Masjid Tua Al Mujahidin Jadi Pusat Penyebaran Agama Islam di Bone, Punya 9 Pintu Masuk
TRIBUN-VIDEO.COM - Inilah masjid pertama di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Masjid Tua Al Mujahidin, letaknya di Jl Sungai Citarum, Kelurahan Bukaka, Kecamatan Tanete Riattang, Bone, Sulsel.
Tempat ibadah umat Islam ini dibangun pada masa Raja Bone ke-13 La Maddaremmeng.
La Maddaremmeng memimpin Kabupaten Bone pada tahun 1631 hingga tahun 1644.
Al Mujahidin didirikan oleh Sultan Faqih Amrullah.
Ia diutus oleh Raja Gowa ke-15 Malikussaid ayah Sultan Hasanuddin untuk mengajarkan agama Islam kepada keluarga kerajaan serta masyarakat Bone.
Masjid Al Mujahidin pada awalnya dibuat dengan bahan kayu.
Baca: Cerita Masjid Golo Klaten, Masjid Peninggalan Sunan Pandanaran yang Pernah Diturunkan dengan Benang
Kemudian direnovasi oleh Raja Bone ke-22 La Temmasonge.
Lalu direnovasi kembali oleh Raja Bone ke-32 Andi Mappanyukki.
Luas bangunan ini terinspirasi dari ukuran Ka'bah di Mekah.
Bentuknya pun tak berubah hingga saat ini meski telah direnovasi.
Masjid ini dibuat memiliki sembilan pintu masuk.
"Ini terinspirasi dari wali sembilan songo," kata Ketua Pengurus Masjid Tua Al Mujahidin Bone, Mahyudin Syahid.
Selain itu bangunan ini memiliki empat tiang penyangga.
"Kalau tiang penyangga sebagai simbol sahabat Rasulullah SAW," terang Mahyudin.
Baca: Ngabuburit di Taman Malaqbi dan Jembatan Masjid Baitul Anwar Sulbar, Jadi Favorit Warga
Adapun empat sahabat Rasulullah SAW yang dimaksud dalam Khulafaur Rasyidin yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
Hal unik ada di masjid ini, yaitu dua guci keramik peninggalan Dinasti Ming dipasang di atas mimbar dan diatas kubah.
Masjid Tua Al Mujahidin mampu menampung jamaah hingga 500 orang.
Pada halaman belakang masjid terdapat kompleks makam Raja Bone.
Ada Raja Bone ke-24, 25, 26 dan Raja Bone ke-27.
Kompleks makam Raja Bone itu disebut kompleks Lalebbata.
Sejarah Masjid Tua Al Mujahidin begitu membekas di hati warga Bone.
Bagaimana tidak, Raja ke-13 La Maddaremmeng dikecam masyarakatnya.
Sebab ia memeluk agama Islam tanpa persetujuan Dewan Adat.
"Dewan adat marah dan tidak menerima lagi La Maddaremmeng sebagai Raja," kata Budayawan Bone, Andi Yushan Tenri Tappu, Jumat (15/4/2022).
Ia dianggap melanggar aturan adat sistem kepercayaan di Bone.
La Maddaremmeng lalu meninggalkan tanah kelahirannya untuk menimbah ilmu Agama.
Kemudian tinggal dan menyebarkan agama Islam di Bantaeng.
"La Maddaremmeng diangkat menjadi Raja dan mangkat di Bantaeng," jelas Andi Yushan Tenri Tappu.
Sebelum memeluk Islam, masyarakat Bone memiliki sistem kepercayaan animisme.
(Tribun-Video.com)
# masjid # sejarah # penyebaran # agama # Bone # Islam
Sumber: Tribun Video
Tribunnews Update
IRGC Persilahkan Komandan Angkatan Udara AS Segera Mundur Usai Iran Klaim Berhasil Cegat Jet F-15E
6 hari lalu
Berita Terkini
Media Iran Sebut Pentagon Berusaha Bunuh Pilot Sendiri Usai Gagal Diselamatkan
6 hari lalu
Local Experience
Candi Rambut Monte Blitar Peninggalan Majapahit yang Sarat Legenda Resi dan Dua Mata Air Suci
6 hari lalu
Local Experience
Keunikan Hiasan Kala Candi Rambut Monte Kepala Manusia dan Ular yang Jadi Asal Nama Monte
6 hari lalu
Local Experience
Asal-usul Telaga Rambut Monte Kisah Mbah Monte, Muridnya, dan Legenda Ikan Dewa di Blitar
6 hari lalu
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.