TRAVEL

Honeymoon Bed Hanya untuk Anak Lelaki yang Sudah Menikah, Keunikan Desa Adat Senaru Lombok Utara

Kamis, 2 Desember 2021 20:53 WIB
Tribun Lombok

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Sirtupillaili

TRIBUN-VIDEO.COM - Desa Adat Senaru di Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) sangat familiar di kalangan wisatawan, khususnya pendaki Gunung Rinjani.

Desa wisata yang berada di kaki Gunung Rinjani ini menjadi favorit para pelancong asing maupun wisatawan nusantara yang berkunjung ke Lombok.

Tidak hanya indah dengan pemandangan alamnya, desa ini juga punya daya tarik karena masyarakatnya mempertahankan adat istiadat dan tradisi nenek moyangnya.

Di samping itu, Desa Senaru kini juga memiliki pemandu wisata wanita atau woman guide.

Pemandu wisata wanita ini jarang dimiliki desa adat lain di Lombok, bahkan di Indonesia. Terlebih guide wanita masih dianggap tabu bagi sebagian masyarakat adat.

Karniwati (20), salah satu woman guide Desa Senaru yang ditemui TribunLombok.com beberapa waktu lalu, dengan ramah menjelasan tentang keunikan kampung halamannya.

Karniwati menjelaskan, masyarakat adat wetu telu yang ada di Desa Senaru merupakan umat muslim.

Di desa adat tersebut terdapat kepala adat yang disebut Amaq Lokaq.

Baca: Jalur Pusuk Lombok Utara Rawan Longsor Tapi Jadi Pilihan Utama Pengguna Jalan

Setiap ada acara adat mereka melakukannya di rumah Amaq Lokaq. Seperti lebaran adat dan upacara lainnya,semua itu dilakukan di rumah Amaq Lokaq.

”Ketika masyarakat Sasak mau naik ke Rinjani biasanya kami datang dulu ke Amaq Lokaq untuk minta izin, dia yang akan melakukan kontak dengan penuggu gunung,” katanya.

Malam sebelum orang naik ke Gunung Rinjani, Amaq Lokaq melakukan ritual lekoq buaq. Semacam ritual untuk memberitahu atau permisi kepada penunggu, bahwa akan ada kunjungan ke Gunung Rinjani.

Sehingga mereka tidak diganggu, biarkan pendaki aman dan selamat.

”Paginya Amaq Lokaq memberikan sembeq kepada kami, sehingga kami siap jalan. Dijamin kami bisa selamat sampai di sana dan kembalinya,” jelas Karniwati.

Semua itu merupakan nilai-nilai kearifan lokal yang masih dipertahankan masyarakat adat Senaru sampai saat ini.

Rumah Adat Abad ke-14

Selain mempertahankan adat, tradisi, dan budaya, warga Desa Senaru juga masih mempertahankan bentuk rumah kampung adat yang dibangun sejak abad ke-14.

Karniwati menjelaskan, di Desa Adat Senaru terdapat 20 rumah adat.

Masing-masing rumah hanya terdapat satu ruangan tetapi bisa ditempati 2-3 keluarga dengan jumlah orang 6-8 jiwa.

Berdasarkan cerita orang tua mereka, rumah-rumah adat di Senaru sudah ada sejak abad ke-14.

Bentuk bangunan rumah adat tersebut sampai saat ini masih dipertahankan. Namun beberapa bagian rumah dipugar agar tetap kuat. Seperti dinding pagar, dan atap yang diganti sekali dalam tiga tahun.

”Tapi bentuknya tetap sama,” tutur Karniwati.

Rumah adat tersebut hanya terdapat satu ruangan yang bisa ditempati hingga 8 orang.

Baca: Lombok FC Kenalkan Skuad Utama untuk Mengarungi Liga 3, Suporter Punya Julukan Unik

Di dalam rumah ini terdapat satu ruangan khusus di bagian tengah untuk ritual adat seperti lekoq buaq. ”Hanya kepala keluarga saja yang boleh masuk di sini,” katanya.

Kemudian terdapat amben beleq atau tempat tidur besar. Amben beleq ini tidak dipakai untuk tidur setiap hari.

Amben beleq hanya digunakan ketika ada anak laki-laki yang menikah.

Ketika mereka menikah, setelah ritual perkawinan, malamnya pengantin harus tidur di tempat itu.

”Jadi bisa dibilang seperti honeymoon bed,” katanya.

Di dalamnya hanya ada dua tempat tidur. Satu tempat tidur untuk orang tua dan satu tempat tidur untuk anak gadis.

Tempat tidur orang tua berada di dekat pintu.

Hal itu sengaja dilakukan untuk menjaga anak gadis mereka agar tidak dicuri oleh lelaki. Karena tradisi kawin lari masih kental di Desa Senaru.

”Tradisinya di sini masih kawin lari, perempuannya diculik untuk kawin, tidak ada acara lamaran. Tapi itu atas kesepakatan dua belah pihak, laki-laki dan perempuan,” katanya.

Dalam satu ruangan itu juga sudah termasuk bagian dapur, tempat masak dan makan.

”Kalau tidak cukup tempat tidur di ranjang, biasanya anak laki-laki tidur di lantai,” katanya.

Saat usia anak laki-laki menginjak 17 tahun ke atas mereka tidur di luar, di berugak.

”Jadi untuk makan semuanya di sini,” ujarnya.

Untuk kamar mandi dan buang air, semua dilakukan di luar atau toilet umum, karena rumah adat tidak memiliki kamar mandi sendiri.

Jalur ke Senaru

Desa Senaru yang berad di kaki Gunung Rinjani berjarak sekitar 93,8 kilometer dari Kota Mataram dengan waktu tempuh 2 jam 18 menit.

Untuk menuju desa ini bisa melalui jalur wisata Senggigi atau jalur maupun Pusuk.

Selain desa adat beragam keindahan alam bisa dinikmati di Senaru. Seperti air terjun Sendang Gila, air terjun Tiu Kelep dengan pemandangan hutan yang masih asri.

Di kawasan ini juga banyak terdapat penginapan dan fasilitas wisata yang bisa dinikmati wisatwan. (*)

# Adat Senaru # Lombok Utara # Gunung Rinjani # honeymoon bed

Editor: Aprilia Saraswati
Video Production: Nur Rohman Urip
Sumber: Tribun Lombok

VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved