Terkini Daerah

Sukses Panen Pertama Hasilkan 9,4 Ton, Demplot Bawang Merah Berpotensi Dikembangkan di Tarakan

Jumat, 3 Desember 2021 09:11 WIB
Tribun Kaltara

TRIBUN-VIDEO.COM – Tahun ini untuk pertama kalinya Kelompok Tani Flora dan Fauna Mandiri berhasil melakukan panen perdana program pengembangan bawang merah di Jalan H. Abdul Wahab, Kelurahan Juata Permai.

Total ada sekitar satu hektare yang disiapkan awalnya oleh kelompok tani namun yang ditanami seluas seperempat hektare dengan jumlah tiga titik di satu kawasan yang sama.

Ini merupakan kegiatan demplot yang diinisiasi Bank Indonesia bersama Dinas Pangan dan Pertanian Kota Tarakan.

Sebenarnya panen ini kata Sri Darmawan, Ketua Kelompok Tani Flora dan Fauna Mandiri, seharusnya sudah dilakukan sekitar lima hari yang lalu.

Namun kondisi bawang masih cukup baik dan mulai hari ini dan besok ditarget kembali panen dilanjutkan. Sri Dermawan membeberkan usia bawang merah yang dipanen berkisar 50 sampai 60 hari.

Ia mengakui mulai tanam sejak awal Oktober lalu.

Baca: Petani Bawang Merah di Tapin Pilih Bibit Biji untuk Hasil yang Lebih Besar

Berbeda jika bawang merah ditanam di dataran tinggi bisa membutuhkan waktu sekitar 70-80 hari masa tanam.

“Kami di Tarakan bisa buktikan sekitar 47 hari sudah bisa dipanen. Ini tanam pertama dan panen perdana dan kami memang bertahap karena ada beberapa titik yang memang tidak bisa ditinggalkan,” ujarnya.

Sri melanjutkan, sebelumnya di titik lainnya juga sudah dilakukan panen bawang merah dan sudah ada yang kering.

Jika mengacu perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan, target per hektare di lahan milik Kelompok Tani Flora dan Fauna Mandiri mencapai 9,4 ton per haktare. Itu jika dalam satu hektare semua ditanami bawang merah.

Karena ini demplot lanjut Sri, ke depannya melihat peluang swasembada bawang merah di Kota Tarakan, pihaknya akan berencan melakukan produksi bibit yang menyesuaikan iklim di Kota Tarakan.

Ia melanjutkan, jenis bibit yang digunakan saat masa awal tanam adalah yang sudah bersertifikat yakni jenis bibit bawang merah Bima Brebes.

Bibit ini didatangkan langsung dari Brebes sebesar 1,2 ton.

Sri mengungkapkan, keberhasilan panen tahun ini tak lepas dari kepiawaian petani dalam menerapkan teknik tanam dan menu menanam masing-masing.

“Dari tiga titik yang ditanam diterapkan menu dan perlakuan yang berbeda. Hasilnya juga berbeda. Kuncinya pertama ada di petani, kemudian dari benih dan perlakuan,” bebernya.

Perlakuan sendiri kata Sri Darmawan, harus bisa menyesuaikan kondisi cuaca labil di Kota Tarakan. Tarakan diketahui memiliki perkiraan cuaca yang bisa saja meleset.

Sebagai petani harus berusaha mengantisipasi saat curah hujan tinggi.

Otomatis kata Sri, risiko bisa lebih besar. Itu menjadi kunci, mengatasi curah hujan dengan beberapa teknik dan perlakuan.

Dalam satu lubang sendiri awal tanam hanya diisi satu umbi saja. Dan hasilnya setelah masa tanam 47 hari ada dalam satu lubang berisi 7,8 sampai 12 umbi bawang merah.

“Bervariasi, besaran juga berbeda. Kalau semakin banyak umbinya rata ukurannya. Kalau banyak yang besar, isi dalam lubang lebih sedikit,” jelasnya.

Diperkirakan dalam setahun jika komitmen menanam, bisa sampai empat kali.

Sri mengestimasikan mulai dari proses pematangan lahan, olah tanah, semai bibit dan tanam bibit bisa membutuhkan waktu 2,5 bulan.

Itu jika stok bibit selalu ada saat akan masa tanam dimulai. Karena untuk proses menjadikan bibit saja membutuhkan waktu sekitar 60 hari.

“Juga menyesuaikan kondisi cuaca. Kalau melihat cuaca Tarakan, curah hujan tinggi mulai November, Desember, Januari dan Februari. Maka mulai Maret, sudah bisa dilakukan penanaman,” jelasnya.

Hal yang harus diantisipasi dengan kondisi Tarakan yang terus-menerus terjadi hujan yakni jangan sampai bawang merah berjamur.

Curah hujan tinggi bisa sebabkan tanaman rusak dan menimbulkan jamur. Cara mengantisipasinya kata Sri, dilakukan pestisida.

Tahun depan lanjutnya, jika melihat keberhasilan panen pertama tahun ini kata Sri, bisa diperkirakan bertahan di angka 9,6 ton kering.

Target pasti ada kata Sri, dan ia berharap lebih dari target karena ia juga berencana mengubah SOP menyesuikan kondisi cuaca Tarakan.

“Kemarin tanam perdana kan masih menggunakan SOP dari Jawa,” jelas pria yang juga merangka sebagai Sekretaris Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Tarakan.

Baca: Keluhkan Harga Bawang Putih Anjlok, Petani Tawangmangu Pilih Menunggu daripada Langsung Dijual

Dari pengalaman penanaman bawang yang sudah pernah dilakukan, memang hasil perlakuan dan teknik ikut andil menyukseskan masa panen.

Terbukti dari tiga titik yang ditanam di lokasi yang dilakukan panen pada Minggu (28/11/2021) kemarin yang paling berhasil.

Kelompok tani yang diketuai Sri sendiri sebelumnya sudah sering melakukan panen selain bawang merah. Karena kelompok tani ini bergerak di bidang peternakan dan pertanian.

“Ada juga pengolahan hasil produksi yaitu cincau hijau. Juga peternak kelinci dan kambing, menanam lemon tanpa biji dan menanam melon kami tanam sekarang. Sekitar Natal dan Tahun baru semoga bisa buka wisata petik buah lagi,” ujarnya.

Ia melanjutkan, sebenarnya sangat bisa mencukupi kebutuhan Kota Tarakan dan ia menilai ini peluang sangat besar.

Itu jika petani di Kota Tarakan sama-sama mau mengembangkan potensi bawang di Kota Tarakan.

“Peluang itu ada. Tinggal petaninya mau atau tidak. Kita menanam pun di tengah cuaca ekstrem di akhir tahun masih bisa diatasi,” urai Sri Darmawan.

Apalagi jika ditanam di waktu curah hujan rendah mulai Maret hingga April.

Yang menjadi persoalan sebenarnya bukan di pengembangan potensi bawang merah melainkan kepemilikan lahan karena rerata masih berstatus lahan pinjam.

“Untuk mengembangkan bawang merah pasti kami berharap dukungan petani lain,” ungkapnya.

Hasil panen tahun ini rencananya akan dipilih hasil panen terbaik dijadikan bibit. Sehingga penyediaan stok bibit sudah bisa dilakukan di Tarakan tidak perlu mendatangkan dari luar.

“Pertimbangannya bibit di sini sudah menyesuaikan kondisi iklim dan cuaca di Tarakan,” ujarnya.

Rencana untuk pemasaran lanjutnya masih akan dianalisa pihaknya mana saja yang akan dijadikan bibit dan akan dikonsumsi sendiri serta dipasarkan.

Harga bawang merah dinamis dan turun naik. Jika pasokan banyak maka tentu harga ikut turun. Jika pasokan berkurang, harga bisa melambung.

Saat ini kondisi harga bawang merah di Tarakan di bawah harga rata-rata karena stok berlimpah, bisa di kisaran Rp 25 ribu per kilogram.

Untuk standar harga stabil sebenarnya di kisaran Rp 30 ribu sampai Rp 40 ribu.

“Jika ditekuni tentu bisa berpotensi mendatangkan keuntungan. Kalau bantuan pemerintah termasuk pendampingan sudah sangat baik termasuk yang diberikan BI Kaltara menurut kami,” ujarnya.(TribunKaltara.com/Andi Pausiah)

# bawang # panen # Tarakan # Kelompok Tani

Baca berita lainnya terkait bawang

Editor: Purwariyantoro
Video Production: Jalu Setyo Nugroho
Sumber: Tribun Kaltara

Tags
   #bawang   #panen   #Tarakan   #Kelompok Tani
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved