LIPUTAN KHUSUS

Mitos di Boyolali "Utara atau Petaka," Tak Ada Warga yang Berani Bangun Rumah Menghadap ke Utara

Senin, 25 Oktober 2021 09:17 WIB
TribunSolo.com

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo

TRIBUN-VIDEO.COM - Banyak warga di Dukuh Lawang, RT 03, RW 04, Desa Jurug, Kecamatan Mojosongo, Boyolali, percaya mitos yang sudah turun temurun diceritakan tetua mereka.

Warga di kawasan sebelah selatan pusat kota Boyolali itu percaya, bila mendirikan rumah atau bangunan menghadap ke arah utara, akan mendapat petaka.

Feng Shui

Jika nekat melanggar aturan yang tak tertulis, maka petaka atau kesialan besar bakal menghampiri siapa yang melanggarnya.

Irawati (28), seorang warga setempat, menceritakan kisah yang berkembang dari satu telinga warga ke warga lain.

"Pernah di sini ada yang istilahnya coba-coba untuk mematahkan mitos itu. Dia kemudian membangun rumah dengan menghadap ke utara," kata Irawati (28), warga setempat, kepada TribunSolo.com, Selasa (19/10).

Menurut Irawati, salah satu warga pendatang itu akhirnya mengalami kesialan.

Warga tersebut meninggal dunia tak lama setelah rumahnya selesai dibangun.

Baca: Asal-usul Larangan Mendengarkan Lagu yang Dinyanyikan Sinden di Dukuh Singomodo, Begini Ceritanya

"Padahal tidak sakit, tidak apa-apa. Tahu-tahu meninggal dunia," ujar Irawati.

Mitos itu diyakini sudah berkembang di masyarakat Dukuh Lawang ini sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu.

"Soal kebenarannya saya serahkan kepada masing-masing. Tapi sampai saat ini warga yang asli sini tidak ada yang mendirikan rumah yang menghadap utara."

Mitos itu berkaitan erat dengan cerita soal Keraton Salembi.

Keraton itu berada di sebelah selatan pedukuhan.

"Kalau rumah menghadap ke utara jadi membelakangi Keraton Salembi yang berada di sebelah selatan," tambah Husen, warga lain.

Sejarah Keraton Salembi

Tak ada bukti sejarah mengenai keberadaan Keraton Salembi di Boyolali.

Keraton Salembi ini seakan lenyap dari catatan peradaban sejarah Nusantara bersama dengan terkuburnya dalam-dalam reruntuhan bangunan keraton itu.

Selain tak adanya prasasti, Serat atau candi menjadikan keraton ini hanya dikenal dari cerita tutur yang ada di kalangan masyarakat.

Keraton Salembi yang sekarang menjadi sebuah Dukuh bernama Slembi masuk dalam wilayah Desa Jurug, Kecamatan Mojosongo.

Lokasinya berada di sebelah selatan pusat kota Boyolali atau sekitar 2 kilometer dari Batalyon Infanteri 408/SBH Kompi Senapan B Boyolali.

Pegiat Sejarah Boyolali, R. Surojo memberi penjelasan terkait keberadaan keraton ini yang tak lepas dari Prabu Kusumawicitro atau Prabu Aji Pamasa sebagai pendiri kerajaan Pengging.

Namanya memang tak setenar raja-raja lain seperti Ken Arok, Kertanegara, Samaratungga, Mulawarman dan sebagainya.

Tapi Prabu Aji Pamasa punya pengaruh besar hingga berhasil mengubah nama-nama gunung yang ada di pulau jawa ini, seperti gunung Merapi  yang diubah dari gunung Condrogeni.

Baca: Juru Kunci Sendang Songo Boyolali Sebut Syarat hingga Cara Kungkum: Menoleh Sedikit Saja Batal

Empu Udaka mencatat pendirian Kerajaan Pengging dilakukan sekitar tahun 947 Masehi.

Masa itu bersamaan dengan Kerajaan Medang atau Mataram Hindu yang berhasil membuat mahakarya Borobudur, Prambanan dan candi-candi besar lainnya.

“Itu sebagai gambaran mengenai Prabu Aji Pamasa atau prabu Kusumawicitro ini,” ujar Surojo.

Prabu Aji Pamasa yang mempunyai istri Dewi Soma berhasil menurunkan keturunan yang kemudian mendirikan bernama Salembi.

Cucu buyutnya yang bernama Damandriyo atau Raden Sucitro atau Prabu Darmokusumo yang menempati kerajaan kecil yang terletak di sebelah barat daya Kerajaan Pengging itu.

“Saat itu, kerajaan Salembi masuk dalam wilayah kerajaan Pengging,” ujarnya.

Kedua kerjaan yang masih bersaudara itu akhirnya bersatu kembali setelah anak dari Prabu Darmokusumo, Raden Damarmoyo menikahi Dewi Rarasati yang merupakan anak dari Prabu Prabu Angling Driyo, Raja Ketiga Kerajaan Pengging.

“Kemudian Raden Darmoyo menggantikan kedudukan Prabu Angling Driyo di Pengging. Malapun menantu tetapi dia (Raden Damarmoyo) mendampingi istrinya yang bernama Dewi Rarasati,” ujarnya.

Menurutnya, bergabungnya Kerajaan Salembi dengan Pengging itulah menjadikan Kerajaan Salembi kurang begitu dikenal di masyarakat sampai saat ini.

Selain itu, kurangnya pemahaman benda-benda bersejarah di sekitar sebuah petirtan Salembi ini kurang terawat.

Lalu Perwara (Patung yang mengelilingi candi) yang banyak terdapat di Salembi itu kemudian lenyap diambil oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Adanya mitos pantangan mendirikan rumah hadap ke utara itu bukan tanpa alasan.

Raja yang merupakan sentral kehidupan masyarakat haruslah ditaati dan dihormati.  

Apalagi, masyarakat saat itu meyakini bahwa raja sebagai penjelmaan tuhan yang ada di bumi.

Keraton Salembi yang berada di sebelah selatannya Dukuh Lawang, Desa Jurug haruslah senantiasa menghadap sang raja sebagai perwujudan tuhan.

Baik dirinya, maupun rumah yang ditempati.

“Masyarakat itu harus sujud terhadap raja yang disembahnya.

Otomatis rumah-rumah itu mau tidak mau harus menghadap keraton,” ujarnya.

“Jika dia tidak taat pada rajanya, berarti dia tidak taat pada Tuhan-Nya,”

“Rumah menghadap ke arah adalah merupakan suatu berkah. Yang tidak boleh dilanggar. Jika dilanggar akan hilang segala keberkahannya.” (*)

# mitos # Dukuh Lawang # Utara # Boyolali # petaka # rumah

Baca berita lainnya terkait mitos

Editor: Purwariyantoro
Reporter: Tri Suhartini
Videografer: ilhamrefiantomalik
Video Production: Gustaf Eko Aria P
Sumber: TribunSolo.com

Tags
   #mitos   #Dukuh Lawang   #Utara   #Boyolali   #petaka   #rumah
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved