Beredar Video Anak Indonesia Menjadi Prajurit ISIS, Imigrasi Kecolongan?

Rabu, 18 Mei 2016 16:19 WIB
Sumber Lain

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Sebuah video latihan perang ISIS berdurasi 20 menit beredar viral di soSial media.

Mirisnya, peserta latihan itu adalah anak-anak Indonesia yang berbahasa Indonesia.

Dalam video itu juga ditunjukan adegan pembakaran paspor Indonesia oleh anak kecil usia 8 tahunan.

“Kalau melihat kualitasnya, video itu pasti dibuat di Suriah,” ujar pengamat intelijen dan terorisme UI Ridlwan Habib di Jakarta (18/5/2016).

Dalam video itu, anak anak Indonesia berlatih beladiri dan menembak dengan senapan asli AK 47.

Ada juga sosok Abu Faiz al Indunesy yang di Suriah menjadi seorang sniper atau penembak jitu.

Menurut Ridlwan, hal ini bisa menjadi masalah serius di masa depan.

“Dalam video lengkapnya itu saya hitung ada 23 anak-anak usia 8 hingga belasan tahun. Bayangkan dalam 3 tahun ke depan mereka sudah dewasa dan pulang ke Indonesia,” ujarnya.

Latihan ISIS untuk anak-anak, lanjutnya, memang tidak hanya dilakukan oleh anggota dari Indonesia.

“Tapi melihat begitu banyaknya anak-anak Indonesia yang sudah berhasil masuk ke Suriah, ini harus jadi evaluasi serius pihak Imigrasi,” katanya.

Alumni S2 Kajian Intelijen Universitas Indonesia itu melanjutkan, dalam video itu diajarkan ideologi memerangi pemerintah dan aparat.

Bahkan anak-anak kecil sudah terang-terangan menantang aparat keamanan Indonesia.

“Adik-adik itu adalah korban dari orangtuanya yang memang sudah mantap bergabung ke Isis,” kata Ridlwan.

Pemerintah, lanjutnya, mempunyai dua alternatif. Pertama, melakukan blokade total atau cekal bagi anggota Isis asal Indonesia yang hendak pulang dari Suriah.

“Mereka tidak boleh masuk lagi ke Indonesia, atau mereka harus diawasi dengan sangat ketat,” katanya.

Yang kedua, menurut Ridlwan, dilakukan penjemputan terhadap anak-anak kecil yang sekarang berada di Suriah.

“Anak-anak masih dalam perlindungan negara. Mereka bisa saja diambil dari orang tuanya jika tidak mau bersama-sama pulang ke Indonesia,” katanya.

Opsi kedua itu membutuhkan perencanaan matang dan sumber daya yang luar biasa.

“Setidaknya harus ada beberapa skenario penjemputan, termasuk pengerahan pesawat militer dan kapal perang sebagai sarana transportasinya,” katanya. (*)

Editor: Mohamad Yoenus
Sumber: Sumber Lain
Tags
   #ISIS   #Imigrasi   #Indonesia
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved