Terkini Daerah

Tak Lepas dari Nuansa Islam, Begini Makna Ketupat dalam Ritual Tolak Bala Bulan Safar Suku Tidung

Rabu, 21 September 2022 18:42 WIB
Tribun Kaltara

TRIBUN-VIDEO.COM - Pemerintah Kabupaten Tana Tidung telah selesai melaksanakan tradisi tolak bala di bulan Safar hari ini, Rabu (21/9/2022)

Bahkan, dalam acara tolak bala tahun ini, Kabupaten Tana Tidung berhasil memecah rekor dunia penyediaan ketupat terbanyak berjumlah 67.693 ketupat.

Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tana Tidung, Irdiansyah mengatakan, dalam acara tolak bala ini, masyarakat biasanya membawa aneka macam makanan.

Baca: Tradisi Tolak Bala, Pemkab Tana Tidung Pecahkan Rekor Ketupat Terbanyak, 67.693 Ketupat Terkumpul

Namun, makanan yang menjadi ciri khas dalam tradisi masyarakat suku Tidung ini adalah imbiuku atau ketupat.

"Memang sudah menjadi kebiasaan dari zaman nenek moyang dulu, bahwa makanan yang menjadi ciri khas ini adalah ketupat. Kalau orang Tidung sebut itu imbiuku," ujarnya kepada TribunKaltara.com

Irdiansyah mengatakan, imbiuku ini terbuat dari pucuk daun nipah, yang mana dalam bahasa Tidungnya disebut daun umbus.

Imbiuku tersebut, kemudian diisi dengan beras ketan yang dicampur dengan santan kelapa, lalu direbus.

Hal pertama yang disediakan dalam ritual tolak bala ini adalah imbiuku dengan bermacam-macam bentuk

Dia menyampaikan, masing-masing bentuk ketupat ini memiliki makna yang tak lepas dari nuansa Islam.

Baca: Menilik Acara Tolak Bala di Siring Tideng Keramat Tana Tidung, Tradisi Turun Temurun Suku Tidung

Lantas, apa sebenarnya makna ketupat dalam tradisi tolak bala bulan Safar di masyarakat suku Tidung ini?

Dia menjelaskan, makna nasi ketan yang menjadi satu dalam bungkusan daun nipah ini melambangkan, bahwa masyarakat suku Tidung percaya adanya satu Tuhan, Allah SWT.

Sementara itu, ketupat berbentuk sudut lima melambangkan rukun Islam, yang memiliki lima pilar.

Kemudian, ada pula ketupat yang memiliki enam sudut. Ketupat ini melambangkan rukun Iman, yang memiliki enam dasar.

Dia mengatakan, adat tak bisa dipisahkan dengan agama. Dengan begitu, adat istiadat harus berdampingan dengan agama.

"Bila agama kita ditinggalkan, dikhawatirkan kita akan salah jalan. Jadi setiap tradisi atau adat-istiadat harus selalu berdampingan dengan agama," tuturnya.

# ketupat # Tradisi # Tolak Bala # ritual # Kabupaten Tana Tidung

Baca berita lainnya terkait Tolak Bala

Artikel ini telah tayang di TribunKaltara.com dengan judul Tak Lepas dari Nuansa Islam, Begini Makna Ketupat dalam Ritual Tolak Bala Bulan Safar Suku Tidung

Editor: Purwariyantoro
Video Production: Gianta Firmandimas Adya Mahendra
Sumber: Tribun Kaltara

KOMENTAR

Video TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved