Liputan Khusus
Menenggok Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta di Bukittinggi, Ada Sumur yang Jadi Sumber Air
TRIBUN-VIDEO.COM, BUKITTINGGI - Siapa yang tak kenal dengan Mohamad Hatta, Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia yang juga Bapak Proklamator Kemerdekaan Indonesia.
Ia merupakan putra kelahiran Bukittinggi, Provinsi Sumatra Barat (Sumbar). Rumah pertamanya berlokasi di Jalan Soekarno Hatta Nomor 37, Campago Ipuh, Kecamatan Mandiangin Koto Selayan.
Namun tak banyak yang tahu bagaimana fakta-fakta dari rumah kelahiran Bung Hatta —sapaan akrab Mohamad Hatta, yang kini difungsikan sebagai museum, yaitu Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta.
Terutama, rumah Bung Hatta yang kini berdiri kokoh merupakan replika dari bangunan sebelumnya roboh karena dimakan usia. Berikut ini rangkumannya:
1. Didirikan Sekitar Tahun 1860
Muhammad Taqwa, edukator Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta mengatakan, rumah kelahiran Bung Hatta dulunya mulai dibangun pada 1860-an oleh keluarga besarnya.
Arsitekturnya bertingkat dua dengan bahan utama kayu, mulai dari rangka, dinding, lantai, hingga platfon. Walakin, sebagian dinding juga terbuat dari anyaman bambu. Sementara bagian atap sudah dilapisi seng.
Rumah masa kecil Bung Hatta ini terbagi kedalam beberapa bagian yang terdiri dari empat kamar tidur, yaitu kamar paman Bung Hatta, nenek dan kakek serta kamar ibu Bung Hatta.
Kemudian dua ruang tamu, dan ruang makan, dapur, kamar mandi serta paviliun yang masing-masingnya berjumlah satu. Paviliun digunakan sebagai kamar Bujang Bung Hatta.
Selain itu, juga terdapat dua rangkiang (lumbung padi), kandang kuda, tempat bugi dan bendi yang semunya terpisah dengan bangunan utama rumah.
Lalu bagian depan rumah, sebelah kiri terdapat tempat penyimpanan barang dan ruangan yang sering dijadikan tempat belajar oleh Bung Hatta.
"Rumah ini dulunya dekat dengan bibir jalan," ujar Muhammad Taqwa saat berbincang dengan TribunPadang.com, Kamis (21/7/2022).
Baca: Melihat Sejarah dari Makam Sultan Mahmud Badaruddin II di Ternate
2. Ditinggali Bung Hatta 11 Tahun
Muhammad Taqwa menuturkan Bung Hatta lahir pada 12 Agustus 1902 di yang ketika itu Kota Bukittinggi masih bernama Fort De Kock. Nama ibunya adalah Salehah.
"Bung Hatta lahir di kamar ibunya di lantai dibantu oleh dukun beranak, karena dulu belum banyak dokter," kata Taqwa.
Bung Hatta tinggal di rumah kelahirannya hingga menamatkan pendidikan setingkat sekolah dasar di Europeesche Lagere School yang berlokasi di Padang pada 1913.
Selepas itu, Bung Hatta melanjutkan pendidikannya di Meer Uitgebred Lager Onderwijs (MULO), setingkat Sekolah Menengah Pertama di Kota Padang, hingga ke Handels Hogeschool di Rotterdam, Belanda.
3. Dingaun Ulang
Rumah kelahiran Bung Hatta kini berdiri kokoh bukanlah bangunan aslinya, melainkan bangunan baru yang dibangun menyerupai bangunan lamanya.
Rumah yang baru ini mulai dibangun pada November 1994, dan selesai pada 15 Januari 1995. Pembangunannya diinisiasi oleh Yayasan Pendidikan Wawasan Nusantara.
Muhammad Taqwa berkisah, sebelum dibangun ulang, lokasi rumah ini sempat terjual kepada seseorang bernama Haji Sabar, sekitar tahun 1960-an.
Pada tahun 1993, tanah yang berpindah tangan dibeli lagi oleh Pemerintah Kota Bukittinggi pada 1993 dan kemudian dibangun rumah baru yang akan difungsikan sebagai museum.
Proses penelitian sebelum dibangun sudah berlangsung sejak 1993. Penelitian ini dilakukan agar rumah yang akan dibagun menyerupai rumah aslinya.
Adapun Penanggung Jawab pembangunannya saat itu adalah Hasan Basri Durin, Ketua Yayasan Pendidikan Wawasan Nusantara, dan Syofjan Asnawi, Rektor Universitas Bung Hatta.
"Rumah ini dibangun semirip mungkin dengan rumah yang lama, mulai dari bangunannya, tata letak, hingga properti dan perkakas yang ada didalamnya," tutur Taqwa.
Perbedaan dengan rumah yang sebelumnya, taqwa menyebut terletak pada posisi rumah sekarang yang agak dimundurkan ke belakang karena termakan badan jalan.
Rumah yang selesai di bangun kemudian diresmikan pada 12 Agustus 1995, bertepatan dengan hari lahir Bung Hatta.
Bangunan dan museumnya diresmikan oleh Menteri Negara Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Azwar Anas.
Baca: Sejarah dan Fungsi Rumah Langko Desa Wisata Malangga Tolitoli
4. Sumur Tua
Meski bangunannya replika, Rumah Kelahiran Bung Hatta ini masih menyimpan sebuah peninggalan yang asli, saksi bisu riwayat Bung Hatta di rumahnya, yaitu sebuah sumur tua.
Sumur itu dulunya dibangun bersamaan dengan rumah keluarga besar Bung Hatta sebagai sumber air bersih utama.
Sekarang peninggalan sejarah tersebut berada persis di kamar paman Bung Hatta bernama Idris.
"Dulu sumur itu berada di dekat dapur. Karena posisi rumah berpindah atau agak mundur dari yang sebelumnya, jadi sumur itu masuk ke dalam kamar paman Idris," terang Taqwa.
Dia merinci, sumur tersebut memiliki kedalaman sekitar sembilan meter dengan lebar sekira dua meter. Tipe sumurnya adalah sumur galian.
Sekarang sumur tersebut masih difungsikan sebagai sumber air bersih bagi museum. Sebagai keamanan, sumur itu kini ditutupi dengan pintu besi dan papan.
(*)
# sejarah # bunghatta # bukittinggi # museum # bukittinggi # pahlawannasional # pahlawan # bangunanbersejarah # Museum # Bung Hatta # Bukittinggi # Mohammad Hatta
Video Production: Latif Ghufron Aula
Sumber: Tribun Padang
Local Experience
Museum Petilasan Mbah Maridjan, Saksi Bisu Erupsi Merapi 2010 yang Mengabadikan Jejak Tragedi Alam
Rabu, 8 April 2026
Local Experience
Petilasan Mbah Maridjan Magnet Wisata Ikonik di Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi yang Bersejarah
Rabu, 8 April 2026
Local Experience
Bung Hatta Diasingkan Belanda ke Banda Neira 1936, Bersama Syahrir dan Cipto Mangunkusumo
Rabu, 1 April 2026
Local Experience
Museum Radya Pustaka, Saksi Sejarah dan Warisan Budaya Surakarta
Kamis, 26 Maret 2026
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.