Yandex

Terkini Daerah

Mahasiswa yang Dibanting saat Demo Sudah Memaafkan Pelaku: Tetapi Kejadian Itu Tentu Tak akan Lupa

Kamis, 14 Oktober 2021 12:16 WIB
TribunJakarta
Editor: Purwariyantoro | Video Production: Arief Miftakhul Firdaus

TRIBUN-VIDEO.COM - Sosok MFA, mahasiswa UIN Maulana Hasanudin dibanting polisi, Brigadir NP, saat aksi demo di Tigaraksa, Kabupaten Tangerang pada Rabu (13/10).

FA yang tergabung dalam Aliansi BEM se-Kabupaten Tangerang saat itu melakukan aksi demo pada hari ulang tahun (HUT) ke-389 Kabupaten Tangerang.

Aksi pembantingan FA oleh polisi itu terekam dalam sebuah video.

Dalam video tersebut, peserta aksi yang diduga seorang mahasiswa dipiting lehernya lalu digiring oleh polisi berbaju hitam.

Setelah itu, polisi itu membanting peserta aksi tersebut ke trotoar hingga terdengar suara benturan yang cukup keras.

Kemudian, seorang polisi yang mengenakan seragam berwarna coklat menendang peserta aksi tersebut.

Setelah dibanting dan ditendang, peserta aksi itu mengalami kejang-kejang.

Baca: Mahasiswa Maafkan Polisi yang Membantingnya hingga Kejang, Berharap Kejadian Serupa Tak Terulang

Sejumlah aparat kepolisian kemudian berusaha membantu peserta aksi tersebut.

Kini Brigadir NP akhirnya meminta maaf pada korban.

Brigadir NP beralasan saat itu ia refleks mengamankan MFA setelah demo berujung ricuh.

Kapolresta Tangerang Kombes Wahyu Sri Bintoro mengatakan peristiwa itu diawali ketika mahasiswa memaksa masuk dan bertemu dengan Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar.

Tetapi, Ahmed Zaki Iskandar saat itu tidak ada di kantornya karena sedang menghadiri peringatan HUT ke-389 Kabupaten Tangerang di tempat lain.

"Ketegangan terjadi saat tim negosiator Polresta Tangerang meminta perwakilan dari elemen mahasiswa untuk bertemu dengan pejabat, kebetulan Bapak Bupati sedang melaksanakan kegiatan HUT, sehingga tidak bisa menemui," jelas Wahyu pada Rabu malam (13/10).

Kericuhan terjadi hingga akhirnya polisi dan mahasiswa terlibat dorong-mendorong.

Pihak kepolisian saat itu mengamankan satu orang yang diduga menjadi provokator.

"Namun dari pihak mahasiswa tetap mengotot untuk bisa bertemu dengan Bupati dan harus Bupati yang menemui yang bersangkutan sehingga dari situlah terjadi dorong-mendorong sehingga kondisi kita amankan satu orang awalnya yang memprovokasi mahasiswa," ujar Wahyu.

Kericuhan pun terjadi. Hingga kemudian oknum polisi membanting pendemo, M Faris Amrullah.

"Sehingga terjadilah kericuhan dan timbul salah satu dari korban atas nama MFA," jelas Wahyu.

Wahyu mengatakan, Brigadir NP telah meminta maaf secara langsung kepada Faris. Brigadir NP disebut refleks ketika membanting Aulia.

"Oknum NP sudah meminta maaf secara langsung kepada Saudara MFA dan orang tua saudara MFA dan tindakan tersebut bersifat refleks dan tidak ada tujuan mencelakai yang bersangkutan," imbuh Wahyu.

Baca: Kesaksian Fariz, Mahasiswa yang Dibanting Oknum Polisi saat Demo di Tangerang Saya Nggak Akan Lupa

Korban Tak Akan Lupa Insiden Smackdown

MFA mengaku telah memaafkan Brigadir NP atas perbuatannya.

"Melihat permintaan maaf yang disampaikan oleh oknum kepolisian, tentu saya sebagai sesama manusia menerima permohonan maaf tersebut," tegas Faris dalam konferensi pers di Polresta Tangerang, Rabu (13/10/2021).

Lebih lanjut, MFA menegaskan, ia tidak bisa melupakan insiden dirinya ketika dibanting.

"Tetapi kejadian tersebut tentu saya tidak akan lupa," terang Faris.

Faris berharap, kejadian tersebut tidak terulang. Ia juga meminta pihak kepolisian untuk menindak tegas oknum yang melakukan kekerasan.

"Kepada pihak kepolisian untuk melakukan tindakan tegas terhadap oknum kepolisian," papar Faris.(TribunJakarta/Kurniawati Hasjanah)

# mahasiswa # dibanting # polisi # Kabupaten Tangerang # Brigadir NP

Baca berita lainnya terkait mahasiswa dibanting polisi

Artikel ini telah tayang di TribunJakarta.com dengan judul Polisi Banting Mahasiswa hingga Kejang: Pelaku Refleks, Korban Tak Akan Lupa Peristiwa Smackdown

Sumber: TribunJakarta
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved