Terkini Daerah

Tambang Ilegal di Papua jadi Sasaran Edar Sabu, Barter Emas dengan Narkoba Kerap Terjadi

Sabtu, 6 Agustus 2022 09:37 WIB
Tribun Papua

TRIBUN-VIDEO.COM - Tambang emas ilegal di wilayah pegunungan Papua jadi sasaran empuk bagi pengedar narkoba meraup keuntungan.

Sebaliknya, para penambang dan warga setempat jadi ketergantungan akan barang terlarang tersebut.

Fakta ini diungkap Direktur Reserse Narkoba Polda Papua, Kombes Alfian di Jayapura, Kamis (4/8/2022).

Peredaran Sabu di pegunungan Provinsi Papua rupanya umumnya menggunakan jasa ekspedisi.

Harga jualnya sangat tinggi. Namun, ketergantungan membuat para pekerja terkhusus penambang ilegal yang punya penghasilan cukup tinggi membeli Sabu.

Jasa ekspedisi biasanya digunakan para pengedar untuk mengirim sabu masuk ke Papua.

"Narkotika ini masuk ke Papua dari Jakarta, Surabaya dan Makassar. Mereka biasa kirim pakai jasa pengiriman dan kargo kapal," ujar Alfian di Jayapura, Kamis (4/8/2022).

Umumnya pengiriman narkotika di Papua masuk melalui Jayapura dan Mimika, setelah itu baru tersebar ke kabupaten lain.

Kemudian, untuk sampai ke wilayah pegunungan, para pengedar hanya memiliki opsi pengiriman dengan jasa ekspedisi penerbangan karena belum tersedia akses transportasi darat.

Mengenai jumlah pengguna, Alfian belum bisa memastikannya.

Hanya ia meyakini cukup banyak pengguna sabu di pegunungan.

"Ini cepat sekali menyebarnya, pengaruh lingkungan sangat menentukan, lalu karena (sabu) barangnya kecil mudah dibawa dan mereka iuran untuk beli, sampai anak remaja sekarang sudah pakai," kata dia.

Baca: Sosok Anis Nabar Rekrutan Baru Persipura Jayapura, Pemain Asli Tanah Papua

Tambang ilegal

Alfian menyebut beberapa profesi yang biasa menjadi konsumen sabu , seperti para sopir dan penambang ilegal .

Namun, menurutnya, konsumen terbesar sabu di pegunungan Papua adalah para penambang ilegal karena mereka memiliki kemampuan membeli cukup tinggi.

Hal ini diketahui karena Diresnarkoba Polda Papua pernah survei di dua lokasi tambang di Papua yaitu Yahukimo dan Boven Digoel.

"Kalau di daerah tambang Yahukimo itu harganya mulai dari Rp 6 juta sampai Rp 20 juta per gram, tergantung kualitas barang," kata Alfian.

Dari hasil survei tersebut, para penambang umumnya mengaku menggunakan sabu agar bisa bekerja lebih lama.

Metode barter

Tingginya harga jual sabu di wilayah pertambangan ilegal membuat transaksi tidak menggunakan uang tunai.

Menurut Alfian, para penambang biasanya membeli sabu dengan sistem barter, sama ketika mereka melakukan pembelian bahan pokok.

"Mereka bayarnya pakai emas hasil tambang mereka," kata dia.

Makin banyaknya sabu masuk ke wilayah pertambangan ilegal membuat jumlah pengguna terus bertambah.

"Kita sempat survei ke (tambang ilegal ) Boven Digoel, rata-rata mereka di sana pakai (sabu). Alasannya itu tadi, untuk bisa kerja," ungkap Alfian.

Baca: Dinas Pertanian Papua Umumkan Ketersediaan Beras Surplus, Masyarakat Diminta Tak Khawatir

Ambil sikap

Informasi mengenai peredaran narkotika jenis sabu di wilayah pegunungan Papua rupanya belum banyak diketahui oleh pemerintah daerah (Pemda) setempat.

Seperti yang diakui Wakil Bupati Yahukimo Esau Miram yang belum tahu bahwa sabu sudah masuk ke wilayahnya.

"Sejauh ini kami pemerintah daerah belum mengetahui tentang distribusi narkotika, tapi kami akan segera berkoordinasi dengan kepolisian," ujarnya.

Esau pun menegaskan akan segera mendesak kepolisian untuk segera memberantas peredaran narkotika di Yahukimo.

Ia khawatir bila nantinya banyak pemuda setempat ikut terjerumus menggunakan narkotika.

"Kami harap segera ada tindakan tegas untuk mengatasi hal ini sebelum teraebar lebih luas lagi karena ini barang haram dan bisa merusak generasi muda di daerah," tutur Esau. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribun-Papua.com dengan judul GEMPAR! Tambang Ilegal di Papua jadi Sasaran Edar Sabu, Barter Emas dengan Narkoba Kerap Terjadi

Editor: Tri Hantoro
Video Production: Muhammad Taufiqurrohman
Sumber: Tribun Papua

Tags
   #tambang emas   #ilegal   #sabu
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved