Selasa, 7 April 2026

Terkini Daerah

Hendrikus MB Bolly, Varian Delta Covid-19 Belum Terdeteksi di Papua

Selasa, 29 Juni 2021 13:53 WIB
Tribun Papua

TRIBUN-VIDEO.COM, JAYAPURA - Ahli Biokimia dan Biologi Molekuler Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih (Uncen) Dokter Dr Hendrikus MB Bolly Msi SPBS FICS AIFO - K, buka suara soal varian baru Virus Covid 19 yakni Varian Delta.

Ditemui Tribun-Papua.com di Fakultas Kedokteran Uncen, Senin (28/6/2021), Hendrikus mengatakan hingga saat ini, belum dapat dipastikan varian delta virus Corona terdeteksi di Provinsi Papua.

"Sampai saat ini belum ditemukan, sebab pendeteksian varian delta Covid-19 ini butuh instrumen khusus, tidak hanya tes PCR," kata Hendrikus.

Dokter yang juga merupakan spesialis bedah saraf itu menambahkan, otoritas kesehatan di Provinsi Papua belum memiliki sumber daya yang cukup.

Sumber daya yang dimaksudkannya itu, ialah pemeriksaan sequencing, guna melihat peta genomik dari varian virus Delta tersebut.

Hendrikus menginformasikan, tes sequencing ialah suatu prosedur pemeriksaan lanjutan, setelah tes PCR yang dapat merincikan urutan DNA virus covid-19, guna mengidentifikasi varian delta covid-19.

"Untuk itu kita belum dapat membuktikan secara valid, apakah varian tersebut sudah atau belum memasuki tanah Papua," tegasnya.

Baca: Kasus Covid-19 di India Naik 50 Ribu Kasus, Varian Delta Plus Dianggap semakin Mengkhawatirkan

Baca: 1.112 Anak di Bawah Umur di Jakarta Positif Covid-19, Kemenkes: Varian Delta Diduga Serang Anak-anak

Secara umum, Hendrikus menjelaskan spesifikasi gejala khusus varian delta ini, yakni penderita akan mengalami demam, pegal-pegal, diare.

Kemudian tingkat penularan covid-19 jenis Delta ini sangat tinggi, dibandingkan covid-19 sebelumnya, terutama bagi yang tidak mengenakan masker, dan belum melakukan vaksinasi.

Khusus untuk varian delta ini, Hendrikus menyebutkan varian ini bermutasi pada lokasi yang spesifik, menyebabkan kemampuan virus untuk menyebar dengan cepat dan daya tahannya lebih lama di dalam tubuh manusia.

Hendrikus juga menyinggung soal akses masuk atau perpindahan penduduk dari luar Papua ke dalam Papua, tentu memungkinkan sudah tersebarnya varian baru covid-19.

"Dengan adanya mobilitas penduduk tentu harus diantisipasi, kemungkinan sudah masuk ke Papua, hanya belum terdeteksi secara ilmiah hingga saat ini," ujarnya.

Terkait informasi bahwa varian delta covid-19 ini memiliki tingkat penyebaran yang lebih cepat, maka kedisiplinan terhadap protokol kesehatan harus ditingkatkan.

"Hingga saat ini, kita belum punya cara atau upaya lain, selain Mencuci tangan, Memakai Masker dan Menjaga jarak (3M) yang kita terapkan dan vaksinasi," paparnya.

Terkait vaksinasi, Hendrikus memaparkan ada temuan baru dari Badan kesehatan dunia atau WHO yang menyebutkan dalam rilisnya, bahwa polarisasi terjangkitnya varian jenis delta ini, lebih dominan kepada orang yang belum divaksin sebelumnya.

Hanya saja, ia menekankan apabila berkerumun, potensi untuk penyebarannya tentu sangat besar.

Dikaitkan dengan event PON XX 2021 di Papua, Hendrikus menghimbau bagi masyarakat Papua, dengan adanya Covid 19 dan varian terbarunya itu, agar tidak bersikap antipati, terhadap orang yang masuk ke Papua.

"Masyarakat tentu harus tetap melakukan 3M, sehingga berapapun orang yang akan masuk ke Papua, asalkan sudah divaksin, kita dapat menjadi tangguh dan tidak terjangkiti," tutupnya. (*)

# Papua # Universitas Cenderawasih # varian delta Covid-19

Editor: Aprilia Saraswati
Sumber: Tribun Papua

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved