Rabu, 8 April 2026

Perguruan Pencak Silat di Kabupaten HSS Ini Tetap Bertahan di Zaman Modern

Sabtu, 26 Agustus 2017 18:50 WIB
Banjarmasin Post

TRIBUN-VIDEO.COM - Gerakan lincah dan cekatan dilakukan Anisa Fitri(20) mengikuti alunan musik karawitan yang didominasi suara gendang dan serunai.

Mengenakan pakaian hitam, Anisa Fitri melakukan gerakan jurus-jurus pencak silat tradisional mulai gerakan tangan dan kakinya seirama dengan lantunan musik yang dimainkan oleh rekan-rekannya.

Suasana malam yang cukup dingin, tidak membuat Anisa Fitri mengendorkan semangat melakukan latihan gerakan pencak silat tradisonal yang biasa mereka sebut kuntau.

Tidak hanya Anisa Fitri, sejumlah rekan-rekan lainnya juga tetap bersemangat berlatih meski hanya latihan di tanah lapang yang beratapkan terpal, Selasa (22/8/2017).

Mereka rela berlatih hingga tengah malam hanya untuk menghafal jurus-jurus yang diberikan oleh para gurunya.

Achmad Fikry (8) bocah kecil ini juga begitu lihai memperagakan gerakan kuntau. Seiring perkembangan zaman dan banyaknya permainan modern, tidak menyurutkan motivasinya mempelajari seni beladiri tradisional yang saat ini mulai kurang diminati oleh bocah seusianya.

Tergabung dalam Perguruan Purbayaksa Jasa Datu di Desa Tabihi Lajar Kecamatan Padang Batung, latihan pencak silat tradisional itu dilakukan dalam dua kali dalam sepekan.

Latihan juga harus dilakukan pada malam hari, yakni malam Rabu dan malam Minggu dari pukul 20.00-01.00 Wita. Latihan malam dilakukan agar tidak menggangu proses belajar akademik murid-murid perguruan yang lahir dari Perguruan Jasa Datu ini.

Perguruan pencak silat tradisional yang berdiri pada 1992 ini harus bertahan seiring dengan perkembangan kemajuan teknologi yang melahirkan banyak jenis permainan modern.

Jumlah anggota yang masih aktif dan bertahan sampai saat ini hanya berkisar 30 orang mulai dari lulusan SD hingga perguruan tinggi.

Masa kejayaan perguruan ini terjadi pada 1998 dan 2014 yang mampu menampilkan murid-muridnya di festival silat tradisional tingkat nasional di Jakarta. Saat ini, meski dengan padepokan sederhana, perguruan ini terus mempertahankan seni bela diri tradisional yang lahir di Hulu Sungai Selatan (HSS) puluhan tahun lalu.

"Awalnya saya memang suka olahraga beladiri. Selanjutnya saya menekuni olahraga kuntau ini karena tertarik dengan gerakan-gerakan yang unik dan mengangkat seni bela diri tradisional," kata Anisa Fitri, kemarin.

Dia berharap, seni bela diri kuntau masih tetap bisa bertahan seiring banyaknya olahraga dan permainan modern yang ada saat ini. Baginya, latihan malam hari tidak ada kendala meski cuaca dingin.

Senada, Ahmad Fikri mengaku senang mempelajari gerakan-gerakan kuntau yang berbeda dengan olahraga bela diri lainnya.

Meski harus latihan hingga larut malam, Ahmad Fikri mengaku tetap bersemangat bersama rekan-rekannya.

Seni beladiri tradisional Kuntau masih bisa disaksikan oleh masyarakat HSS saat ada acara besar hari nasional atau acara perkawinan.

Guru Yuyus Darmawan dari Perguruan Purbayaksa menuturkan sejarahnya, kuntau berasal dari seni bela diri aliran kungfu China yang disebut kungtao.

"Ilmu dan gerakan yang kita turunkan sumbernya dari perguruan Jasa Datu. Awalnya Kuntau diperkenalkan dan diajarkan oleh guru Jambrah asal Desa Bamban, Kecamatan Angkinang, HSS," ceritanya.

Ilmu yang didapatkan guru Jambrah sendiri setelah pada masa mudanya, guru Jambrah sekitar tahun 1930 an merantau ke daerah Sumatera dan mendapatkan ilmu di sana.

"Untuk arti kuntau sendiri bermakna kepalan tangan. Kita terus berupaya untuk melestarikan senibela diri tradisional ini dengan berusaha melakukan regerasi penurus kita," tambahnya.(Banjarmasin Post/Aprianto)

Editor: Novri Eka Putra
Video Production: Novri Eka Putra
Sumber: Banjarmasin Post

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved