travel
Jajal Es Puter yang Dijual Pak Warijo, Kuliner Klaten yang Unik dan Dijajakan Keliling Antar Kampung
TRIBUN-VIDEO.COM - Es puter, merupakan salah satu makanan tempo dulu yang masih eksis hingga saat ini.
Menurut berbagai sumber, es krim sederhana ini dulunya hanya ada di negara-negara Eropa.
Sejak masa penjajahan Belanda, es krim kemudian dibuat di Tanah Air, namun masyarakat pribumi tak bisa menikmatinya.
Tak habis akal, diceritakan bahwa warga pribumi kemudian menciptakan es krim sendiri dengan cara diputar-putar yang sekarang disebut es puter.
Dikutip TribunSolo.com dari Digital Collection Koninklijk Instituut Voor Taal - Landen Volkenkunde, menampilkan gambar orang pribumi sudah mulai menjajakan es puter diantara tahun 1906 hingga 1928.
Dari gambar terlihat, bahwa saat itu pedagang membawa es puter dengan cara dipikul dan masih menggunakan gelas kaca.
Sedangkan wadah untuk membawa es puter, masih terlihat mirip dengan yang saat ini digunakan para pedagang.
Seperti namanya, es puter dibuat secara manual dengan cara diputar dalam kurun waktu sekira 2 hingga 3 jam.
Tidak hanya caranya saja yang sederhana, namun bahan yang digunakan membuat es puter terbilang sederhana.
Bahan utamanya kelapa tua dibuat santan, dan beberapa jenis tepung serta pewarna.
Sedangkan bahan pendukungnya yaitu, es batu dan garam yang digunakan untuk membuat adonan itu menjadi es krim.
Diantaranya banyaknya penjual es puter di wilayah Kabupaten Klaten, salah satunya adalah Warijo (62) merupakan salah satu warga Bugel, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten yang sudah puluhan tahun berjualan es puter.
“Dulu awalnya diajak adik saya tahun 1977 merantau ke Jakarta, Di sana saya diajari membuat es puter,” ujar Warijo kepada TribunSolo.com Selasa (16/8/2022).
Baca: Joie Gelato Bandar Lampung Godaan Penikmat Es Krim, Ambience Cantik Buat Huting Foto atau Ngonten
Baca: Es Krim Rasa Vanilla Haagen-Dazs Ditarik dari Peredaran, BPOM RI Beberkan Alasannya
Sejak menguasai cara membuat es puter, Warijo lantas mulai jadi pedagang es keliling kampung-kampung di daerah Ibu Kota.
Namun, satu per satu warga yang merantau dan berjualan es puter memilih pensiun dan pulang kampung diantaranya lantaran faktor usia.
Salah satunya adalah Warijo memilih pulang kampung sejak 2019 lalu dan memindahkan bisnis yang selama itu ia jalani di kampung halamannya.
Setelah menguasai cara membuat es puter, Warijo lantas mulai mandiri menjadi pedagang es keliling kampung di Ibu Kota. Sesekali dia pulang kampung untuk mengirimkan tabungan dari hasil jualan kepada keluarganya.
Seiring waktu, satu per satu warga yang semula merantau dan berjualan es krim memilih pensiun dan pulang kampung. Salah satunya lantaran faktor usia.
Warijo juga memilih pulang kampung pada 2019 lalu. Namun, Warijo tetap menjalankan usahanya berjualan es puter dari kampung ke kampung di wilayah Klaten selama hampir tiga tahun terakhir.
“Biasanya sehari-hari jualan (es puter) sampai (Kecamatan) Wedi,” ujar Pria paruh baya itu.
Hingga kini, dirinya masih setia membuat es puter dengan cara tradisional.
Dalam satu kali proses produksi yang ia lakukan di rumahnya dia lakukan dalam beberapa jam.
Biasanya dirinya memulai membuat adonan pukul 02.30 WIB dan pukul 07.00 WIB es tersebut sudah siap untuk dijual.
Dia mulai mengolah berbagai bahan untuk membuat es puter dan mulai mengaduk adonan selama 2,5 jam.
"Kalau adonan sudah dimasukkan kedalam wadah stainless terus diputar-putar sekitar 2,5 jam," jelasnya.
Diungkapkan Warijo jika dirinya hanya menggunakan bahan-bahan alami untuk diolah menjadi es puter.
"Kalau bahan baku itu dari tepung sagu, tepung maizena dan tepung hunkwe. Sedangkan untuk mencairkan tepung itu pakai santan," ungkapnya.
Termasuk pewarna, es puter olahannya hanya dari buah-buahan seperti nangka untuk warna kuning, alpukat untuk warna hijau dan buah naga untuk mendapatkan warna ungu.
Sedangkan saat ini dirinya membuat warna merah-putih untuk menyambut HUT Kemerdekaan RI.
Dijelaskan Warijo, jika warna merah berasal dari stroberi sedangkan warna putih adalah warna asli santan tanpa pewarna tambahan.
Bagi Tribunners yang penasaran dengan es puter buatan Warijo, cukup merogoh kocek mulai dari Rp 1 ribu hingga Rp 5 ribu sesuai dengan ukuran.
Diantaranya, menggunakan gelas plastik, cone hingga roti. Sedangkan untuk taburannya bisa dengan mutiara hingga roti yang sudah dipotong dadu.
Soal omzet, dari modal Rp 200 ribu untuk membuat es puter, Warijo biasanya bisa meraih omzet Rp 350 ribu.
# es krim # Es Puter # santan # Klaten
Video Production: Ignatius Agustha Kurniawan
Sumber: TribunSolo.com
Local Experience
Rekomendasi 5 Wisata Hits Klaten yang cocok saat Libur Lebaran 2026
Selasa, 24 Maret 2026
Live Update
Umbul Kemanten Klaten Disebur 2.000 Pengunjung Per Hari saat Lebaran 2026, Kondisi Parkir Penuh
Senin, 23 Maret 2026
Local Experience
Ketan Mansour Bogor, Kuliner Ketan Kekinian dengan Es Krim Unik dan Harga Terjangkau
Senin, 23 Maret 2026
Tribunnews Update
H+1 Mudik 2026: Jalur Arteri Klaten Menuju Jogja Padat Merayap seusai Exit Tol Prambanan
Minggu, 22 Maret 2026
Tribunnews Update
Keluhkan Sistem One Way: Warga Asal Surabaya Ngaku Tempuh Waktu 2 Kali Lipat saat Mudik ke Jakarta
Kamis, 19 Maret 2026
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.