LIPUTAN KHUSUS
Tanah Jawa Dulu adalah Laut, Mitos atau Fakta?
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Septiana Ayu Lestari
TRIBUN-VIDEO.COM - Situs Sangiran di Kabupaten Sragen menyimpan perjalanan panjang bagaimana bumi ini terbentuk.
Tak hanya tentang penemuan fosil manusia purba.
Ternyata, jauh dari kehidupan manusia, jutaan tahun yang lalu, masih ada peninggalan kehidupan lainnya.
Yakni, kehidupan samudera atau laut dalam yang kini masih bisa ditemukan sisa-sisanya di Situs Sangiran.
Masih banyak ditemukan fosil kerang, kepiting, bahkan fosil hewan purba berukuran besar, yang kini masih terkandung di dalam tanah Sangiran.
Bahkan, lapisan tanah bekas samudera masih bisa ditemukan, tepatnya di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen.
Baca: Dirintis 2 Tahun Lalu, Sangiran Sragen Masuk 50 Desa Wisata Terbaik Indonesia Menurut Kemenparekraf
Pelestari Situs Sangiran, Subur membenarkan dulunya Sangiran merupakan lautan dalam dengan dibuktikan adanya tanah Kalibeng.
Penelitian tentang laut di Sangiran dimulai ketika tahun 1936.
Ketika itu, peneliti dari Belanda, Von Koenigswald menemukan adanya fosil manusia purba.
Kemudian, penelitian terus dilanjutkan hingga menemukan lapisan tanah kalibeng.
Sangiran berbentuk lembah yang dalam, sehingga menjadi tempat yang paling tepat untuk melakukan penelitian kepurbakalaan.
Tanah kalibeng merupakan lapisan tanah berusia 3 juta tahun dan diyakini sebagai lapisan tanah tertua yang ada di sekitar Sangiran.
Menurut Subur, lapisan tanah kalibeng berwarna hijau kebiru-biruan, yang membuktikan dulunya merupakan dasar lautan dalam.
Selain itu terdapat fosil binatang laut yang dapat dihitung menggunakan metode ilmiah sehingga dapat diketahui berapa usianya.
Gambaran Sangiran saat menjadi laut dalam dulu, selain dihuni kerang dan kepiting, juga dihuni hewan laut berukuran raksasa.
Setelah lautan, Sangiran berubah menjadi rawa-rawa sekira 1,8 juta tahun yang lalu.
Di lapisan tanah kabung inilah ditemukan berbagai macam hewan purba, seperti gajah purba, kudanil purba, hingga manusia purba berada di lapisan ini.
Selain itu juga ditemukan hewan rawa, seperti keong kecil dan fosil binatang air tawar.
Tak hanya itu, di Sangiran juga ditemukan lapisan kabung berupa pasir dan abu tebal akibat letusan gunung berapi.
Sehingga tergambarkan bahwa Sangiran dulunya juga dikelilingi gunung berapi aktif.
Baca: Bangkit di Tengah Pandemi, Warga Sangiran Sragen Buat Pasar Budaya demi Jadi Desa Wisata
Dimungkinkan hal ini lah yang membuat perubahan dari lautan ke daratan akibat letusan gunung.
Kemudian, terus berjalannya waktu karena adanya proses alam, sangiran yang sudah berubah menjadi daratan, menjadi hutan terbuka.
Dan sampailah Sangiran menjadi daratan berbentuk cekungan yang ada saat ini, dan dihuni oleh warga Sangiran.
Namun jejak lautan yang dulunya ada di Sangiran tak terbatas pada fosil atau pun lapisan tanah.
Ternyata di Sangiran, masih ada sisa air laut yang masih ada hingga kini.
Warga sekitar menyebutnya sebagai sebagai sumber air asin.
Air asin paling banyak ditemukan di Dusun Pablengan, yang mana dulu, menurut cerita warga setempat, digunakan sebagai bahan pembuatan garam.
Baca: VIDEO TRAVEL | Wisata Edukasi Museum Manusia Purba Sangiran Sragen
Warga bernama Sukinah menyebut, dulunya banyak warga yang mencari air asin tersebut untuk dibuat garam.
Bahkan para warga harus antre hingga ada yang menginap di lokasi.
Hal itu dikarenakan dulu, produksi garam di daerah Kalijambe khususnya, belum sebanyak saat ini.
Menurutnya, dulu masih banyak titik sumber air asin yang memanjang hingga 200 meter.
Air yang keluar dari dalam tanah, dulu masih jernih.
Namun, saat ini beberapa sumber air sudah hilang.
Kepala Desa Krikilan, Widodo mengatakan munculnya air asin dikarenakan dulunya wilayah tersebut merupakan wilayah lautan.
Diperkirakan, sumber air asin tersebut sudah ada sejak dua juta tahun yang lalu.
Diduga karena adanya pergeseran lapisan tanah karena perubahan alam, terdapat air lautan yang tidak ikut bergeser ke daratan yang lebih rendah.
Kemungkinan, jumlahnya cukup banyak, sehingga masih ada hingga kini, setelah jutaan tahun lamanya.
Terkait hal itu, Kades Krikilan menyebut, pemerintah desa akan menjadikan objek wisata baru di sekitar Sangiran.
Ke depannya, objek wisata sumber air asin menjadi satu paket dengan wisata-wisata yang ditawarkan oleh Desa Wisata Sangiran.
# sangiran # Sragen # fosil # air asin # laut # lautan # Misteri # Situs Sangiran
Video Production: ilhamrefiantomalik
Sumber: TribunSolo.com
TRIBUNNEWS UPDTAE
Angkatan Laut Meksiko Temukan Dua Kapal Bantuan Nuestra America yang Hilang di Perairan Karibia
Minggu, 29 Maret 2026
Terkini Nasional
Kapal Tanker Iran MT Arman 114 Dilelang Rp1,1 Triliun oleh RI, Ini Spesifikasi & Kondisinya
Sabtu, 28 Maret 2026
Local Experience
Sejarah Kelam Sragen, Pertempuran Pangeran Mnagkubumi dan Mangkunegaran
Jumat, 27 Maret 2026
Local Experience
Gili Laba Sajikan Panorama Laut Flores dan Savana, Hijau saat Hujan, Kuning saat Kemarau Tiba
Jumat, 27 Maret 2026
TRIBUNNEWS UPDATE
Selat Hormuz Memanas, Israel Klaim Bunuh Komandan Angkatan Laut IRGC Iran Alireza Tangsiri
Kamis, 26 Maret 2026
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.