Mancanegara
Sempat Ditentang Dokter, Pria di Kolombia Jalani Suntik Mati, Ucap Sampai Jumpa Lagi
TRIBUN-VIDEO.COM - Pria bernama Victor Escobar (60) menjadi orang Kolombia pertama yang meninggal dengan euthanasia legal meski tidak memiliki penyakit mematikan.
Dilansir NBC News, Escobar menjalani prosedur suntik mati tersebut pada Jumat (7/1/2022), Luis Giraldo pengacaranya mengonfirmasi.
"Kami mencapai tujuan untuk pasien seperti saya, yang tidak miliki penyakit terminal, tetapi degeneratif, untuk memenangkan pertempuran ini, pertempuran yang membuka pintu bagi pasien lain yang datang setelah saya dan yang saat ini menginginkan kematian yang bermartabat," ujar Escobar, dalam pesan video yang dikirim ke media oleh Giraldo.
Escobar menderita penyakit paru obstruktif kronik stadium akhir.
Penyakit itu sangat mengurangi kualitas hidupnya, serta sejumlah kondisi lainnya, ujar Giraldo kepada Reuters.
Prosedur tersebut dilakukan di sebuah klinik di Cali, ibu kota provinsi Valle del Cauca, Kolombia.
"Saya tidak mengucapkan selamat tinggal, hanya 'sampai jumpa lagi'," kata Escobar.
Escobar telah berjuang selama dua tahun mengejar haknya untuk di-euthanasia.
Ia sempat menghadapi tentangan dari dokter, klinik, dan juga pengadilan.
Baca: Gembong Narkoba Kolombia Dibekuk, Eva Celia Menikah di 2 Negara, Kebijakan Baru Bos Newcastle United
Martha Sepulveda
Sehari setelahnya, atau pada Sabtu (8/1/2022), orang Kolombia kedua, Martha Sepulveda, yang menderita amyotrophic lateral sclerosis (ALS) atau Penyakit Lou Gehrig, juga di-eutanasia.
Kelompok advokasi hak hukum Kolombia DescLAB, yang mendukung kasusnya, menyebut Sepulveda di-eutanasia di Kota Medellin.
Sepulveda telah didiagnosis dengan penyakit Lou Gehrig pada tahun 2018.
Ia harusnya di-eutanasia pada 10 Oktober tahun lalu, tetapi prosedurnya dihentikan mendadak.
Pejabat kesehatan menangguhkan prosedur itu dengan alasan kesehatannya membaik.
Meskipun ALS secara progresif dapat melumpuhkan tubuh hingga penderitanya meninggal, prosesnya bisa memakan waktu bertahun-tahun dan Sepúlveda tidak dianggap menderita sakit parah.
Diberitakan Tribunnews.com Oktober 2021 lalu, beberapa hari sebelum tanggal euthanasia yang ditetapkan, Sepulveda diwawancarai televisi lokal Noticias Caracol.
Ia bercerita bagaimana hari-harinya merasa lebih tenang dan damai menjelang euthanasia.
"Dalam keadaan saya ini, hal terbaik yang bisa terjadi pada saya adalah beristirahat," katanya.
Kolombia adalah negara pertama di Amerika Latin yang mendekriminalisasi euthanasia sejak tahun 1997.
Kolombia juga merupakan salah satu dari sedikit negara di dunia yang prosedur euthanasia-nya dianggap legal.
Namun, hingga tahun ini, euthanasia hanya diperbolehkan pada pasien dengan penyakit terminal, yaitu pasien dengan harapan hidup 5-6 bulan.
Pada 22 Juli 2021, Mahkamah Konstitusi Kolombia memperluas hak, mengizinkan prosedur euthanasia asalkan pasien menderita penderitaan fisik atau mental yang intens akibat cedera tubuh atau penyakit serius dan tidak dapat disembuhkan, menurut badan EFE.
Setelah mendengar keputusan itu, empat hari kemudian, Sepulveda mengajukan izin euthanasia.
Permintaannya dikabulkan pada 6 Agustus 2021.
"Saya lebih tenang sejak prosedur itu disahkan. Saya lebih banyak tertawa, saya tidur lebih tenang," katanya.
Sepulveda telah mendapat dukungan sebagian besar keluarganya.
Sebelas saudara kandungnya setuju dengan prosedur tersebut.
Keputusannya juga menjalani euthanasia menuai kritik keras, apalagi di negara dengan mayoritas penganut Katolik Roma dan di mana gereja masih menyebut eutanasia sebagai "pelanggaran serius."
Baca: Pria Paruh Baya di Surabaya Tersambar Kereta, Tubuhnya Terpental 5 Meter, Sempat Terlihat Linglung
Konferensi Waligereja Kolombia bahkan kritik setelah keputusan pengadilan pada bulan Juli.
Monsignor Francisco Antonio Ceballos Escobar mengatakan bahwa euthanasia adalah "pembunuhan yang sangat bertentangan dengan martabat pribadi manusia dan rasa hormat ilahi dari penciptanya."
Ia juga menyebut sebaiknya negara merawat orang sakit daripada memfasilitasi prosedur euthanasia, outlet berita lokal melaporkan.
Sepulveda sebenarnya menyadari hal itu.
Ia juga telah mendiskusikannya dengan para pendetanya.
"Saya tahu bahwa pemilik kehidupan adalah Tuhan, ya. Tidak ada yang bergerak tanpa kehendaknya," katanya.
Namun, dia juga berpikir Tuhan mengizinkan tindakannya.
sia. (*)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Pria di Kolombia Jalani Suntik Mati: Saya Tidak Ucapkan Selamat Tinggal, Hanya 'Sampai Jumpa Lagi'
# suntik mati # Kolombia # dokter
Video Production: Tegar Melani
Sumber: Tribunnews.com
TRIBUNNEWS UPDATE
Fakta Lupus yang Jarang Diketahui: Jangan Percaya Mitos, Dokter Ungkap Dampaknya Bisa Fatal
2 hari lalu
Terkini Nasional
Kritik Keras Dokter Tifa Terkait Safari Politik Jokowi, Sentil Kaesang Gunakan Ayah Sebagai E-Toll
3 hari lalu
Terkini Nasional
Soroti Rencana Jokowi Blusukan Bantu PSI, Dokter Tifa Sindir Kaesang Pangarep di Media Sosial
3 hari lalu
Terkini Nasional
Sindiran Menohok Dokter Tifa soal Jokowi Safari Politik: Kaesang Jadikan Ayah E toll Masuk Senayan
3 hari lalu
Terkini Nasional
Jokowi Siap Safari Politik, Dokter Tifa Sindir Kaesang Jadikan sang Ayah 'E Toll Masuk Senayan'
3 hari lalu
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.