Konflik Rusia vs Ukraina
Tentara Ukraina yang Terjebak di Mariupol Dipaksa Berperang & akan Dieksekusi jika Menyerah ke Rusia
TRIBUN-VIDEO.COM - Pimpinan Chechnya Ramzan Kadyrov mengungkapkan bagaimana para tentara Ukraina diperlakukan secara tak manusiawi oleh komandan mereka.
Diketahui kini masih tersisa sejumlah tentara Ukraina yang bertahan di pabrik baja Azovstal yang berada di Kota Mariupol.
Kadyrov menjelaskan, para tentara Ukraina itu saat ini dipimpin oleh batalion nasionalis Ukraina yang bersikap keji bahkan terhadap rekan seperjuangan mereka sendiri.
Dikutip TribunWow.com dari Tass.com, Kadyrov lewat akun Telegram miliknya menjelaskan bagaimana para tentara Ukraina yang terjebak di dalam Mariupol dipaksa untuk terus berperang oleh komandan mereka.
Baca: Rusia Akhirnya Akui Kapal Moskva Tenggelam Terkena Rudal Ukraina, 27 Prajurit Hilang dan 1 Tewas
Informasi ini diperoleh Kadyrov seusai bertanya ke seorang tawanan perang.
Batalion nasionalis Ukraina yang kini memimpin para tentara Ukraina di Azovstal disebut akan menembak mati para tentara yang memilih untuk menyerah ke Rusia.
"Menurut keterangan tawanan, mayoritas dari mereka yang terkurung di belakang tembok tebal pabrik ingin cepat-cepat pergi meninggalkan wilayah sambil memegang bendera putih," ungkap Kadyrov.
"Namun inisiatif ini tidak didukung oleh sang komandan batalion nasionalis."
"Kami telah mengkonfirmasi informasi tentang mengeksekusi mati anggota mereka sendiri yang ingin menyerah," papar Kadyrov.
Kadyrov menyampaikan, batalion nasionalis juga telah menyebarkan disinformasi kepada anggota mereka tentang nasib para tahanan perang di tangan Rusia.
Baca: Pengakuan Rusia mengenai Adanya Penyerangan ke Kapal Moskva Miliknya, 1 Tentara Tewas & 27 Hilang
Diketahui pemerintah Rusia telah memberikan kesempatan kepada pasukan militer Ukraina di Mariupol agar menyerah.
Namun beberapa tentara Ukraina tetap enggan menyerah dan memutuskan untuk melawan Rusia hingga titik darah penghabisan.
Beberapa di antaranya bertahan di pabrik baja Azovstal yang berada di Mariupol.
Dikutip TribunWow.com dari Sky News, Mayor Serhiy Volyna menyatakan pasukannya yakni brigade marinir ke-36 akan terus bertempur melawan Rusia.
Baca: Bank Dunia Prediksi Kerugian Ukraina Naik hingga Mencapai 60 Miliar Dolar AS akibat Invasi Rusia
Lewat sebuah video, Volyna menyampaikan sebuah permohonan kepada para pemimpin dunia untuk membantu Mariupol dan Ukraina.
"Ini adalah pesan kami kepada dunia. Ini mungkin jadi pesan terakhir kami," ucap Volyna.
"Kami mungkin hanya memiliki beberapa hari atau jam tersisa."
"Kekuatan musuh 10 kali lebih besar dibandingkan kami. Mereka menguasai udara, artileri, tank dan unggul dalam kendaraan tempur."
Volyna mengatakan, misinya dan pasukannya di Mariupol adalah mempertahankan pabrik baja Azovstal.
"Kami meminta kepada para pemimpin dunia untuk bantu kami," kata Volyna.
Volyna ingin agar dirinya dan para pasukannya dievakuasi ke negara dunia ketiga.
Menurut Volyna ada 500 tentara yang terluka, dan ratusan warga sipil di Mariupol termasuk wanita dan anak-anak yang belum dievakuasi.
"Kami meminta diberikan keamanan di teritori negara dunia ketiga," ujar Volyna.
Peperangan antara Rusia dan Ukraina pada hari ke-57, masih terkonsentrasi di wilayah sekitar perbatasan dua negara.
Sementara kondisi di Mariupol semakin kritis, kota-kota Ukraina lain melaporkan adanya ekskalasi serangan.
Rusia juga dikabarkan mulai melancarkan serangan lain di samping agresi militer, di antaranya adalah pengerahan ancaman siber terutama bagi sekutu NATO.
Dilansir dari The Guardian, Kamis (21/4/2022), berikut sejumlah poin perkembangan konflik Ukraina dan Rusia pada hari ke-57 yang disusun TribunWow.com. (*)
(TRIBUN-VIDEO.COM/TRIBUNWOW.COM)
Artikel ini telah tayang di TribunWow.com dengan judul Dipaksa Berperang, Tentara Ukraina yang Terjebak di Mariupol akan Dieksekusi jika Menyerah ke Rusia.
#Tentara Ukraina #Ukraina #Mariupol #eksekusi #Rusia
Sumber: TribunWow.com
TRIBUNNEWS UPDATE
Perang Iran Disebut Ganggu Pasokan Senjata AS ke Ukraina, Zelensky Soroti Risiko Pertahanan Udara
14 jam lalu
Mancanegara
Iran Gelar Karpet Merah untuk Rusia & Spanyol! Bebas Tol Selat Hormuz Tanpa Bayar Sepeserpun
21 jam lalu
TRIBUNNEWS UPDATE
Iran Beri Rusia & Spanyol Karpet Merah, Bisa Melintas Bebas di Selat Hormuz Tanpa Bayar Tarif Tol
1 hari lalu
Terkini Daerah
Dipiting dari Belakang! Jurnalis Warta Kota Alami Kekerasan saat Liputan Eksekusi Lahan di Jaktim
1 hari lalu
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.