Liputan Khusus
Agar Dapur Tetap Mengepul, Slamet Nelayan di Kota Padang 'Jual Kreativitas'
Laporan Wartawan TribunPadang.com, Rezi Azwar
TRIBUN-VIDEO.COM - Alih profesi disaat pekerjaan utama tidak membuahkan hasil di pintu Muara Padang, Jalan Seberang Bapayan, Kelurahan Batang Arau, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), Kamis (21/10/2021).
Hal itulah yang tergambar dari seorang nelayan yang juga Ketua Nelayan, perajin kapal miniatur hingga perahu masyarakat.
Ia beruntung memiliki kepandaian membuat segala macam perkakas hingga sebuah benda. Padahal sekolahnya hanya tamatan kelas 4 Sekolah Dasar (SD).
"Kalau nama saya yang aslinya itu Slamet Sareko yang merupakan keturunan Jawa," kata Slamet saat ditemui TribunPadang.com.
Ia mengatakan kalau Ibunya asal Padang dan Bapaknya dari Jawa sehingga dirinya diberikan nama Slamet.
Walaupun matahari menyengat, Slamet berteduh dari spanduk bekas yang diikat tergantung ke pohon kelapa agar teduh.
"Panas sekali hari ini, terasa perih sampai ke kulit," kata Slamet. Pria berumur 54 tahun biasanya menangkap ikan memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Dia juga sekaligus merupakan Ketua Nelayan kawasan Muaro Padang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumbar.
Apa yang dikerjakan Slamet bukan satu satunya profesi utama, melainkan mengisi ruang waktu selain melaut. Walau seorang nelayan ia ingin berkarya
agar asap dapurnya mengepul.
Slamet memang hanya melaut dengan mengadalkan alat pancing tradisional, namun sejak cuaca tak bersahabat ia pun terkadang pulang ke rumah dengan tangan kosong dan selalu tersenyum bila istrinya bertanya.
"Jadi, kalau saat terang bulan aktivitas menangkap ikan versi memancing harus istirahat dulu. Karena terang bulan identik dengan ikan tidak makan lagi," ujarnya.
"Jadi saya istirahat dulu," katanya. Kata dia, segala bidang bisa dikerjakannya bila ada yang memakai jasanya.
Baca: Cicipi Kuliner Viral Lontong Kikil Pak Yanto di Malang, Juru Masak Bongkar Rahasianya
"Sebenarnya begini ya, saya bisa segala bidang. Jika ada masyarakat meminta saya membuat apapun saya bisa. Kecuali nelayan, karena darah saya itu darah nelayan," katanya.
Saat sedang tidak ada pekerjaan sehingga tidak ada pemasukan. Slamet mengaku dapat beralih profesi sebagai tukang membangun rumah, merakit kapal, dan membuat miniatur-miniatur.
Perahu yang dikerjakannya merupakan pesanan milik temannya sesama Kelompok Nelayan Muaro Padang.
Perahu yang sering di pergunakan untuk mencari rupiah menghidupi keluarga, kini telah hancur dan ia berinisiatif membuat kembali yang baru.
"Karena saya tidak ada memiliki pekerjaan dan saya memiliki sedikit skill dalam pembuatan perahu, ya saya dimintanya," katanya.
* Peralatan Masih Tradisional dan Manual
"Memotong satu papan, istirahat pula satu kali. Sesak nafas," kata Slamet (54) yang sedang bekerja membangun perahu.
Cuaca panas pada siang hari dan peralatan seadanya lagi manual, menguras tenaga yang memang butuh waktu cukup lama.
"Menggunakan alat manual tradisional ini selain capek dan kerjanya lama," ujarnya.
Dikatakannya, proses pembuatan satu perahu bergantung kepada alat, "Kalau alat lengkap, ya setengah hari selesai," katanya.
Karena menggunakan alat seadanya, pengerjaan bisa menelan waktu sehari.
"Ini manual semuanya, gergaji manual, parang, penjepit kayu, ketam manual, dan palu. "Seharusnya kita sudah menggunakan gergaji mesin, ketam mesin, sehingga bisa cepat penyelesaiannya," ujarnya.
* Proses Pembuatan Perahu
"Pembuatan perahu ini melihat bahannya juga, ada dari kayu dan ada dari fiber. Kalau 90 persen fiber, untuk 10 persennya lagi bisa kayu dan bisa aluminium," kata Slamet.
Bagian perahu yang terpenting itu adalah 'serampu' (bagian dasar perahu atau lambung perahu) dan berasal dari satu kayu yang besar.
"Kita perajin hanya bisa menambah bagian atasnya saja, sedangkan bagian 'serampu' itu di pesan dari Kepulauan Mentawai," ujarnya.
Harga satu 'serampu' itu bervariasi, melihat dari ukuran besar dan lebarnya, kalau standar yang kerap digunakan nelayan biasanya memiliki harga Rp 1,5 juta rupiah.
Baca: Santap Kue Bika, Sajian Kuliner Tradisional Penuh Cita Rasa di Sumatera Barat
"Bagian serampu ini dari Kepulauan Mentawai dan saya kurang tau nama jenis kayunya. Sedangkan untuk kayu tambahannya itu bebaslah dari yang punya perahu," katanya.
Dikatakannya, untuk mengetam bagian yang berliku menggunakan alat ketam seraut yang masih tradisional.
"Untuk upah perakitan perahu ini sebenarnya Rp 1,5 juta rupiah. Berhubung ini masih rekan kita juga sehingga seadanya," katanya.
Selanjutnya, antara papan yang digabungkan agar tersusun rapi nantinya akan diberi tepung khusus agar tidak dimasuki air.
"Untuk bagian 'serampu' nantinya akan dilapisi aluminium atau bisa juga fiber agar lama tahannya. Barulah dicat agar lebih rapi dan bagus," katanya.
(TRIBUNPADANG.COM/REZI AZWAR)
Baca: Taman Baca Palito, Destinasi Wisata Membaca bagi Anak-Anak
Video Production: Dimas Wira Putra
Sumber: Tribun Padang
LIVE UPDATE
Tengah Melaut, Nelayan di Serang Terkejut Tiba-tiba Perahunya Dikelilingi 4 Hiu Tutul
5 hari lalu
LIVE UPDATE
Nelayan Paga Sikka Hilang saat Melaut, Korban Bersama Rekannya Sempat Cari Ikan di Rumpon
Kamis, 30 April 2026
LIVE UPDATE
Rencana Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih, Walkot Singkawang Hadiri Sosialisasi di Kuala
Selasa, 21 April 2026
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.