Yandex

Terkini Nasional

Sederet Fakta Virus Corona Varian Delta, Waspada jika Punya Gejala Infeksi Ini

Minggu, 20 Juni 2021 12:22 WIB
Kompas.com
Editor: Dita Dwi Puspitasari | Video Production: Muhammad Suryo Kartiko

TRIBUN-VIDEO.COM - Covid-19 varian delta atau yang secara ilmiah lebih dikenal sebagai B.1.617.2, pertama kali diidentifikasi oleh para ilmuwan pada Desember 2020 di India.

Varian delta menjadi varian paling banyak menyebar yang menyebabkan kasus baru Covid-19 di India, pada April 2021.

Sejak itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa varian ini setidaknya telah ditemukan di 80 negara, termasuk di Indonesia.

Baru-baru ini, ada kekhawatiran –terutama di Inggris dan Amerika Serikat, bahwa varian delta dapat menimbulkan gelombang Covid-19 lain.

Itulah mengapa banyak negara di dunia kini tampak semakin fokus berupaya menghambat lajunya pandemi.

Dalam upaya mencegah penularan kasus baru yang semakin berbahaya, penting untuk mengetahui lebih dalam mengenai Covid-19 varian delta ini dan seberapa menularnya virus ini dibandingkan yang sebelumnya.

Baca: WHO Sebut Varian Covid-19 Delta Asal India dapat Mendominasi Infeksi Virus Corona secara Global

1. Lebih Mudah Menular

Berdasarkan data di Inggris, varian delta sekitar 60 persen lebih mudah menular daripada varian alfa atau B.1.1.7. yang sebelumnya dominan di negara tersebut.

Profesor virologi dan kepala Departemen Penyakit Menular di Imperial College London di Inggris, Wendy Barclay menjelaskan bahwa varian ini lebih menular daripada yang sebelumnya.

Sebab, varian ini memiliki beberapa mutasi kunci pada protein lonjakan, yang memungkinkan virus untuk menembus dan menginfeksi sel sehat.

"Varian delta memiliki dua mutasi penting dalam protein lonjakannya atau set mutasi."

"Salah satunya ada di situs pembelahan furin, yang menurut kami cukup penting untuk kebugaran virus di saluran pernapasan," ujarnya.

Dalam hal itu, virus yang muncul di Wuhan kurang optimal dan tidak menular secepat varian delta.

Barclay juga mengatakan bahwa varian alfa mengambil satu langkah untuk meningkatkannya dengan mutasi tertentu, lalu varian delta telah membangunnya dan mengambil langkah kedua yang lebih besar.

Baca: Khofifah Indar Parawansa Sebut Varian Delta India Ditemukan pada Warga yang melintas di Suramadu

2. Gejala Infeksi yang Berbeda

Data yang dikumpulkan oleh para ilmuwan Inggris menunjukkan bahwa gejala utama infeksi varian delta berbeda dibandingkan dengan yang dialami saat terinfeksi varian sebelumnya.

Menurut data dari ZOE Covid Symptom Study, ditemukan bahwa gejala utama infeksi varian delta adalah sakit kepala, sakit tenggorokan, dan pilek.

Sementara informasi resmi tentang gejala Covid-19, termasuk dari National Health Service (NHS), mencantumkan demam, batuk terus menerus, dan kehilangan penciuman atau rasa sebagai gejala utama dari infeksi Covid-19.

Salah satu pendiri ZOE, Tim Spector mengingatkan bahwa infeksi SARS-CoV-2 kini bertindak secara berbeda dan bisa membuat kita mengabaikan gejalanya.

"Mungkin ini hanya terasa seperti pilek atau tidak enak badan, namun sebaiknya tetaplah berada di rumah dan lakukan tes jika mulai muncul gejalanya," sarannya.

Baca: 148 Kasus Covid-19 Varian Delta Infeksi 6 Provinsi di Indonesia, Kemenkes: Jawa Tengah Paling Banyak

3. Risiko yang Ditimbulkan

Sebuah studi dari Imperial College London menunjukkan bahwa varian delta dapat secara signifikan meningkatkan risiko rawat inap akibat Covid-19 yang lebih parah.

Komisaris Administrasi Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) Dr Scott Gottliebjuga mengingatkan bahwa AS mungkin mengalami wabah Covid-19 lebih lanjut akibat varian yang sangat menular ini.

"Saya pikir di bagian negara dengan tingkat vaksinasi rendah akan menimbulkan wabah dengan varian baru ini," katanya.

Dia pun mendorong orang-orang agar segera mendapatkan vaksinasi Covid-19 penuh untuk bertahan dengan baik dari varian baru yang muncul.

Vaksin yang saat ini ada diyakini masih bisa melawan varian baru tersebut.

Untuk di AS sendiri, misalnya, vaksin mRNA (Pfizer-BioNTech dan Moderna) memiliki efektivitas sekitar 88 persen. Sementaara Johnson & Johnson dan AstraZeneca disebut memiliki efektivitas 60 persen dalam melawan varian baru.

"Jadi, vaksin sangat diperlukan untuk mengendalikan pandemi ini," imbuh dia. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "3 Fakta yang Perlu Diketahui dari Covid-19 Varian Delta"

Baca berita terkait lainnya

Sumber: Kompas.com
Tags
   #Varian Delta   #Covid-19   #India   #Indonesia   #WHO
VIDEO TERKAIT
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved