Mancanegara

Lakukan Pelecehan Seksual saat Krisis Ebola di Kongo, Puluhan Staf WHO Diberi Sanksi

Kamis, 30 September 2021 09:08 WIB
TribunWow.com

TRIBUN-VIDEO.COM – Lebih dari 80 staf termasuk beberapa yang dipekerjakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terlibat dalam pelecehan dan eksploitasi seksual selama krisis Ebola di Republik Demokratik Kongo, Afrika Tengah.

Dalam laporan penyelidikan, ditemukan setidaknya 21 dari 83 pelaku pelecehan adalah staf WHO, dikutip dari Reuters pada Selasa (28/9/2021).

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, meminta maaf atas kasus pelecehan dan rudapaksa oleh pekerja yang direkrut oleh organisasi itu pada Selasa (28/9/2021).

Lebih dari 50 wanita di Kongo menuduh staf WHO dan badan amal lainnya telah menuntut hubungan seksual sebagai imbalan penawaran pekerjaan kepada mereka sejak 2018 hingga 2020.

Terhitung terdapat sembilan pelanggaran dan tuduhan rudapaksa dilakukan oleh staf nasional dan internasional yang dikerahkan di Kongo untuk memerangi wabah Ebola.

Baca: BEM Unsri Janji Kawal Dugaan Kasus Pelecehan Mahasiswi oleh Oknum Dosen Pembimbing Skripsi

“Tim peninjau telah menetapkan bahwa para korban, diduga dijanjikan pekerjaan sebagai imbalan hubungan seksual atau untuk mempertahankan pekerjaan mereka,” kata anggota komisi penyelidikan, Malick Coulibaly, dalam konferensi pers.

Pelaku dikatakan mengancam wanita yang menolak hubungan seksual dengan pemutusan kontrak kerja.

Malick Coulibaly mengungkapkan beberapa dari pelaku enggan menggunakan alat kontrasepsi hingga mengakibatkan kehamilan pada 29 wanita.

Beberapa di antaranya bahkan dipaksa menggugurkan kandungannya oleh pelaku.

Direktur Jenderal Tedros Adhanom menyebut Selasa lalu sebagai hari gelap bagi WHO.

“Hal pertama yang ingin saya katakan kepada para korban adalah saya minta maaf,” kata Tedros dalam konferensi pers, dikutip dari AFP.

“Ini adalah prioritas utama saya bahwa para pelaku tidak akan dimaafkan tetapi dimintai pertanggungjawaban,” tambahnya.

Tedros Adhanom menyebut akan memastikan orang-orang yang terlibat dalam kasus itu dibebastugaskan.

Empat dari 21 staf WHO yang diduga terlibat, telah diputus kontraknya dan menjadi daftar hitam organisasi itu.

“Organisasi kami akan melarang para tersangka menjadi staf WHO lagi di kemudian hari, dan kami akan memberi tahu sistem PBB yang lebih luas,” kata Tedros.

Menurutnya, laporan penyelidikan itu menjadi bacaan mengerikan.

Baca: Korban Pelecehan Seksual Diancam oleh Pelaku, Ini Tanggapan dan Solusi dari Psikolog

Laporan itu menemukan kegagalan struktural serta kelalaian individu di antara staf badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Dikutip dari Reuters, belum jelas apakah para pelaku akan diadili.

Tedros mengatakan berencana merujuk tuduhan rudapaksa itu ke Kongo dan negara-negara asal pelaku.

Beberapa di antara pelaku bahkan masih belum teridentifikasi.

Berdasarkan laporan penyelidikan itu, para pemimpin WHO disinyalir sudah mengetahui peristiwa pelecehan seksual itu enam pekan lebih cepat dari yang mereka klaim.

Dugaan itu didasarkan pada tanggal surat elektronik berisi kekhawatiran pelecehan seksual di Provinsi North Kivu yang dikirimkan kepada petugas etik WHO, Andreas Militzke.

“(WHO) sudah mengetahui peristiwa itu sejak awal Mei 2019, bukan Juni 2019 seperti yang diklaim Militzke,” ungkap tim penyelidik.

Media melaporkan pada bulan Mei bahwa manajemen WHO mengetahui dugaan kasus di Kongo dan tidak bertindak.

Terhitung 53 negara bersama-sama menuntut agar WHO menampilkan kepemimpinan yang kuat dalam mencegah pelecehan seksual.

Sebelumnya, pemerintah Kongo mengumumkan berakhirnya wabah Ebola pada Juni tahun lalu.

Wabah itu menewaskan lebih dari 2.200 orang dan menjadi wabah terbesar kedua sejak virus itu diidentifikasi pada tahun 1976. (TribunWow.com/Alma Dyani P)

Artikel ini telah tayang di TribunWow.com dengan judul Puluhan Staf WHO Lakukan Pelecehan Seksual di Kongo saat Krisis Ebola, Direktur Jenderal Minta Maaf

Baca berita terkait lainnya di sini

Editor: Danang Risdinato
Video Production: Dimas Wira Putra
Sumber: TribunWow.com

VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved