DN Aidit dan Kejatuhan PKI (2016) menulis, PKI mendapat informasi tersebut dari rekan mereka di militer yang merupakan simpatisan PKI.

Pada tahun 1965 militer pecah menjadi beberapa faksi yang saling memperebutkan pengaruh dan kekuasaan.

Diantaranya sebagian kecil yang simpati terhadap PKI. PKI adalah salah satu partai penguasa saat itu.

Kader-kader PKI sukses menduduki kursi dewan dan kursi pejabat.

Namun ada faksi-faksi yang justru anti terhadap PKI.

Setelah Perang Dunia II berakhir pada 1945, negara-negara pemenang saling bersaing memperebutkan pengaruh.

Di berbagai negara, persaingan yang dikenal dengan Perang Dingin ini membelah dunia menjadi dua.

Misalnya Uni Soviet dengan paham komunisnya. Dan ada Amerika Serikat dengan paham kapitalisnya.

Di tahun 1960-an, Sukarno dan PKI condong ke Uni Soviet dan antibarat.

Sedangkan Dewan Jenderal diyakini sejalan dengan Amerika Serikat yang ingin menyingkirkan Sukarno.

Dari keyakinan ini, para perwira militer yang loyal kepada Sukarno bergerak secara diam-diam untuk mencegah kudeta.

Diantaranya Kolonel Abdul Latief (Komandan Garnisun Kodam Jaya), Letkol Untung (Komandan Batalion Pasukan Pengawal Presiden Cakrabirawa), dan Mayor Sujono (Komandan Resimen Pasukan Pertahanan Pangkalan di Halim).

Mereka mendapat dukungan Sjam Kamaruzaman, Kepala Biro Chusus (BC) PKI yang merupakan badan intelijen PKI. Daftar jenderal yang jadi sasaran disusun oleh Sjam bersama para perwira militer.

Simpatisan pro PKI itu berencana "menculik" para jenderal dan membawanya ke hadapan Presiden Sukarno.

Ternyata rencana ini gagal total. Persiapan tidak dilakukan dengan matang. Para jenderal malah dibunuh.

Kolonel Abdul Latief (Komandan Garnisun Kodam Jaya) dalam kesaksiannya kepada Mahkamah Militer, Latief bercerita alasannya tidak memasukkan nama Soeharto.

Soeharto tidak masuk dalam daftar penculikan karena dianggap merupakan loyalis Presiden Soekarno.

Latief juga melapor ke Mayjen Soeharto yang kala itu menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat.

Langkah mengejutkan ini dilakukan Latief setelah laporannya tak ditanggapi oleh Pangdam Jaya Mayjen Umar Wirahadikusumah dan Pangdam Brawijaya Mayjen Jenderal Basoeki Rachmat.

Latief menyebut sudah beberapa kali mewanti-wanti adanya upaya kudeta oleh Dewan Jenderal.

Menurut Latief, Soeharto ketika itu hanya bergeming mendengar informasi itu.

Bahkan di malam 30 September 1965, Soeharto memilih mengabaikan Latief yang menyampaikan rencananya menggagalkan kudeta.

Soeharto mengakui ia bertemu dengan Latief menjelang peristiwa G30S.

Namun dirinya memberikan kesaksian yang berganti-ganti. Dalam wawancara dengan Der Spiegel pada 19 Juni 1970, Soeharto mengaku ditemui di RSPAD Gatot Subroto oleh Latief pada malam 30 September 1965.

Soeharto saat itu tengah menjaga anak bungsunya, Hutomo Mandala Putra alias Tommy yang dirawat karena luka bakar akibat ketumpahan sop panas.

Namun katanya, Latief tidak memberi informasi apa-apa, justru akan membunuhnya saat itu juga.

"Dia justru akan membunuh saya. Tapi karena saya berada di tempat umum, dia mengurungkan niat jahatnya itu," kata Soeharto.

Namun dalam otobiografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1988), Soeharto mengaku hanya melihat Latief dari kejauhan dan tak sempat berinteraksi.(*)

Artikel ini telah tayang di TribunCirebon.com dengan judul Soeharto Tak Masuk Daftar Jenderal yang Diculik Cakrabirawa Saat G30SPKI, Lolos Pembantaian

Editor: Alfin Wahyu Yulianto
Reporter: Tri Suhartini
Video Production: Yogi Putra Anggitatama
Sumber: Tribun Jabar

Tags
   #G30S/PKI   #Soeharto   #PKI
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved